Kasus Bunuh Diri di Kebumen Tinggi, Faktor Ekonomi Disebut jadi Pemicunya

www.inikebumen.net KEBUMEN - Tingginya angka kasus bunuh diri di Kabupaten Kebumen sudah sangat memprihatinkan. Pasalnya, sejak Agustus hingga awal Desember saja menurut catatan, ada 18 warga yang tewas karena bunuh diri.

Kasus Bunuh Diri di Kebumen Tinggi, Faktor Ekonomi Disebut jadi Pemicunya
Kepala Dinas Sosial dan PPKB Kabupaten Kebumen, HA Dwi Busi Satrio, saat membebaskan korban pasung di Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, beberapa waktu lalu.
Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kebumen, HA Dwi Budi Satrio, mengaku prihatin dengan tingginya kasus tersebut.

Budi Satrio, mengatakan ada tiga sektor yang harus bertanggung jawab untuk menyusun upaya pengurangan kasus bunug diri di Kebumen. "Yaitu Dinas PPKB, Dinas Kesehatan dan Kantor Kementerian Agama," kata Budi Satrio, di ruang kerjanya, Selasa, 5 Desember 2017.

Menurutnya, faktor penyebab kasus bunuh diri merupakan gabungan multi faktor. Mulai faktor biologis, genetik, psikologis, sosial, budaya, dan lingkungan. "Tetapi kasus bunuh diri di Kebumen  tidak lepas dari masalah ekonomi, gangguan jiwa dan keimanan," ujarnya.

Ia memaparkan, tingkat kemiskinan yang tinggi yang mencapai 19,86 persen di Kebumen, telah menempatkan Kebumen sebagai rangking ke-34 dibanding kabupaten/kota di Provinsi Jawa tengah.

"Lepas dari apakah merupakan kemiskinan strutural atau kultural (malas, kebiasaan merokok, tidak mau belajar) yang jelas tekanan ekonomi menjadi faktor yang memudahkan orang mengambil jalan pintas," paparnya.

Lebih jauh, Budi Satrio, mengatakan prevalensi bunuh diri ini karena permasalahan ekonomi harus menjadi perhatian. Jangan sampai menjadi budaya dalam menyelesaikan permasalahan di dunia. "Untuk itu permberdayaan ekonomi yang berpihak kepada rumah tangga miskin (RTM) harus menjadi prioritas," tegasnya.

Disisi lain, faktor Kesehatan memegang peranan penting terjadinya bunuh diri. Dari ilmu kesehatan, bunuh diri merupakan titik akhir dari depresi berat. Namun di Kebumen penyakit yang tidak kunjung sembuh, dengan biaya yang tidak mampu ditanggung juga menjadi pencetus untuk melakukan bunuh diri.

Meski pemeritah daerah, sudah menerbitkan berbagai kebijakan yang bertujuan mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Seperti Ambulan gratis, Kamis Gratis maupun KIS. Tetapi hal tersebut belum cukup jika tidak diimbangi dengan sistem deteksi dini dan pengetahuan masyarakat tentang penyakit jiwa. Karena depresi berat yang terdeteksi awal dan ditangani dengan baik akan mengurangi resiko bunuh diri.

"Apalagi dari sisi ekonomi kesehatan, penyakit jiwa telah menyebabkan economic lost yang tertinggi dibanding penyakit lain. Seperti kardiovaskuler dan cancer. Karena penyakit jiwa akan menyebabkan lost of productivity yang nyaris seumur hidup," bebernya.

Ia menambahkan, pembangunan harus dimulai dari jiwa atau mental. Sehingga semua dampak bisa diterima dan diantisipasi dengan baik. Tanpa mental yang sehat maka semua perubahan akan diterima sebagai tekanan bukan sebagai tantangan.

"Disinilah peran tokoh agama dalam pembangunan. Pendalaman tentang ibadah horizontal (hubungan dengan sesama) tidak kalah pentingnya dengan pengamalan dalam ibadah vertical.  Seseorang yang mengerti akan pentingnya ibadah sosial akan memiliki semangat berbagi, berempati dan peduli terhadap lingkungan," pungkasnya.

Untuk diketahui dalam dua hari terakhir ini, terdapat dua kasus bunuh diri. Yakni pada Minggu, 3 Desember 2017 warga Desa Argopeni, Kecamatan Kebumen, ditemukan tewas gantung diri. Diketahui korban pernah berobat di Rumah Sakit Jiwa Magelang.

Sehari kemudian, Senin, 4 Desember 2017 warga Kelurahan Plarangan, Kecamatan Karanganyar, ditemukan sudah meninggal dunia di dalam sumur. Diduga korban depresi karena penyakit yang dideritanya mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya dengan cara lompat ke dalam sumur.(*)
Powered by Blogger.