Callind Jalin Kemitraan dengan Pengusaha Difabel Kebumen

www.inikebumen.net KEBUMEN - Callind yang digagas oleh gadis Kebumen Novi Wahyuningsih, tak hanya mengembangkan media sosial. Tapi juga bermitra dengan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) termasuk pengusaha difabel.
Callind Jalin Kemitraan dengan Pengusaha Difabel Kebumen
Novi Wahyuningsih bersama peserta buka bersama foto bersama dengan memegang souvenir berupa keset karakter bertuliskan Callind.
Hal ini tampak dalam acara buka bersama Komunitas Callind Membumi di RM Sop Ari 2 Kebumen, Rabu petang 13 Juni 2018.

Selain untuk lebih mempopulerkan aplikasi Callind khususnya dikalangan masyarakat Kebumen, dalam bukber tersebut hadirin diberi souvenir berupa keset karakter bertuliskan Callind.

Keset tersebut merupakan produk dari Mutiara Handycraft, milik pengusaha difabel Kebumen Irma Surya Agusti, yang pernah menjadi Juara I tingkat Nasional Wirausaha Muda Teladan yang diselenggarakan Kemenpora tahun 2009.

"Alhamdulillah sekarang yang sudah mengunduh aplikasi Callind mencapai 864 ribu," jelas Novi saat memberikan sambutan.

Menurut Novi, apabila pengguna Callind mengaktifkan info lokasi maka bisa dihitung pengguna Callind di suatu kota.

"Melalui menu cari user, bisa diketahui pengguna Callind sampai radius 100 km. Dari menu ini pula, saat ini diketahui pengguna Callind di kota Kebumen ada 20 orang yang mengaktifkan info lokasi. Berapa yang tidak mengaktifkan, atau yang sudah mengunduh tapi belum menggunakan, belum bisa dideteksi," lanjutnya.

Irma yang diberi kesempatan mengenalkan usahanya, menceriterakan perjuangannya saat mengikuti Lomba Wirausaha tingkat Nasional tahun 2009.

"Dalam lomba yang diikuti 10.000 peserta, alhamdulillah saya berhasil masuk 100 besar, artinya berhasil menyisihkan 9.900 orang. Lalu berhasil masuk 10 besar dan dipanggil ke Jakarta," cerita Irma.

Ketika menghadiri undangan Kemenpora tersebut, Irma harus melakukan perjuangan.

"Lainnya datang ke Jakarta pakai pesawat, saya pakai bus ekonomi. Dari Kemenpora sempat menanyakan mau dijemput di bandara mana? Saya jelaskan kalau saya tidak naik pesawat, tapi naik bus. Sehingga kalau mau dijemput ya di Pulogadung," tambahnya.

Selama mengikuti putaran final, Irma sempat deg-degan. "Kalau tidak menang bagaimana nanti membayar ekstra bed selama sebulan?" ujarnya.

Pada saat pengumuman, mulai dari peringkat 10 s.d 4 namanya tidak disebut, Irma sudah tambah deg-degan.

"Alhamdulillah akhirnya menang," ungkapnya gembira.

Sekarang ini Mutiara Handycraft yang dikelolanya merupakan pengolah limbah garmen menjadi pakaian, bed cover dan keset. Produk utamanya keset motif binatang, buah dan kartun. Selain dipasarkan di Indonesia juga diekspor ke Australia.

"Kami mencari mitra produksi dengan pola inti plasma di seluruh Indonesia," jelas Irma.

Acara bukber dilanjutkan dialog tentang Callind. Beberapa masukan disampaikan, agar aplikasi yang di-shoft launching pada 21 April 201 ini, semakin diminati. Rencananya grand launchingnya akan dilaksanakan pada 10 November 2018 nanti di Jakarta.(kj)
Powered by Blogger.