Menghentikan Perbuatan Dosa

www.inikebumen.net "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali ‘Imran: 135)
Menghentikan Perbuatan Dosa

Achmad Marzoeki (Kang Juki)
Bulan Ramadhan datang lagi, seketika masjid-masjid kembali dipenuhi jamaah. Bukan hanya ketika shalat Isya yang dilanjutkan dengan shalat tarawih, tapi juga shalat Subuh yang biasanya jamaahnya paling sedikit. Saat shalat Jumat jangan ditanya, jamaah semakin membludag, banyak masjid yang tak kuasa menampung. Pemandangan ini lazim kita saksikan di kota-kota besar. Bagaimana dengan masjid-masjid atau langgar-langgar di pelosok desa di Kebumen?

Berulang-kali akan kita dengar penjelasan melalui berbagai media, mimbar dan ceramah, bahwa perintah menjalankan ibadah puasa bertujuan agar kita menjadi orang yang bertakwa. Bagi orang dewasa yang sudah berkali-kali menjalankan ibadah puasa, sudah sepantasnya mengevaluasi diri, sudahkah ibadah puasa yang bertahun-tahun telah  dilaksanakannya itu membawa hasil positif, mendekatkannya dengan ciri-ciri orang yang bertakwa?

Di antara beberapa ciri orang bertakwa, yang barangkali bisa menenteramkan banyak orang adalah saat berbuat keji atau menganiaya diri sendiri lalu ingat Allah, segera menghentikan dan memohon ampun atas perbuatannya. Disebut menenteramkan karena menunjukkan bahwa orang bertakwa tidak identik dengan orang yang tak pernah berbuat dosa, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih predikat takwa, meskipun mempunyai masa lalu yang kelam berlumur banyak dosa. Syaratnya, segera menyadari lalu memohon ampun kepada Allah SWT dan tidak meneruskan lagi perbuatan dosanya.

Meski menenteramkan, tak berarti mudah memenuhinya. Kita bisa menyaksikan dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana respon penolakan dari para pelaku perbuatan dosa ketika ada orang yang mengingatkannya. Misalnya ada orang suka menonton video porno diingatkan malah menjawab, “Saya tidak mau munafiklah, memang begini adanya. Daripada berlagak alim, tapi kelakuannya brengsek juga!” Bayangkan, diingatkan perbuatan dosanya malah balik memberi ceramah.

Ada pula yang diingatkan perbuatan dosanya lalu menjawab, “Tidak usah sok suci, memang kamu sendiri tidak pernah berbuat dosa?“ Karena menganggap yang mengingatkan juga pernah berbuat dosa yang sama, sehingga dijadikan alasan untuk menolak teguran atau peringatannya tentang perbuatan dosa yang dilakukan. Yang lebih kasar lagi menjawab, “Masalah buat lo?” kesannya malah melecehkan teguran tersebut, karena merasa tidak mengganggu orang yang mengingatkannya. Teramat jarang kita mendengar orang diingatkan terus meresponnya dengan ucapan terima kasih, lalu segera menghentikan perbuatannya.

Karena tidak mudah, maka diperlukan latihan dengan menciptakan suasana saling mengingatkan di mana saja kita berada. Ditegaskan dalam firman Allah SWT, “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang yang beriman.” (Q.S. Adz Dzariyat: 55).

Perlu dipahami, ketika ada orang yang mau mengingatkan orang lain yang berbuat dosa, bukan berarti dia tidak pernah berbuat dosa, melainkan karena berharap ada yang mau mengingatkannya juga jika suatu saat khilaf lalu berbuat dosa. Sehingga kita juga tidak harus merasa bersih dari dosa hanya untuk mengingatkan orang lain yang berbuat dosa. Di situlah manfaatnya saling mengingatkan, sama-sama menjaga agar tidak terhanyut dalam perbuatan dosa.

Almarhum Ayah saya, H. Achmad Moetawalli, mengibaratkan orang berbuat dosa dengan orang yang hendak terjerumus ke dalam jurang. Orang yang mengingatkan itu penolongnya, yang hanya bisa memegang telinganya untuk mengangkatnya agar tidak terjatuh, tentu yang hendak ditolong merasa kesakitan luar biasa di telinganya. Kalau tidak bisa menahan rasa sakit lalu memaksa telinganya dilepas, akan jatuhlah dia ke dalam jurang. Tapi bila mampu menahan rasa sakit untuk beberapa saat saja, maka dia akan bisa tertolong, tidak jadi jatuh ke dalam jurang.

Yang paling mudah untuk membangun suasana saling mengingatkan ini, mestinya di lingkungan terdekat dan terkecil, yakni keluarga. Bersyukurlah bagi yang telah memiliki keluarga dengan suasana saling mengingatkan, sehingga semua anggota keluarga bisa terjaga dari perbuatan dosa. Bagi yang belum, berusahalah untuk menciptakannya.

Jangan sampai terjadi sebaliknya, saling membiarkan masing-masing berbuat dosa dengan alasan menghindari keributan. Apa artinya kehidupan keluarga tampak rukun, tapi ternyata masing-masing anggota keluarga bergelimang dosa.

Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah atau karena Islam kemudian berpisah kecuali salah satu dari keduanya telah melakukan dosa.” (HR. Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad hal 84). Wallahu a’lam bi shawab. (*)

Achmad Marzoeki (Kang Juki)
- Pendiri Majelis Kajian Peradaban dan Budaya (Masjidraya)
- Penulis novel “Pil Anti Bohong” dan “Silang Selimpat”.
Powered by Blogger.