Pengelolaan Buruk, Status Geopark Karangsambung-Karangbolong Bisa Dicabut

www.inikebumen.net KARANGSAMBUNG - Status Geopark Karangsambung-Karangbolong yang telah ditetapkan sebagai geopark nasional masih belum aman. Status tersebut masih dicabut kembali oleh pemerintah pusat apabila dalam dua tahun tidak dikelola dengan baik.
Pengelolaan Buruk, Status Geopark Karangsambung-Karangbolong Bisa Dicabut
Geosite Watu Gong di Desa Totogan, Kecamatan Karangsambung, menjadi salah satu titik masuk Kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong.
Untuk mendukung pengembangan geopark tersebut Pemkab Kebumen menyelenggarakan Sarasehan Pengembangan Geopark Karangsambung-Karangbolong Bersama Wakil Bupati di Aula Kampus LIPI Karansambung, Senin, 21 Januari 2019. Acara tersebut digelar setelah Kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong mendapat sertifikat sebagai Geopark Nasional pada 30 November 2018 lalu.

Hadir pada acara tersebut Wakil Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, Sekda Kebumen Ahmad Ujang Sugiono, Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (BIKK) LIPI Karangsambung Edi Hidayat. Pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Kebumen, para pelaku wisata di Kebumen dan para wartawan dari media cetak, online dan elektronik.

Sarasehan yang dimoderatori oleh Kepala BAP3DA Kebumen Djunedi Faturakhman itu menghadirkan tiga narasumber. Yakni Kepala BIKK LIPI Karangsambung Edi Hidayat, Budayawan yang juga Ketua Asosiasi Keris Indonesia Bambang Gunawan dan Peneliti Utama LIPI Chusni Ansori.

Kepala UPT BIKK Karangsambung LIPI Edi Hidayat, menyampaikan Geopark Karangsambung-Karangbolong memiliki banyak keistimewaan yang tak di miliki geopark lainnya yang ada di Indonesia. Yakni memiliki pesona alam yang indah dan terdapat beragam situs geologi, biologi dan budaya.

"Situs geologinya berupa ragam batuan beku, sedimen dan metamorf yang usianya mencapai ratusan juta tahun lalu," kata Edi Hidayat, dalam paparannya.

Secara topografi, kata Edi, Geopark Karangsambung-Karangbolong memiliki bentangan pegunungan dan perbukitan yang jika sejauh mata memandang terlihat menakjubkan. Ada pula morfologi alufial yang salah satunya adalah sungai Luk Ulo yang bentuknya berkelok dan terdapat meander pada sisi kelokannya serta terbentuknya deposit pada teras sungai.

Peneliti Utama LIPI, Chusni Anshori, memaparkan Geopark Karangsambung-Karangbolong memiliki tiga kawasan dan delapan titik yang bisa menjadi publikasi internasional agar status geopark naik kelas dari tingkat nasional ke global.

Adapun 3 kawasan tersebut adalah Utara untuk keistimewaan geosite, tengah untuk kawasan konservasi dan seni budaya, serta selatan untuk kawasan goa. "Tiga kawasan delapan titik ini masih perlu pembahasan lebih jauh dengan pihak-pihak terkait lagi," ujar Chusni.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan dengan telah diterimanya sertifikat Geopark Nasional, Geopark Karangsambung-Karangbolong membutuhkan partisipasi masarakat dan seluruh pihak, untuk menjaga melestarikan dan mengoptimalkannya.

"Ini tentu memberikan harapan bagi kita. Utamanya untuk mendukung pembangunan pariwisata dan lainnya. Yang muaranya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan Geopark bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekaligus menjalankan fungsi konservasi terhadap kekayaan  alam yang dilindungi.

"Untuk itu, saya mengajak banyak kalangan, khususnya insan pers, untuk mensosialisasikan adanya geopark terebut. Sehingga masyarakat semakin tahu dan tahu banyak," kata Yazid Maahfudz.

Ia berharap, insan pers membantu memberikan informasi tersebut sehingga masyarakat memahami apa itu geopark, wilayah mana saja yang termasuk kawasan geopark, dan apa yang bisa dan harus dilakukan dengan keberadaan geopark tersebut.

"Apalagi masa berlaku sertifikat tersebut hanya 2 tahun, dan selanjutnya akan dievaluasi kembali," tegasnya.

Ia menegaskan, geopark tersebut seharusnya memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. Menunjang peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sebagai daya dukung untuk mengentaskan kemiskinan. Terutama sebagai potensi pariwisata.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi agar tidak mengeksploitasi sumber daya alam yang ada, khususnya di kawasan geopark. Masyarakat harus terus disadrakan agar semakin peduli dan tidak bersikap tak acuh terhadap kekayaan geoheritage yang ada disekitarnya.

"Untuk itu memang perlu perubahan pola pikir masyarakat dalam pengelolaan lingkungan. Dari eksploitasi menjadi konservasi," imbuhnya.

Wakil Bupati berharap geopark menjadi modal kebangkitan semangat baru untuk mengentaskan kemiskinan, menuju kemakmuran dan kesejahteraan, serta konservasi alam.(*)

Powered by Blogger.