Unik! Bawa Hasil Bumi dan Ternak, Kades di Ambal ini Lamar Pujaan Hatinya

www.inikebumen.net AMBAL - Kepala Desa Kaibonpetangkuran, Kecamatan Ambal, Muhlisin (38), melamar pujaan hatinya dengan menggunakan tradisi yang sudah mulai ditinggalkan.

Unik! Bawa Hasil Bumi dan Ternak, Kades di Ambal ini Lamar Pujaan Hatinya
Rombongan warga Desa Kaibonpetangkuran, Kecamatan Ambal, membawa berbagai hasil bumi dan ternak yang akan diantar ke rumah calon istri Kades mereka.
Belum lama ini, dia membawa berbagai hasil bumi dan ternak dengan dipikul oleh ratusan warga ke rumah perempuan yang bakal dinikahinya, Siti Nafisatul Ikromah.

Tradisi yang disebut dengan sosokan, sarahan atau lamaran itu dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya saat akan melangsungkan pernikahanya.

Muhlisin, mengaku sengaja menggelar tradisi tersebut sebagai bentuk  pelestarian budaya di desanya. "Saya ingin tradisi yang baik di desa ini agar bisa dilestarikan di era sekarang ini," ujarnya.

Muhlisin, mengatakan untuk menyiapkan semua itu dia membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Dia sengaja melakukan sarahan model tempo dulu karena memiliki kearifan masyarakat dan saat ini mulai ditinggalkan.

Ratusan warga Desa Kaibonpetangkuran, berjalan kaki sejauh 2 kilometer menyusuri Jalan Daendels. Mereka membawa berbagai hasil bumi berupa, beras, ketela, buah-buahan dan hewan ternak seperti kambing dan ayam.

Sesepuh Desa Kaibonpetangkuran, Lasiman, menuturkan berbagai hasil bumi dan ternak tersebut dibawa dari kediaman Kepala Desa Kaibonpetangkuran Muhlisin.

Unik! Bawa Hasil Bumi dan Ternak, Kades di Ambal ini Lamar Pujaan Hatinya
Lamaran model seperti ini sudah mulai ditinggalkan masyarakat.
Selanjutnya, berbagai hasil bumi dan ternak itu dibawa ke rumah perempuan yang bakal dinikahinya. Domba dituntun sebagai cucuk lampah diikuti warga yang membawa  sejumlah ayam lalu warga yang memikul hasil bumi.

Barang bawaan berupa buah-buahan seperti pisang, rambutan, durian, apel, jeruk dan lain sebagainya dikemas sedemikian rupa sesuai keadaan tempo dulu. Selain buah ada pula puluhan kelapa tua yang sudah siap dijadikan bibit.

"Hal ini menggambarkan pernikahan yang langgeng hingga anak cucu," tutur Lasiman.(*)
Powered by Blogger.