Pasar Tumenggungan

www.inikebumen.net SEBAGAI sebuah pusat kegiatan ekonomi Kebumen, Pasar Tumenggungan yang dibangun awal tahun 1900-an, di bekas Katumenggungan (Rumah Tumenggung) Kolopaking, tampak direncanakan dengan baik, termasuk pilihan lokasinya yang strategis. Sebelumnya pasar Kebumen berada di dekat Klentheng, sehingga disebut Pasar Klentheng, kurang lebih berjarak sekitar 300 meter di selatan Pasar Tumenggungan. Pasar Klentheng diperkirakan muncul tidak lama setelah Pangeran Bumidirjo membuka wilayah yang sekarang menjadi kota Kebumen, tahun 1674. Saat itu Sungai Lukulo masih menjadi jalur transportasi alternatif, maka Pasar Klentheng berlokasi di tepi Sungai Lukulo.

Pasar Tumenggungan
Kang Juki
Di Pasar Tumenggungan, sampai awal dekade 1970-an, bagian timur dulunya merupakan terminal bus dan colt (angkutan umum non bus, termasuk oplet), sebelum dipindahkan ke taman kota lalu untuk kedua kalinya dipindahkan ke lokasi terminal bus sekarang. Sementara di sebelah barat bagian utara ada koplak dokar, sebelum dipindah ke lokasi yang sekarang menjadi pasar burung, setelah dokar sudah tidak lagi menjadi angkutan umum.

Di sebelah selatan pasar, di pinggir Jalan Pahlawan, puluhan becak berjajar rapi menunggu penumpang. Boleh dikata, sarana transportasi dari dan menuju Pasar Tumenggungan sudah sangat memadai bagi seluruh masyarakat dari berbagai penjuru.

Tak jauh dari Pasar Tumenggungan, ada Bioskop Star. Ketika Tugu Kupu Tarung diubah menjadi Tugu Lawet di tahun 1975, sempat ada rumor kawasan tersebut hendak dibuat simpang lima, sehingga bioskop Star berpindah ke dekat Terminal Bus yang saat itu masih baru (sekarang taman kota).

Tak bisa dipungkiri, keinginan masyarakat Kebumen agar kotanya bisa tumbuh menjadi sebuah kota besar. Dan tampaknya mereka yang berada dalam posisi sebagai perencana tata kota di masa itu, berkiblat ke Semarang, sehingga muncul gagasan membuat simpang lima, salah satu ciri khas kota Semarang.

Seiring pergantian Bupati Kebumen, dari Mashud Mertosugondo ke R. Soepeno Soerjodiprodjo di tahun 1974, gagasan tentang simpang lima berubah. Setelah penggantian Tugu Kupu Tarung dengan Tugu Lawet, penataan kawasannya tidak berlanjut dengan pembukaan jalan baru. Bekas bioskop Star yang sudah terlanjur dikosongkan sempat lama terlantar mengganggu keindahan kota sebelum akhirnya dibangun kembali, antara lain sekarang ditempati Bank Danamon.

Kembali pada nilai strategis lokasi Pasar Tumenggungan. Di sebelah barat bagian selatan, terdapat Pegadaian. Sedikit ke barat lagi, ada BRI dan BNI yang berseberangan kantor. Jadi selain dekat sarana transportasi, Pasar Tumenggungan juga dekat kantor lembaga keuangan.

Sementara sepanjang jalan yang mengelilingi Pasar Tumenggungan berjajar toko-toko bermacam produk. Tak ada persaingan yang tidak sehat dan merugikan salah satu pihak, antara pedagang toko dan Pasar Tumenggungan. Karena produk yang dijual masing-masing berbeda. Kalau tidak berbeda jenis barangnya, merek barang yang berbeda.

Pasar Tumenggungan yang merupakan pasar pemerintah, sebenarnya dulunya dikepung empat pasar swasta di empat penjuru mata angin, yaitu: Pasar Mertokondo (barat), Pasar Wonoyoso (utara), Pasar Selang (timur) dan Pasar Tamanwinangun (selatan). Keempat pasar swasta tersebut semula hanya berupa toko-toko milik perorangan. Di emperan toko-toko tersebut, pada malam pasaran, yakni malam Rabu dan malam Ahad, pedagang dari pelosok-pelosok desa suka menghabiskan malam, baru paginya melanjutkan ke Pasar Tumenggungan. Sehingga dulu penjual golak (ada yang menyebutkannya gembus) hanya menggelar dagangannya saat malam pasaran.

Keberadaan keempat pasar swasta yang persis di jalan menuju Pasar Tumenggungan tidak mengganggu eksistensinya. Bahkan meski dalam perkembangannya, karena di sekitarnya ada tanah lapang, Pemerintah Desa/Kelurahan setempat kemudian membuat los dan selanjutnya mengelola Pasar Selang (Kelurahan Selang) dan Pasar Mertokondo (Desa Kutosari). Karena omzet dagangannya relatif lebih kecil, sehingga hanya mampu melayani masyarakat sekitar yang enggan setiap hari belanja ke Pasar Tumenggungan.

Di masa kejayaannya Pasar Tumenggungan menjadi tempat kulakan pedagang-pedagang untuk skala yang lebih kecil dan konsumen yang ingin membeli sembako untuk stok kebutuhan selama beberapa hari. Peran sebagai tempat kulakan mulai berkurang ketika produsen produk dan bahan makanan mulai memperkuat jaringan distribusi dengan mengoperasionalkan alat angkut bermotor.

Toko-toko dan warung-warung kecil di pinggiran kota dan di desa-desa tidak lagi harus kulakan ke Pasar Tumenggungan, karena produsen bisa langsung mendistribusikan produknya ke mereka. Sehingga pengunjung Pasar Tumenggungan mulai lebih didominasi oleh pembeli untuk kebutuhan sendiri.

Yang sulit digeser peran Pasar Tumenggungan sebagai tempat kulakan adalah untuk komoditi hasil pertanian. Sehingga bisa dilihat, aktivitas paling ramai di Pasar Tumenggungan adalah di pagi hari. Pasar Pagi di halaman sebelah timur masih menjadi tempat kulakan bahan baku dari pemilik usaha makanan, entah itu restoran, warung makan atau katering. Dan tentu juga tempat kulakan penjual sayuran keliling.

Perkembangan berikutnya pangsa pembeli untuk kebutuhan sendiri mulai tergerus dengan hadirnya pasar modern berkonsep swalayan. Terlebih jaraknya tak begitu jauh dengan Pasar Tumenggungan. Rita Pasaraya, yang mulai dibuka tahun 1996 hanya berjarak sekitar 200 meter di sebelah barat Pasar Tumenggungan. Sementara Jadi Baru yang mulai beroperasi tahun 2007, cuma sekitar 400 meter di sebelah utara Pasar Tumenggungan. Bahkan hendak hadir lagi sebuah swalayan yang dipadu dengan hotel. Jaraknya pun tak jauh dengan Pasar Tumenggungan.

Sepertinya ada lagi yang bakal lebih mengancam erosi pangsa pembeli Pasar Tumenggungan. Bukankah perkembangan mutakhir di kota-kota besar, pasar modern juga hanya ramai jadi tempat _hang out_? Sementara etalase-etalase produk nyaris tak dibuka, sehingga beberapa gerai milik perusahaan retail raksasa terpaksa ditutup.

Jual beli online cepat atau lambat juga bakal mewabah di Kebumen, seiring berkembangnya penggunaan e-money. Jangan lupa, sejak masyarakat banyak menggunakan media sosial, Pasar Tumenggungan juga hadir di facebook sebagai sebuah group jual beli.

Memang tak semua produk barang dan jasa bisa ditawarkan secara online. Yang pasti para pedagang di Pasar Tumenggungan perlu memahami, proses perubahan tengah terjadi dalam jual beli. Dalam setiap perubahan hukum rimba yang bakal berlaku, survival is the fittest, hanya yang kuat yang mampu bertahan. Kebijakan pemerintah tak akan mampu menahan laju perubahan, paling sekadar memperlambat. Karena itu jangan berpikir untuk meminta belas kasihan, berpikirlah untuk melangkah lebih cepat dari perubahan. Mulailah berpikir untuk berubah sekaligus ubahlah cara berpikir yang sudah ketinggalan.(*)

Achmad Marzoeki (Kang Juki)
Penulis novel Pil Anti Bohong dan Silang Selimpat.
Powered by Blogger.