Film "Jelita Sejuba" Menyentuh Nasionalisme Penonton

www.inikebumen.net JAKARTA - Film berlatar belakang militer identik dengan peperangan dan kematian. Asumsi tersebut dipatahkan melalui plot cerita film Jelita Sejuba (Mencintai Ksatria Negara) yang mengedepankan rasa humanisme dan sarat nilai-nilai lokalitas keindonesiaan.
Film "Jelita Sejuba" Menyentuh Nasionalisme Penonton
Diskusi Film Sejuta Sejuba, Perempuan dan Layar di Epicentrum XXI Jakarta, Senin malam 7 Mei 2018.
Adegan manis ketika gadis asal Sejuba, Kepulauan Natuna, Sharifah (Putri Marino) tersipu malu ketika pria idamannya, Lettu Jaka Gana Prayitna (Wafda S. Lubis) melamarnya seakan mematahkan kesan 'keras' sosok tentara. Pertemanan antara para gadis wilayah terdepan Indonesia tersebut dengan para anggota Pasukan Pemukul Reaksi Cepat Tentara Nasional Indonesia (PPRC TNI) di Ranai, Natuna melengkapi sisi humanis abdi negara.

Dunia yang tak diketahui warga sipil pun dikuak. Betapa persyaratan menjadi istri tentara begitu ketat. Belum lagi berbagai konsekuensi menghadapi kondisi penugasan yang mengharuskan seorang anggota Persit Kartika Chandra seperti Sharifah berlapang hati.

"Film ini seperti _dream comes true,_ niat dari dalam hati dan tergerak ketika ada peristiwa yang menyebabkan sesosok tentara gugur dan melihat langsung kondisi istri yang ditinggalkan," terang Produser Eksekutif Drelin Amagra Pictures Krisnawati di tengah Nonton Bareng dan Diskusi Film Sejuta Sejuba, Perempuan dan Layar di Epicentrum XXI, Senin malam 7 Mei 2018.

Paduan kekuatan berkisah yang jarang diangkat di layar kaca bersama para pemain andal selaiknya patut menjadi pilihan penonton. Apalagi, imbuh Krisnawati, nilai-nilai yang melekat dalam keseharian penduduk Natuna bisa menjadi refleksi keragaman Nusantara. Mulai dari tradisi melaut untuk mencari harta karun, keahlian mengolah ikan asap, logat khas Melayu hingga keterbukaan dalam menyampaikan pendapat di tengah keluarga.

Begitulah kekuatan cerita yang tercipta dari kelihaian sang penulis naskah Jujur Prananto. Penulis naskah Laskar Pelangi ini mengakui, menerima tawaran dari Krisnawati dan sutradara Ray Nayoan karena melihat idenya yang unik. Kisah pengorbanan istri tentara dan begitu dekatnya kematian dengan kehidupan pada nyawa mereka.

"Pastinya idenya melahirkan human touch yang kental Kita bisa melihat kematian bukan lagi sesuatu yang menyedihkan tapi membanggakan bagi mereka hingga timbul optimisme dari satu generasi ke generasi berikutnya," papar peraih Penulis Skenario Asli Terbaik Piala Citra 2016 ini.

Dibalik Sosok Sharifah

Psikologi Sharifah yang dituntut tegar dan tabah menggantikan peran sang suami sebagai seorang ayah menjadi fokus para penonton film yang dirilis pada 5 April 2018 lalu ini.
Gagasan menonton bersama ini didukung oleh Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) dan Yayasan Puan Amal Hayati pimpinan Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Istri Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut bahkan menyempatkan diri menonton Jelita Sejuba hingga dua kali. "Dari satu sisi membanggakan jadi istri prajurit, tapi di sisi lain ada kegetiran hidup karena harus siap ditinggal," ulasnya.

Nilai-nilai ketika mendampingi seorang abdi negara, menurutnya, harus diambil inti sarinya agar orang awam lebih menghargai pengorbanan mereka bersama keluarganya. Hampir serupa ketika ia menyertai Gus Dur sebagai tokoh masyarakat hingga menjadi pemimpin negara yang memerlukan kelapangan hati.

Nilai moral dari sosok Sharifah, menurut sekretaris anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) dan juga Pokja Toleransi Yuli Trisnadewani yang turut menonton memperlihatkan sebuah perspektif nasionalisme baru.

"Saya bisa memahami dan mengetahui perspektif baru bahwa di belakang tentara ada yang selalu menginspirasi ketika mereka berjuang. Sinematografi yang indah Natuna juga mengajak masyarakat untuk mengeksplorasi daerah-daerah terdepan republik ini," kata Yuli.

Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia Prof. Saparinah Sadli bahkan menyempatkan diri untuk menggali lebih dekat tentang Sharifah. Caranya mencintai Tanah Air melalui kekuatan dan perjuangan cinta kepada Jaka dan keluarga kecilnya.

"Saya belajar sesuatu di lingkungan prajurit yang berbeda dan mengajarkan sesuatu dari bagian kehidupan yang tidak kita kenal," urai Saparinah.

Sineas Film dengan Nasionalisme Tinggi

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifuddin mengacungi jempol kecerdasan para penggagas film Sejuta Sejuba dalam menyisipkan nilai-nilai kultur khas Indonesia. Idealisme tentang pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan NKRI tidak kaku digambarkan dari perspektif prajurit TNI.

"Pemandangan indah gugus pulau terdepan Indonesia, kekayaan alamnya, kebudayaan masyarakatnya digambarkan sangat dekat dengan keseharian kita. Ini sebuah film yang digarap melalui sentuhan sineas dengan sarat nasionalisme, bahkan jiwa patriotik sangat dirasakan dalam hubungan keluarga kecil ini" ujar Nia.

Ia berharap dukungan datang dari berbagai pihak agar lahir sineas film dengan rasa nasionalisme tinggi. Lantaran kekuatan film untuk mempengaruhi pemikiran publik terbilang efektif.

Tak lupa ia berpesan pada sang pemilik ide cerita Jelita Sejuba, Krisnawati agar terus menyebarluaskan semangat mencintai dan mempertahankan keutuhan NKRI ke segenap penjuru negeri. Krisnawati pun mengamini melalui rencana penayangan nonton bareng berikutnya yang dijadwalkan di Natuna, tempat asal film ini bermula sekitar bulan Juli 2018 mendatang.

Tim Jelita Sejuba menggandeng komunitas pencinta film serta para prajurit beserta keluarganya menyebarluaskan nilai-nilai dalam kisah tersebut.(*)
Powered by Blogger.