WAG Wali Siswa dan Pendidikan yang Mendewasakan

www.inikebumen.net PERKEMBANGAN teknologi komunikasi telah membuat sekat-sekat penghambat informasi nyaris tak ada lagi. Dalam persepektif hubungan antar anggota keluarga, memberi beberapa kemungkinan, yang bisa bersifat positif dan negatif. Yang bersifat positif, komunikasi antar anggota keluarga bisa lebih intensif, meski secara fisik mereka tidak berkumpul. Negatifnya, orang tua semakin mendikte, terlampau ikut campur atau justru mengambil alih tanggung jawab anaknya dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Khususnya ketika anak-anaknya masih menempuh pendidikan atau hendak mencari pekerjaan.

WAG Wali Siswa dan Pendidikan yang Mendewasakan
Yuniati Zainul Khasanah
Salah satu hasil perkembangan teknologi komunikasi yang kini banyak dimanfaatkan adalah aplikasi Whats App (WA), yang selain bisa digunakan untuk chatting (komunikasi tertulis), voice call (panggilan suara), video call (panggilan video) antar pengguna, juga bisa digunakan untuk membentuk kelompok atau group yang lazim disebut Whats App Group (WAG). Pembentukan WAG kemudian banyak dilakukan untuk berbagai kepentingan, termasuk kemudian WAG wali siswa dari institusi-institusi pendidikan formal.

Dengan adanya WAG wali siswa dan guru, membuat komunikasi baik antar wali siswa maupun wali siswa dengan guru bisa berlangsung setiap saat, tanpa harus berupa rapat  seperti di masa lalu.

Konten WAG
Konten (isi) dari komunikasi dalam WAG wali siswa berpengaruh dalam proses pendidikan anak. Karena anak tumbuh dan berkembang dalam tiga lingkungan berbeda yang saling berpengaruh, yaitu: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya, maka orang tua perlu memantau ketiga lingkungan tersebut.

Dengan demikian orang tua bisa memastikan adanya sinkronisasi nilai-nilai universal dari apa yang didapatkan anak dari ketiga lingkungan tersebut. Sebagai orang tua kita mungkin sudah sering mendengar ungkapan "pelajaran yang diperoleh di bangku sekolah berbeda dengan apa yang didapatkan dalam kehidupan sehari-hari".

Melalui WAG wali siswa dan gurunya, mestinya ungkapan itu bisa diminimalisir. Orang tua yang intens berkomunikasi dengan anak-anaknya, mestinya bisa mendeteksi perilakunya. Mana yang mencerminkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga dan mana yang tidak.

Ketika mendapati perilaku anak-anaknya yang tidak mencerminkan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga, maka orang tua perlu mengkomunikasikan dengan pihak sekolah melalui WAG.

Barangkali pergaulan antar siswa yang mempengaruhi perubahan perilaku, bisa luput dari perhatian guru. Melalui WAG, wali siswa dan guru bisa bertukar informasi perkembangan anak. Sehingga bisa ditelusuri lebih lanjut dari mana pengaruh perilakunya dan apa yang perlu dilakukan untuk mengantisipasinya.

Mendialogkan dengan Anak
Jika wali siswa bisa membentuk WAG, siswa-siswi tentu lebih bisa lagi untuk membentuknya. Tanpa melibatkan guru dalam WAG siswa, tak ada yang bisa memantau pembicaraan yang terjadi. Padahal bukan tidak mungkin nilai-nilai negatif berkembang dari pembicaraan dalam WAG. Apalagi dalam aplikasi WA sempat heboh dengan ada konten GIF bernuansa pornografi yang bisa diakses siapa saja. Belum lagi konten yang bernuansa kekerasan atau hal-hal yang irrasional.

Salah satu cara membuat anak dewasa adalah dengan mengajaknya berpikir, mendialogkan pendapatnya tentang suatu masalah, bukan memvonisnya bersalah ketika keliru melangkah.

Karena itu bila mendapati perilaku anak yang kita anggap kurang baik, atau konten-konten dalam WAG anak yan kita anggap tak patut, lebih tepat untuk mendialogkannya dengan anak. Apa pendapatnya dan apa pendapat kita terhadap permasalahan tersebut? Adakah titik temu kalau pendapat kita dengan anak berbeda? Yang terpenting jangan memaksakan penilaian kita untuk diterima menjadi penilaian anak juga.

Visi Orangtua
Dari tiga WAG wali siswa yang saya ikuti, umumnya wali siswa lebih banyak memperjelas informasi tugas dan kegiatan putra-putrinya kepada guru. Amat jarang yang mencoba mendiskusikan kecenderungan perilaku putra-putrinya beserta teman-teman sekolahnya.

Bahkan tak jarang, ada wali siswa yang ikut terlibat aktif dalam mengerjakan tugas putra-putrinya. Terlebih bila tugas itu terkait dengan membawa sesuatu ke sekolah, apakah barang, tanaman dan sejenisnya. Keterlibatan wali siswa terutama dalam hal menemukan sesuatu itu bisa diperoleh di mana dengan cara apa.

Padahal, semestinya tugas sekolah didasarkan pada kurikulum yang sesuai dengan pertimbangan kemampuan siswa. Artinya siswa mampu mengerjakannya sendiri atau bersama teman kelompoknya, tanpa campur tangan orang lain, termasuk orang tuanya.

Di tingkat SD, wali siswa bahkan sampai ikut mencari informasi tentang PR yang harus dikerjakan. Tujuannya baik, hanya kurang memberi dorongan agar anak bisa lebih komunikatif dengan gurunya. Ketergantungan anak pada orang tua semakin membesar. Bila diberi tugas lagi kurang memperhatikan. Saat bingung mengerjakan, minta tolong orang tua menanyakan kepada gurunya.

Kebiasaan seperti itu, tampaknya membantu anak dari sisi akademis. Anak terbantu orang tua dalam pelaksanaan tugas sekolah, nilai-nilainya jadi bisa lebih baik. Namun secara mental, perkembangan sikap kemandiriannya terganggu. Ketergantungannya yang semakin meningkat. Sayangnya kebanyakan orang tua lebih mementingkan bagusnya nilai rapor, ketimbang kemandirian anaknya. Di sini sebenarnya keberadaan WAG wali siswa tampaknya positif terhadap pendidikan anak, tapi sebenarnya malah jadi negatif.

Karena teknologi tergantung pemakainya, maka berpulang kembali pada visi orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Apakah hanya dengan target bagusnya prestasi akademis, atau sebagai proses pendewasaan anak. Yakni untuk mendorong anak berproses menjadi dewasa, mengenali potensi diri dan mampu mengoptimalkannya dalam mengatasi masalah yang dihadapi, termasuk tugas-tugas sekolah. Visi para orang tua yang kemudian akan mempengaruhi konten GWA wali siswa. Bukankah begitu?(*)

Yuniati Zainul Khasanah
Penulis adalah wali siswa SD N 2 Kutosari dan MTs N 1 Kebumen
Powered by Blogger.