Menanti Hari Tanpa Bayangan Matahari di Kebumen


Menanti Hari Tanpa Bayangan Matahari di Kebumen
Muh Ma'rufin Sudibyo
www.inikebumen.net PILIH sebidang lahan datar yang tersinari cahaya Matahari, misalnya lantai teras atau halaman rumah kita. Tentukan arah mataangin disini, terutama utara–selatan dan timur–barat.  Cari sebuah kotak kecil, misalnya balok kayu mainan anak–anak atau bahkan sebungkus rokok (tentu jika anda merokok).

Dirikan kotak di lahan tadi. Lalu perhatikan jam anda, lebih bagus jika jam pada gawai pintar karena sinkron dengan jam standar Indonesia yang dikelola BMKG. Cermati pada Sabtu Legi dan Minggu Pahing, 13–14 Oktober 2018, jelang waktu Dhuhur. Jika hari cerah dan kotak tadi tersinari cahaya Matahari sepenuhnya, akan terlihat bayang–bayang kotak tersebut memendek dan terus memendek hingga akhirnya menghilang sepenuhnya pada pukul 11:28 WIB.
   
Menghilangnya bayang–bayang kotak adalah pertanda Hari Tanpa Bayangan Matahari, istilah populer akhir–akhir ini. Budaya Jawa mengenal fenomena sebagai tumbuk, yakni kala bundaran Matahari bisa terlihat dari dalam sumur. Sementara khasanah ilmu falak melabelinya sebagai peristiwa Transit Utama atau Istiwa' Utama.
   
Istilah Hari Tanpa Bayangan Matahari dulu hanya populer di kota Pontianak dan tempat–tempat lainnya di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa'. Setiap 21 Maret dan 23 September tengah hari, orang ramai mencoba berdiri tegak di kota itu khususnya di kompleks Tugu Khatulistiwa Pontianak. Menyaksikan bayangan dirinya berangsur–angsur memendek dan akhirnya menghilang kala Matahari tepat berkulminasi atas. Fenomena tersebut sejatinya dilekatkan pada satu peristiwa astronomis: Ekuinoks. Yakni hari dimana panjang siang dan malam di hampir seluruh bagian permukaan Bumi adalah sama (kecuali di kedua kutubnya).
   
Sementara Hari Tanpa Bayangan Matahari dapat terjadi di daratan manapun sepanjang berada di antara Garis Balik Utara / Tropic of Cancer (lintang 23,5º LU) dan Garis Balik Selatan / Tropic of Capricorn (lintang 23,5º LS). Ini disebabkan oleh dinamika rotasi dan revolusi Bumi. Telah diketahui Bumi berputar pada sumbunya dengan sumbu rotasi berselisih 23,5º terhadap bidang tegaklurus ekliptika. Ekliptika adalah bidang orbit Bumi dalam mengedari Matahari. Kombinasikan fakta ini dengan kenyataan Bumi beredar mengelilingi Matahari secara rutin. Maka akan kita dapatkan Matahari seakan–akan berpindah–pindah posisinya di antara Garis Balik Utara ke Garis Balik Selatan secara rutin.
   
Hari Tanpa Bayangan Matahari terjadi saat deklinasi Matahari tepat sama dengan garis lintang setempat bersamaan dengan saat transit Matahari terjadi. Dalam ilmu falak, situasi tersebut akan menghasilkan nilai tinggi Matahari tepat 90º. Atau tepat berada di titik Zenith. Akibatnya setiap benda yang terpasang tepat tegaklurus rata–rata permukaan air dan menempel di tanah akan kehilangan bayangannya.
   
Kabupaten Kebumen memiliki titik markaz pada garis lintang 7º 40' LS. Maka saat deklinasi Matahari bernilai negatif 7º 40', yang terjadi tiap 1 Maret dan 13 Oktober setiap tahunnya, Hari Tanpa Bayangan Matahari  di Kebumen akan terjadi. Pada saat itu bayang–bayang benda tegak akan menghilang pada tengah hari. Sebaliknya di bagian permukaan Bumi lainnya yang tersinari cahaya Matahari pada saat yang sama, maka bayang–bayang benda tegaknya tepat mengarah ke Kab. Kebumen.
   
Fenomena Hari Tanpa Bayangan Matahari sesungguhnya telah dikenal sejak lama. Pada masa Mesir kuno, Erastothenes memanfaatkannya guna mengukur diameter Bumi yang dianggapnya berbentuk bola. Nilai yang ditemukannya hampir serupa dengan produk pengukuran modern (12.800 kilometer). Sejak masa al–Biruni, fenomena Hari Tanpa Bayangan Matahari yang terjadi di kotasuci Makkah dijadikan metode praktis pengukuran arah kiblat berketelitian sangat tinggi dengan instrumen relatif sederhana. Yakni hanya memanfaatkan petunjuk waktu dan pendulum berat.
   
Selain menyajikan fenomena langit rutin yang tetap memukau, Hari Tanpa Bayangan Matahari di Indonesia juga menjadi penanda bagi peralihan musim. Yakni dari musim hujan ke musim kemarau untuk Hari Tanpa Bayangan Matahari di bulan Maret–April. Dan sebaliknya dari musim kemarau ke musim hujan untuk Hari Tanpa Bayangan Matahari di bulan September–Oktober. Pengetahuan praktis ini masih berlaku meski perkembangan ilmu klimatologi modern memperlihatkan kompleksnya fenomena iklim dan cuaca di Indonesia.
   
Selamat menyambut Hari Tanpa Bayangan Matahari 13–14 Oktober 2018 di Kebumen.(*)

Muh Ma'rufin Sudibyo
Penulis adalah Putra Kebumen, Anggota Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama RI Bidang Kepakaran.
Powered by Blogger.