Header Ads

Peringati Satu Abad Hizbul Wathan, Siswa SD Mutu Karanganyar Gelar Kemah Survival

www.inikebumen.net KARANGANYAR - Sebanyak 73 orang siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 (SD Mutu) Karanganyar diajak berkemah di kawasan objek wisata Bukit Langit, Desa Giripurno, Kecamatan Karanganyar. Para siswa antusias mengikuti kegiatan yang digelar, baru-baru ini. Peserta yang merupakan siswa kelas 3-5 mereka ini berkemah 2 hari 1 malam.
 Peringati Satu Abad Hizbul Wathan, Siswa SD Mutu Karanganyar Gelar Kemah Survival
Para siswa SD Muhammadiyah 1 Karanganyar diajak berkemah di kawasan objek wisata Bukit Langit, Desa Giripurno, Kecamatan Karanganyar.
Menurut Kepala SD Mutu Karanganyar Heri Pramono, kegiatan yang bertajuk kemah survival itu tersebut sebenarnya merupakan kegiatan tahunan bagi para siswa. "Kebetulan untuk tahun ini bertepatan dengan peringatan Satu Abad Hizbul Wathan, Milad ke-106 Muhammadiyah serta Maulid Nabi Muhammad SAW," jelasnya.

Dalam kemah survival, para siswa dibangun karakter kemandirian dan kedisiplinannya. Peserta diwajibkan menyiapkan segala sesuatunya sendiri, menyiapkan perlengkapan, pakaian dan semua keperluannya sendiri. "Selain itu anak-anak dilatih untuk dapat mendirikan tenda, memasak menyesuaikan dengan lingkungan, hingga tidak menggunakan kompor bahkan dilatih menanak nasi dengan bambu," imbuh Heri.

Melalui kemah survival para siswa juga dilatih untuk disiplin dan mandiri. "Anak tetap wajib melaksanakan sholat walaupun di tengah hutan dan tidak menemukan air," tegas Heri.

Peserta kemah survival ditekankan untuk menjaga kebersihan hutan, tidak boleh ada yang membuang sampah sembarangan meskipun hanya kulit premen. "Ini juga untuk meningkatkan ketakwaan serta lebih cinta dengan lingkungan," katanya, Rabu 21 November 2018.

Menurut Ketua Panitia kegiatan, Annisa Nursafitri, dalam kemah survival juga diisi dengan kegiatan yang menyenangkan berupa permainan atau game. Seperti pencarian door prize yang disebar dan diletakan di antara semak-semak, outbond, spider wool, hingga flying fox.

"Para siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang setiap kelompoknya berisi siswa beda kelas," jelas Annisa.

Dikatakannya hal itu bertujuan agar siswa yang lebih tua bisa membimbing adik-adik kelasnya. "Jadi dalam satu kelompok yang memimpin kakak kelasnya, ini agar para siswa lebih bisa berbaur dan yang tua bisa memberi contoh yang baik kepada yang lebih muda," katanya.

Pada hari pertama peserta mendapat pembekalan tentang berbagai hal seputar bertahan hidup di alam. Baru kemudian pada hari kedua anak-anak dilepas di hutan untuk kemudian dilanjutkan dengan outbond. Para siswa tampak senang dan menikmati acara tersebut.(*)

Powered by Blogger.