Kebumen Menuju Geopark Tanggap Bencana

www.inikebumen.net BENCANA hidrometeorologi menggerojok Kabupaten Kebumen mulai Rabu 16 Januari 2019 lalu. Hujan deras selama berjam–jam sejak malam memicu timbulnya genangan, gerakan tanah (longsor) dan pohon tumbang. Berdasarkan data pembaharuan yang dirilis BPBD Kebumen Jumat pekan lalu, banjir menggenangi 56 desa pada 13 kecamatan.
Kebumen Menuju Geopark Tanggap Bencana
Muh Ma'rufin Sudibyo
Sementara gerakan tanah terjadi pada 27 desa di 11 kecamatan. Dengan curah hujan mencapai antara 146 mm (seperti tercatat di Somagede Sempor) hingga 204 mm (tercatat di Adipala Cilacap), dapat diduga bencana ini menjadi bagian siklus hidrometeorologi ekstrim lima tahunan. Banjir besar terakhir memang melanda Kebumen pada akhir 2013 silam dengan curah hujan mencapai 400 mm dalam empat hari. Patut disyukuri tidak ada korban jiwa yang jatuh, korban luka–luka pun relatif minimal.

Meskipun angka kerugian material jelas besar seiring banyak rumah penduduk dan jalan raya yang rusak tertimpa tanah/pohon tumbang dan nyaris lumpuhnya aktivitas keseharian warga Kebumen akibat genangan.

Sebulan sebelumnya Kebumen juga sempat diharu–biru oleh jenis bencana alam yang lain: tsunami. Isu tsunami akan terjadi pada 18 Desember 2018 merebak kemana–mana sejak dua bulan sebelumnya. Meski terbukti sebagai hoaks, tak pelak isu ini sempat membuat resah khususnya bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir.

Terlebih hanya beberapa hari kemudian bencana tsunami yang lain kembali terjadi di Indonesia. Mengambil lokasi di sekujur pesisir Selat Sunda, tsunami sunyi yang tak terdeteksi seiring peristiwa gugurnya Gunung Anak Krakatau ke perairan Selat Sunda itu merenggut nyawa tak kurang dari 500 orang.

Bagaimana sebaiknya Kebumen menyikapinya? 

Kebumen memiliki taman bumi (geopark) nasional sejak akhir Nopember 2018. Yakni Geopark Karangsambung–Karangbolong, yang resmi menyandang status Geopark Nasional ditandai penyerahan sertifikat bersama tujuh geopark lainnya dalam sebuah seremoni di Pongkor (Bogor). Geopark Karangsambung–Karangbolong memiliki luas 543,599 kilometer persegi yang mencakup 117 desa dalam 12 kecamatan dan terbagi menjadi dua kawasan. Yakni Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG) Karangsambung dan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Gombong Selatan.

Geopark Karangsambung–Karangbolong menjadi kawasan yang menyimpan bukti sejarah geologi sangat penting, yakni ’fosil’ subduksi purba antara lempeng Australia dengan lempeng Sunda (Eurasia) pada zaman Kapur Atas–Paleosen yang lantas terangkat hingga melampaui permukaan laut dan tersingkap. Menjadikannya satu dari hanya empat lokasi sejenis di Indonesia selain Ciletuh (Jawa Barat), Bayat (Jawa Tengah) dan Meratus (Kalimantan Selatan). Geopark ini juga mencakup kawasan karst yang didalamnya terdapat 182 buah goa, 2 telaga/danau karst, sungai bawah tanah, air terjun dan aneka mata air.

Dengan penetapannya sebagai geopark nasional, tumbuh asa Geopark Karangsambung–Karangbolong akan menjadi salah satu instrumen pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan menitikberatkan aspek konservasi, aspek pendidikan dan aspek pertumbuhan ekonomi lokal (pariwisata) yang melibatkan peran serta aktif masyarakat setempat. Sehingga KCAG Karangsambung dan KABK Gombong Selatan tak hanya tetap terjaga kelestariannya namun juga bisa berpengaruh pada kemandirian ekonomi lokal yang berwawasan lingkungan.

Menarik mengaitkan aspek pendidikan tersebut dengan menumbuhkembangkan sikap tanggap warga Kebumen akan potensi bencana alam. Khususnya mencakup dua jenis bencana paling potensial: gerakan tanah (longsor) dan tsunami. Sejarah geologinya yang unik dalam bentangan masa nan panjang menjadikan bumi Kebumen tercabik–cabik gaya tektonik demikian kuat. Membuatnya lapuk, lebih mudah menyerap air dan rentan bergerak, khususnya yang berkedudukan di lereng. Apalagi bila lereng tersebut adalah lahan kritis. Inilah yang membuat Kebumen menjadi wilayah administratif paling rawan gerakan tanah se–Jawa Tengah dalam catatan BPBD Jateng.

Keunikan yang sama membuat pesisir Kebumen menjadi pantai datar terbuka tanpa tonjolan Pegunungan Selatan sebagaimana jamak dijumpai di pesisir selatan Jawa Barat dan Jawa Timur. Padahal pesisir selatan Jawa berhadapan langsung dengan zona subduksi yang tersegmentasi menjadi tiga dengan masing–masing segmen berkemampuan memproduksi gempa megathrust setara Gempa Nias 2005 (magnitudo 8,7).

Riset multidisiplin ilmu memperlihatkan pesisir selatan Jawa telah berkali–kali menerima terjangan tsunami selama berabad–abad terakhir. Bahkan diantaranya tsunami cukup besar (produk gempa setara Gempa Aceh 2004), yang terakhir terjadi sekitar 4 abad silam. Karakter pesisir Kebumen yang demikian, bersama pesisir Bantul, Kulonprogo, Purworejo dan Cilacap, menjadikan tsunami akan menerjang jauh ke daratan dan menggenangi area cukup luas apabila gempa tersebut benar–benar terjadi. Hal ini yang membuat Kebumen menjadi wilayah administratif paling rawan tsunami nomor dua di pulau Jawa setelah Kota Cilacap, dalam catatan BNPB. 

Mitigasi bencana secara umum bekerja pada dua aras: pra–bencana dan pasca–bencana. Aras pasca–bencana telah banyak dilakukan lembaga–lembaga penanganan bencana termasuk dalam Kabupaten Kebumen dengan prosedur standarnya masing–masing. Seperti BPBD, PMI maupun lembaga non pemerintah seperti LPBI NU, MDMC Muhammadiyah dan ACT.

Sebaliknya aras pra–bencana relatif belum banyak tersentuh. Termasuk didalamnya menyampaikan informasi tepercaya terkait potensi bencana alam tsunami dan gerakan tanah bagi masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di kawasan berpotensi. Serta edukasi komprehensif yang mencakup beragam aspek yang melibatkan pula aspek ruhani, mengingat style penduduk Kabupaten Kebumen sebagai masyarakat religius.

Mitigasi pra–bencana juga mencakup pembuatan rencana evakuasi mandiri sebagai prosedur yang harus dijalani kala bencana alam melanda. Baik berupa rencana evakuasi keluarga untuk tingkat keluarga dalam satu rumah, rencana evakuasi komunal untuk tingkat komunitas RT / RW hingga rencana evakuasi institusi bagi satuan usaha (perusahaan), kantor (pemerintahan/swasta) hingga satuan pendidikan.

Tak terpisahkan dengannya adalah jalur evakuasi tanggap bencana alam yang seyogyanya dipetakan secara partisipatif. Jalur evakuasi dan rencana evakuasi hanya bermakna manakala dilatih secara rutin. Sehingga terbentuk mind map dalam benak.

Mitigasi pra–bencana juga berperan mereduksi potensi daya rusak bencana alam. Dalam hal tsunami, telah diketahui kekuatan arus dan daya rusaknya bisa direduksi bilamana tersedia barrier vegetasi (hutan buatan) nan rapat di sepanjang pantai dengan lebar tertentu. Dalam hal gerakan tanah juga telah diketahui bahwa potensinya bisa direduksi manakala luasan lahan kritis bisa dikurangi atau diperbaiki sembari melakukan rekayasa teknik tertentu.

Kita berharap Geopark Karangsambung–Karangbolong bisa berperan menjadi geopark tanggap bencana, yang menjadikan dirinya khas di antara geopark–geopark lainnya se–Indonesia. High risk high gain, keunikan sejarah geologi yang memproduksi bentang lahan Kebumen masakini memiliki banyak manfaat di satu sisi.

Namun juga mengandung resiko di sisi lain. Paparan informasi, edukasi dan aksi tanggap bencana alam mutlak dibutuhkan Kabupaten Kebumen. Mengingat kesiapsiagaan dan tanggap bencana alam dapat mereduksi jumlah korban manusia hingga ke titik maksimal manakala bencana alam yang dimaksud benar–benar terjadi.(*)

Muh Ma'rufin Sudibyo
Penulis adalah Putra Kebumen, Peneliti bencana pada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim.
Powered by Blogger.