Header Ads

Manfaatkan Batu Kali, Lukisan Karya Seniman Kebumen ini Diminati Hingga Mancanegara

Manfaatkan Batu Kali, Lukisan Seniman Kebumen ini Diminati Hingga Mancanegara
Seniman asal Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen, Putut Agus, menunjukkan batu suiseki, salah satu koleksinya. Salah satu lukisan karya seniman Panjer.
www.inikebumen.net KEBUMEN - Melukis di atas kertas atau kain kanvas mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana dengan melukis di atas media batu sungai? Itulah yang dilakukan Putut Agus Indra Sakti (44). Pelukis asal Kelurahan Panjer, Kecamatan Kebumen ini memanfaatkan batu jenis blonos di Sungai Lukulo menjadi medianya.

Batu memang bukan media yang ideal untuk melukis, tetapi di tangan seniman asli Kebumen itu, jenis batu blonos yang biasanya hanya digunakan untuk bahan bangunan mampu disulap menjadi produk luar biasa dan bernilai seni tinggi. Batu yang dijual secara kubikan itu setelah mendapat sentuhan tangan Putut bisa laku ratusan ribu hingga jutaan rupiah per butir.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan desain grafis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu menekuni seni lukis batu atau yang dikenal dengan rock painting itu. Awalnya media batu digunakan karena keterbatasan media yakni sulitnya mencari kain kanvas.

Dengan kemampuan dan bakatnya dalam melukis, Putut menuangkan hobinya melukis di atas sungai. Maklum, kebetulan saat itu dia tinggal di rumah orang tuanya di Desa Seling, Kecamatan Karangsambung yang dekat dengan Sungai Lukulo.

Kegiatan melukis dengan media berlanjut hingga menghasilkan berbagai karya. Sejumlah gambar yang dilukis antara lain bermotif binatang, pemandangan, wajah manusia, hingga tokoh-tokoh mitologi.

Manfaatkan Batu Kali, Lukisan Seniman Kebumen ini Diminati Hingga Mancanegara
Salah satu karya Putut Agus
 "Dari keterbatasan ini, akhirnya saya serius dan mendalami seni lukis batu hingga saat ini," ujar Putut Agus, di Jalan Glatik 24 Keluarahan Panjer, Kecamatan Kebumen, baru-baru ini.

Menurut Putut, tingkat kesulitan melukis dengan menggunakan media batu terletak pada besar kecilnya batu. Saat pembeli ingin dilukiskan pada sebuah batu yang berukuran kecil, di situlah tingkat kesulitan akan datang.

Tetapi justru dengan tangan itu, daya kreatifitas akan terpacu untuk menghasilkan karya yang sesuai dengan keinginan. Lukisan batu karya Putut menggunakan aklirik. "Satu lukisan biasanya saya selesaikan sampai empat jam," imbuhnya.

Meski tidak dikenal luas di Kebumen, karya Putut justru memiliki pasar yang cukup luas mulai dari Yogyakarta hingga luar negeri. Peminat dari Malaysia, India dan Hongkong tercatat telah membeli lukisan batu karyanya. Selain memanfaatkan media batu, Putut juga melukis dengan media daun kering dan plastisin.(*)

Powered by Blogger.