Header Ads

Bukti Sejarah Geologi Sangat Penting Tersimpan di Geopark Karangsambung-Karangbolong

www.inikebumen.net KEBUMEN - Kebumen memiliki taman bumi (geopark) nasional sejak akhir November 2018. Yakni Geopark Karangsambung–Karangbolong, yang resmi menyandang status geopark nasional ditandai penyerahan sertifikat bersama tujuh geopark lainnya dalam sebuah seremoni di Pongkor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bukti Sejarah Geologi Sangat Penting Tersimpan di Geopark Karangsambung-Karangbolong
Area persawahan di Desa Seboro, Kecamatan Sadang. Wilayah ini masuk dalam kasawan Geopark Karangsambung-Karangbolong.
Geopark Karangsambung–Karangbolong memiliki luas 543,599 kilometer persegi yang mencakup 117 desa dalam 12 kecamatan dan terbagi menjadi dua kawasan. Yakni Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) Karangsambung dan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan.

Peneliti bencana pada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim, Muh Ma'rufin Sudibyo, menjelaskan Geopark Karangsambung–Karangbolong menjadi kawasan yang menyimpan bukti sejarah geologi sangat penting. Yakni fosil subduksi purba antara lempeng Australia dengan lempeng Sunda (Eurasia) pada zaman Kapur Atas Paleosen yang lantas terangkat hingga melampaui permukaan laut dan tersingkap.

"Hal ini menjadikannya satu dari hanya empat lokasi sejenis di Indonesia selain Ciletuh (Jawa Barat), Bayat (Jawa Tengah) dan Meratus (Kalimantan Selatan)," terangnya.

Geopark ini juga mencakup kawasan karst yang didalamnya terdapat 182 buah goa, 2 telaga atau danau karst, sungai bawah tanah, air terjun dan aneka mata air.

Menurutnya, dengan penetapannya sebagai geopark nasional, tumbuh harapan Geopark Karangsambung–Karangbolong akan menjadi salah satu instrumen pembangunan ekonomi berkelanjutan. Yakni dengan menitikberatkan aspek konservasi, aspek pendidikan dan aspek pertumbuhan ekonomi lokal (pariwisata) yang melibatkan peran serta aktif masyarakat setempat.

"Sehingga KCAG Karangsambung dan KABK Gombong Selatan tak hanya tetap terjaga kelestariannya namun juga bisa berpengaruh pada kemandirian ekonomi lokal yang berwawasan lingkungan," ujar Ma'rufin.

Lebih jauh Ma'rufin memaparkan, geopark tersebut dikaitkan dengan aspek pendidikan. Yaitu dengan menumbuhkembangkan sikap tanggap warga Kebumen akan potensi bencana alam. Khususnya mencakup dua jenis bencana paling potensial, gerakan tanah (longsor) dan tsunami.

Sejarah geologinya yang unik dalam bentangan masa nan panjang menjadikan bumi Kebumen tercabik–cabik gaya tektonik demikian kuat. Membuatnya lapuk, lebih mudah menyerap air dan rentan bergerak, khususnya yang berkedudukan di lereng. Apalagi bila lereng tersebut adalah lahan kritis.

"Inilah yang membuat Kebumen menjadi wilayah administratif paling rawan gerakan tanah se Jawa Tengah dalam catatan BPBD Jateng," kata dia.

Keunikan yang sama membuat pesisir Kebumen menjadi pantai datar terbuka tanpa tonjolan Pegunungan Selatan, seperti yang banyak dijumpai di pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Padahal pesisir selatan Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi yang tersegmentasi menjadi tiga dengan masing–masing segmen berkemampuan memproduksi gempa megathrust setara Gempa Nias 2005 (magnitudo 8,7).

Riset multidisiplin ilmu memperlihatkan pesisir selatan Jawa telah berkali–kali menerima terjangan tsunami selama berabad–abad terakhir. Bahkan diantaranya tsunami cukup besar (produk gempa setara Gempa Aceh 2004), yang terakhir terjadi sekitar 4 abad silam.

Karakter pesisir Kebumen yang demikian, bersama pesisir Bantul, Kulonprogo, Purworejo dan Cilacap, menjadikan tsunami akan menerjang jauh ke daratan dan menggenangi area cukup luas apabila gempa tersebut benar–benar terjadi.

"Hal ini yang membuat Kebumen menjadi wilayah administratif paling rawan tsunami nomor dua di pulau Jawa setelah Kota Cilacap, dalam catatan BNPB," paparnya.

Mitigasi bencana secara umum bekerja pada dua aras pra bencana dan pasca bencana. Aras pasca bencana telah banyak dilakukan lembaga–lembaga penanganan bencana termasuk dalam Kabupaten Kebumen dengan prosedur standarnya masing–masing. Seperti BPBD, PMI maupun lembaga non pemerintah seperti LPBI NU, MDMC Muhammadiyah dan ACT.

Sebaliknya aras pra bencana relatif belum banyak tersentuh. Termasuk didalamnya menyampaikan informasi tepercaya terkait potensi bencana alam tsunami dan gerakan tanah bagi masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di kawasan berpotensi.

"Serta edukasi komprehensif yang mencakup beragam aspek yang melibatkan pula aspek ruhani, mengingat style penduduk Kabupaten Kebumen sebagai masyarakat religius," imbuhnya lagi.

Mitigasi pra bencana juga mencakup pembuatan rencana evakuasi mandiri sebagai prosedur yang harus dijalani ketika bencana alam melanda. Baik berupa rencana evakuasi keluarga untuk tingkat keluarga dalam satu rumah, rencana evakuasi komunal untuk tingkat komunitas RT, RW hingga rencana evakuasi institusi bagi satuan usaha (perusahaan), kantor (pemerintahan/swasta) hingga satuan pendidikan.

"Tak terpisahkan dengannya adalah jalur evakuasi tanggap bencana alam yang seyogyanya dipetakan secara partisipatif. Jalur evakuasi dan rencana evakuasi hanya bermakna manakala dilatih secara rutin. Sehingga terbentuk mind map dalam benak," terang dia.

Ia menambahkan, mitigasi pra bencana juga berperan mereduksi potensi daya rusak bencana alam. Dalam hal tsunami, telah diketahui kekuatan arus dan daya rusaknya bisa direduksi bilamana tersedia barrier vegetasi (hutan buatan) nan rapat di sepanjang pantai dengan lebar tertentu. Dalam hal gerakan tanah juga telah diketahui bahwa potensinya bisa direduksi manakala luasan lahan kritis bisa dikurangi atau diperbaiki sembari melakukan rekayasa teknik tertentu.

"Kita berharap Geopark Karangsambung–Karangbolong bisa berperan menjadi geopark tanggap bencana, yang menjadikan dirinya khas di antara geopark–geopark lainnya se–Indonesia. High risk high gain, keunikan sejarah geologi yang memproduksi bentang lahan Kebumen masakini memiliki banyak manfaat di satu sisi," kata dia.

Paparan informasi, edukasi dan aksi tanggap bencana alam mutlak dibutuhkan Kabupaten Kebumen. Mengingat kesiapsiagaan dan tanggap bencana alam dapat mereduksi jumlah korban manusia hingga ke titik maksimal manakala bencana alam yang dimaksud benar–benar terjadi.(*)

Powered by Blogger.