Ingin Buku Anda Diminati Pembaca? Buat Sampul dan Judul yang Menggelitik

Ingin Buku Anda Diminati Pembaca? Buat Sampul dan Judul yang Menggelitik
Dari kiri ke kanan: Sabrur Rohim, Heri Pramono, Akhmad Khoirul Fahmi (moderator), Bunda Eppi dan Widyastuti, dalam bedah buku "Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Keluarga", Kamis, 4 April 2019.
www.inikebumen.net KEBUMEN - Bedah buku "Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Keluarga" yang diselenggarakan Lembaga Swadaya Masyarakat Majelis Kajian Peradaban dan Budaya (LSM Masjid Raya) di Gedung PKK Kebumen, Kamis, 4 April 2019 berlangsung seru.

Empat nara sumber dengan latar belakang berbeda-beda membedah buku sesuai sudut pandang masing-masing membuat hadirin dengan tekun menyimak diskusi. Bahkan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Kebumen juga mengikuti diskusi sampai selesai.

Sabrur Rohim dan Septi Masyitoh yang lebih akrab dipanggil Bunda Eppi antara lain menyoroti tampilan luar buku, sampul dan judul. Sementara Heri Pramono dan Widyastuti menyoroti sebagian topik dalam buku.

"Judul buku dan sampul luarnya mesti sinkron dan menggelitik pembaca untuk mengetahui isinya," jelas Sabrur.

Sabrur mengkritisi sampul buku "Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Keluarga" yang bergambar keluarga dengan tiga orang anak.

"Kalau program pemerintah, Keluarga Berencana kan anaknya dua," ujar penulis buku "Saya Muslim Radikal" ini.

Sementara Bunda Eppi karena menilai buku "Pemberdayaan Perempuan dan Ketahanan Keluarga juga perlu dibaca bapak-bapak, maka sampulnya juga perlu dibuat yang menarik buat bapak-bapak.

"Kalau menurut ibu-ibu, melihat sampul buku seperti ini, bapak-bapak tertarik membaca tidak?" tanya Bunda Eppi meminta penegasan.

Usai membedah Sabrur sedikit menceritakan bukunya "Saya Muslim Radikal" yang merupakan bunga rampai pemikirannya.

"Membaca judul buku ini, anda bisa terkecoh jika mengaitkannya dengan pemaknaan radikal dan radikalisme sebagaimana dipahami secara sepihak dan bernuansa politis, belakangan ini," ujar alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Karangduwur, Petanahan ini.

Kalau ditelusur ke akar etimologisnya, menurut Sabrur sejatinya kata radikal lebih bermakna positif, tidak ada kaitannya dengan fenomena-fenomena negatif seperti militan, ‘galak’, dan ekstremis. "Kata radikal (Inggris: radic, radical), kalau dilihat ke kamus, mengandung arti asal, akar, dasar, tulen. Jadi, radikalisme berarti—kurang lebih—cara berpikir atau bertindak yang bertolak dari nilai-nilai dasar, nilai-nilai fundamental. Nilai-nilai itu, karena mendasar dan fundamental, bersifat universal, misalnya kebebasan (kemerdekaan), keadilan, kesetaraan, HAM, dan sebagainya," terangnya.

Dijelaskan Sabrur, dalam praktik (sejarah), jika merujuk pendapat Farish A Noor radikalisme atau radikal berarti cara berpikir atau sikap untuk kembali ke nilai-nilai dasar itu semua, sebagai protes atas status quo yang timpang. Dan demi visi semacam itu, umumnya para pemikir atau pejuangnya tidak kenal kompromi; sebaliknya, menentang secara total terhadap status quo.

Dalam penilaian Sabrur, bukunya bakal lebih menarik minat pembaca dengan judul "Saya Muslim Radikal" ketimbang judul lainnya, seperti "Meluruskan Pandangan tentang Islam Radikal" atau "Salah Paham Terhadap Islam Radikal".

"Mungkin ini bisa jadi masukan, bila Bu Yuni membuat buku lagi," pungkasnya.(*)
Powered by Blogger.