Lebih Peduli Lingkungan Saat Ramadhan


Lebih Peduli Lingkungan Saat Ramadhan
Kang Juki
www.inikebumen.net SETIAP ibadah yang dilakukan umat Islam, semestinya memiliki dampak perilaku keseharian. Hal ini setidaknya disinggung dalam firman Allah SWT tentang shalat, "Sesungguhnya shalat mencegah dari (melakukan) perbuatan keji dan munkar," (QS Al 'Ankabut 45).

Demikian juga ketika di bulan Ramadhan umat Islam lebih meningkat frekuensinya dalam mengerjakan shalat jamaah di masjid. Setiap harinya akan ada jalur rutin yang dilewati, entah dari rumah atau tempat kerja menuju masjid tempat mengerjakan shalat berjamaah. Seringnya melewati suatu jalur perjalanan mestinya menghasilkan kesimpulan hasil pengamatan tentang masalah tertentu sesuai minat pribadi masing-masing.

Lingkungan yang masih kotor karena masyarakat tidak tertib membuang sampah, atau masih banyak rumah tak layak huni karena orang miskin tak kunjung berkurang. Berbeda kapasitas orang berbeda yang diamati dan disimpulkan. Seperti halnya sungai yang mengalir, memberi inspirasi berbeda bagi pengail, pelukis, ahli irigasi dan ahli tenaga listrik.

Yang lebih penting kemudian, apa tindak lanjut dari kesimpulan hasil pengamatannya. Meski hanya sebuah tindakan sederhana, tetap bermakna, terlebih bila memberi manfaat bagi sesama.

Semisal melihat ada sesuatu di jalan yang berpotensi mengganggu orang yang lewat, langsung menyingkirkannya. Meski terkesan sepele, tindakan tersebut sama dengan sedekah. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda, "Menyingkirkan sesuatu yang menghalangi manusia dari jalan adalah sedekah." (HR Ahmad dari Abu Hurairah ra no. 8004)

Semakin tinggi kedudukan dan kewenangan seseorang, atau kekayaan yang dimilikinya, tentu akan semakin banyak yang bisa dilakukan sebagai tindak lanjut kesimpulan pengamatannya. Karena itu meningkatnya frekuensi dalam melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama bulan Ramadhan diharapkan juga bisa membawa banyak perubahan.

Yang kaya tergerak hatinya mengatasi problem kemiskinan. Yang punya jabatan dan kewenangan tinggi terinspirasi untuk membuat kebijakan dan program yang tepat sasaran. Yang merasa tidak punya apa-apa, atau tidak memiliki kedudukan apa-apa tetap mendapatkan manfaat. Dengan seringnya memperhatikan lingkungan sekitarnya, setidaknya kita bisa lebih paham, mengapa dalam Al Quran banyak pertanyaan "Apakah kamu tidak berpikir?"

Mari mulai lebih peduli mengamati lingkungan sekitar, sebagai bagian dari upaya kita meningkatkan kualitas ibadah puasa, agar bisa menjadi orang yang bertakwa.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman Kebumen.
Powered by Blogger.