Lisong Mengetuk Rumah Inklusif dengan Puisi

www.inikebumen.net KEBUMEN - Bak sebuah prosesi pernikahan, komunitas Lingkar Sastra Gombong (Lisong) mendatangi Rumah Inklusif. Hadroh selamat datang pun menyambut kehadirannya.

Lisong Mengetuk Rumah Inklusif dengan Puisi
Karima Latifa Arum seorang tuna wicara tengah membacakan puisi "Sajak Tanpa Kata"
Itulah pertemuan dua komunitas peduli difabel dalam acara Panggung Sastra Inklusif bertajuk "Tak Ada Jalur Kursi Roda" di Rumah Joglo Inklusif, Desa Kembaran, Kecamatan Kebumen, Sabtu sore, 23 Februari 2019.

Ada 20 puisi yang dibacakan bergantian baik dari komunitas Lisong maupun Rumah Inklusif sendiri. Yang amat menyentuh ketika seorang tuna wicara Karima Latifa Arum membacakan puisi "Sajak Tanpa Kata" karya Budi Hastuti.

"Banyak yang hendak kukatakan | Tapi lidahku tak bisa bicara | Tataplah mataku, Saudara | Beribu sajak sarat makna..." begitu bait awal "Sajak Tanpa Kata".

Karima dibantu penerjemah bahasa isyarat dalam membacakan puisinya, demikian pula ketika menjelaskan kesan-kesannya.

"Saya sulit untuk mengekspresikan puisinya, karena baru pertama kali melakukannya," jelas Karima melalui penerjemahnya.

Puisi yang kemudian dijadikan judul acara tersebut, "Tidak Ada Jalur Kursi Roda" dibacakan dengan sangat ekspresif oleh Carolin Atin Soel.

"... Ibu aku jadi malu | Atas kecengenganku | Padahal hidup bukan untuk meminta | Belas kasihan semata | Meski difabel cacat raga | Pantang berputus asa | Beri aku kesempatan | Meraih prestasi akan kubuktikan.

Menurut penciptanya, Sugeng Joko Utomo, seorang guru dari Gombong yang sekarang mengajar di sebuah pesantren di Tasikmalaya, puisi tersebut diinspirasi masih minimnya fasilitas untuk penyandang difabel.

"Fasilitas umum di Kabupaten Kebumen (mungkin juga kabupaten yang lain) sangat tidak ramah terhadap penyandang disabilitas, terutama yang menggunakan alat bantu kursi roda," ungkapnya.

Menurut Sugeng, banyak dari mereka yang kesulitan untuk ikut menikmati fasilitas umum tersebut, seperti alun-alun Kebumen, terminal, perkantoran baik instansi pemerintah mau pun swasta.

Harapan Sugeng, ke depannya pemerintah mau pun swasta ikut memikirkan fasilitas untuk para disabilitas agar tidak lagi ada kesan diskriminatif.

Koordinator Lisong Sabur Herdian Raamin menjelaskan acara tersebut merupakan bagian dari idealismenya untuk menggerakkan sastra inklusif. Sebelumnya beberapa kali Lisong menggelar acara di Rumah Martha Tilaar Gombong. Kali ini mencoba di tempat lain.

"Kebetulan inisiatif dari Lisong mendapat sambutan baik dari Rumah Inklusif," jelasnya.

Melalui sastra inklusif Sabur berharap bisa memangkas jarak pemisah antar komponen masyarakat yang berbeda-beda.

Penggerak Lisong yang lain Untung Karnanto menjelaskan, panggung sastra inklusif masih merupakan rangkaian dari acara sebelumnya. Rumah Inklusif sebelumnya pernah menggelar "Bumen Artklusif" yang salah satu acaranya adalah Malam Sastra Inklusif.

"Saat itu puisi-puisi yang dibacakan adalah karya penyandang disabilitas. Mereka menulis tentang dirinya sendiri dalam karyanya," ucap Untung.

Dari situ memunculkan ide untuk menuliskan puisi yang bisa menyuarakan ungkapan perasaan para penyandang difabel.

"Puisi-puisi itulah yang kemudian dibacakan dalam acara ini. Dan puisi 'Tak Ada Jalur Kursi Roda' rasanya pas untuk merepresentasikan substansi dari puisi-puisi tersebut," pungkas Untung.(*)
Powered by Blogger.