Sebuah Kritikan di Balik Pementasan Tari Danyang Watulawang

www.inikebumen.net Bertahun-tahun Pemkab Kebumen menampilkan "Duta Seni" setiap tahun di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) seperti membuang-buang energi dan anggaran saja.
Sebuah Kritikan di Balik Pementasan Tari Danyang Watulawang
Para penari Danyang Watulawang, saat peluncuran di Aula PGRI Kebumen, Sabtu malam 21 April 2018.
Pentas tahunan yang hanya menjadi ajang temu kangen warga Kebumen perantauan sama sekali tak memberi wawasan keragaman kesenian tradisional khas Kebumen. Dua kali saya menyaksikan pentas "Duta Seni" Kebumen karena kebetulan sedang berada di Jakarta, yang ditampilkan sama, sendratari, hanya beda judulnya.

Beruntung mayoritas yang menyaksikan warga Kebumen perantauan yang barangkali sedikit wawasannya tentang kesenian tradisional khas Kebumen. Sehingga komentar-komentar umumnya bernada memuji. Itu mungkin juga karena dalam kesempatan tersebut bisa bertemu banyak pejabat Kebumen yang ikut menonton. Sesuatu yang belum tentu bisa dilakukan di Kebumen.

"Oh Kebumen duwe sendratari mbarang ya?" (Oh Kebumen punya sendratari juga ya?) Bagi masyarakat awam sendratari memang lekat dengan Candi Prambanan yang rutin mementaskan sendratari Ramayana.

Kalau saja yang menonton wisatawan manca negara (wisman) atau wisatawan domestik (wisdom) dari luar Kebumen, tentu pertanyaannya bisa lain. "Kalau di Kebumen, di daerah mana saya bisa menyaksikan sendratari seperti ini?"

Belum lagi bila pertanyaan itu berlanjut, "Seni apa saja yang pernah menjadi 'Duta Seni' Kebumen?" Itulah sebabnya "Duta Seni" ditulis dalam tanda petik karena penggunaan istilahnya sangat tidak tepat, bahkan berbau pembohongan publik.

Duta pariwisata ada pemilihan setiap tahunnya. Duta olahraga jelas dihasilkan melalui pertandingan. Sementara "Duta Seni" Kabupaten Kebumen jika dalam istilah pengadaan barang/jasa hanya melalui penunjukkan langsung. Kalaupun ada tim dari sekolah-sekolah yang bergiliran tampil, hanya sebagai pendamping, tapi tim intinya tetap saja. Tidaklah mengherankan bila ada seniman yang sampai 15 kali ikut tampil bersama "Duta Seni" Kebumen.

Sebagai orang yang pernah bekerja menyusun anggaran, meski bukan di Pemkab Kebumen, salah satu pertanyaan menggelitik saya adalah masuk di program dan kegiatan apa, pengiriman "Duta Seni" Kebumen? Apa sudah tepat sasaran?

Untuk menjadi ajang promosi budaya daerah jelas tidak tepat, karena penontonnya mayoritas masyarakat Kebumen perantauan. Sebagai sarana pelestarian kesenian tradisional Kebumen juga terasa janggal, ketika ada yang bisa ikut tampil sampai 15 kali. Kebumen yang terdiri dari 26 kecamatan dengan 460 desa/kelurahan apa demikian miskin seniman tradisional kah sehingga yang menjadi duta itu lagi, itu lagi. Jika seniman kontemporer, barangkali tidak begitu membutuhkan kesempatan untuk tampil di Anjungan Jawa Tengah TMII, mereka bisa mencari panggung sendiri.

Karena itu, ketika ada rencana launching tari "Danyang Watulawang" yang dibarengkan dengan pementasan Teater Ego, Sabtu (21/4) lalu, layak disambut gembira. Ada "perlawanan" seniman muda Kebumen terhadap hegemoni kelompok yang merasa memiliki otoritas dalam menentukan kelompok kesenian yang layak menjadi duta seni Kabupaten Kebumen.

Bermula dari Cepetan

Pada saat Sarasehan Budaya yang diselenggarakan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen pada 16 Oktober 2013, Cepetan (Dansak) merupakan salah satu seni tradisional yang direkomendasikan untuk menjadi salah satu ikon seni khas Kebumen. Terlebih Cepetan memiliki latar belakang historis yang heroik dalam perlawanan terhadap intervensi asing dalam penguasaan lahan perkebunan. Padahal intervensi asing merupakan topik yang selalu aktual dari masa ke masa.

Namun beberapa pihak menilai Cepetan mempunyai beberapa kekurangan untuk dijadikan sebagai ikon seni tradisional khas Kebumen. Penilaian itu didasarkan pada sisi artistik gerakan, kostum yang dikenakan, hingga musik pengiring. Tapi bisa juga penilaian itu muncul dari selera pemangku kebijakan kesenian dan kebudayaan Pemkab Kebumen yang kurang tertarik dengan Tari Cepetan.

Pendukung Tari Cepetan untuk menjadi ikon seni tradisional khas Kebumen tak lekas menyerah. Berbagai perbincangan intens di antara para seniman dan budayawan dilakukan di Rumah Budaya Bumi Bimasakti yang juga menjadi sekretariat sementara DKD Kabupaten Kebumen. Muncullah kemudian tiga koreografer Esti Kurniawati, Ari Setyawati, Vera Setia Pratama yang berupaya mengemas ulang tarian Cepetan ke dalam bentuk yang dinilai lebih estetis, yakni tari Danyang Watulawang. Nama Watulawang sendiri diambil dari nama desa di kecamatan Pejagoan, yang dikenal sebagai asal tari Cepetan.

Gerakan-gerakan pada tari Danyang Watulawang, menurut Putut Ahmad Su’adi, Sekretaris DKD Kebumen yang ikut memberikan supervisi kepada para koreografer yang mengkreasi tarian tersebut, mencoba memadukan sisi kepahlawanan yang gagah sesuai dengan dimensi sejarah kemunculan tari Cepetan.

Gerakan ini dipadukan dengan kecantikan (eksotisme) sebagai simbol daya tarik kepariwisataan tinggi yang dimiliki Kebumen. Tarian ini juga mencoba mengeksplorasi sisi maskulin dan feminim untuk kemudian menyatukan dalam konteks gerakan Tari Cepetan. Eksplorasi ini hendak menunjukkan karakter Kabupaten Kebumen yang merupakan persimpangan dua kebudayaan besar, Yogya-Solo dan Banyumasan (Panginyongan).

Sekalipun demikian, karena tari Cepetan sendiri tidak memiliki pakem, maka tari Danyang Watulawang masih terbuka untuk rekonstruksi gerakan-gerakannya. Demikian juga dari sisi kostum, masih mencari bentuk baku yang benar-benar bisa menunjukkan kekhasan Kebumennya.

Musik yang menjadi pengiring tari, mencoba mengeksplorasi alat kentongan, yang merupakan basic dari seni Dangsak (Cepetan) dalam bentuknya yang paling kuno, bukan gamelan. Walaupun tidak menutup kemungkinan penggunaan gamelan untuk ikut menjadi musik pengiringnya.

Disambut antusias

Plt Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz cukup antusias ketika menerima laporan rencana launching tari Danyang Watulawang. Bahkan sebenarnya merencanakan untuk bisa hadir. Sayangnya ternyata waktunya berbenturan dengan kegiatan lain yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Dalam pandangan KH Yazid Mahfudz, ragam kesenian tradisional yang memiliki kekhasan Kebumen memang perlu dilestarikan. Terlebih dengan telah diresmikannya Kampung Jawa di kecamatan Ambal, yang tentunya antara lain perlu diisi dengan beragam kesenian tradisional khas Kebumen.

Pelestarian beragam kesenian tradisional khas Kebumen salah satu bentuknya adalah dengan mengirim kelompok-kelompok kesenian tradisional tersebut ke luar daerah, termasuk menjadi Duta Seni (tanpa tanda petik) Kabupaten Kebumen yang tampil di Anjungan Jawa Tengah TMII.

Dalam konteks ini, Seksi Kebudayaan yang sekarang bernaung di bawah Dinas Pendidikan mestinya bisa memposisikan diri sebagai regulator dan fasilitator pengembangan kesenian tradisional Kebumen. Ibarat wasit, kurang etis jika sekaligus merangkap sebagai pemain.

Demikian juga dengan pengurus DKD Kabupaten Kebumen. Kerjasama keduanya mestinya untuk memberi kesempatan yang sama dan seluas-luasnya kepada semua kelompok kesenian tradisional yang ada di Kebumen supaya bisa berkembang dan tampil menjadi Duta Seni Kabupaten Kebumen.

Bukan hanya membesarkan kelompok kesenian atau dirinya sendiri. Sehingga mestinya malu kalau berulang kali tampil menjadi “Duta Seni” Kabupaten Kebumen, seakan kelompok kesenian atau seniman lainnya tidak layak untuk tampil.(*)

Achmad Marzoeki (Kang Juki

Penulis adalah Anggota Dewan Pembina DKD Kabupaten Kebumen
Powered by Blogger.