Header Ads

Mencari dan Berbagi Rezeki Secara Bermartabat

Mencari dan Berbagi Rezeki Secara Bermartabat
Kang Juki
www.inikebumen.net DALAM bidang apa saja, sebagai efek meningkatnya persaingan, banyak yang kemudian mengambil jalan pintas dengan bermain curang, menipu, tidak fair atau melangkahi prosedur.

Intinya menyingkirkan kompetitor untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya dengan menghalalkan segala cara. Ironisnya setelah berhasil mendapatkan, diklaim sebagai rezeki yang diperoleh dengan kerja keras.

Tak hanya di dunia politik yang terlanjur populer dengan predikat politik itu kotor. Di dunia apa saja, termasuk pendidikan yang semestinya menjadi media internalisasi nilai-nilai moral, juga bisa ditemui.

Bocornya soal-soal UAN, contek-menyontek saat ujian sampai jiplak-menjiplak karya ilmiah, mengindikasikan hal itu. Jangan ditanya lagi di dunia bisnis dan perdagangan. Pasti ada saja orang yang merasa tertipu usai melakukan transaksi.

Dua hal yang sering menjadi pendorong orang berlaku curang, melanggar aturan dan tak menghiraukan lagi halal-haram. Jika tidak karena takut miskin, bisa juga takut kalau tak bisa menafkahi anak-anaknya.

Mereka yang berlaku seperti ini, mestinya ikut merasa disinggung oleh Allah dalam surat Al Munafiqun ayat 9, yang artinya "Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."

Karena demikian sayang dengan harta dan anak-anaknya bisa membuat orang tak sempat berdzikir dan beribadah kepada Allah. Sementara yang masih sempat berdzikir dan beribadah, adakalanya tak bisa lagi membedakan perintah dan larangan Allah, tak peduli halal atau haram. Hakikatnya sama, anak dan harta membuatnya lalai mengingat Allah.

Keadaan seperti ini sudah diprediksi sejak dulu. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda,  "Sungguh pasti akan datang suatu masa pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram". (HR Bukhari no. 1941 dishahihkan ijma' ulama).

Bisa jadi kehidupan mereka yang tak lagi mengindahkan halal atau haram, lebih berhasil secara materi, dibanding orang yang memegang teguh aturan dalam mencari rezeki.

Bisa jadi pula mereka termasuk dermawan, suka berbagi pada orang lain, khususnya para dhuafa. Masalahnya bagaimana cara orang-orang kaya dalam berbagi rezeki kepada orang lain?

Meski sudah semakin banyak lembaga zakat, infaq dan shadaqah, masih banyak orang-orang kaya yang membagikan sendiri sedekahnya kepada masyarakat. Tidak masalah, bila pembagian itu dilakukan dengan cara yang bermartabat.

Yang mengenaskan kalau pembagian dilakukan hanya di satu tempat, sementara penerima dalam jumlah banyak, sampai antriannya mengular dan berdesak-desakan, lalu ada yang pingsan. Tak sekali dua berita seperti itu tersiar, khususnya mendekati lebaran.

Bagi mereka yang masih membagi sedekah dengan cara seperti itu, alangkah baiknya merenungi firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 263, yang artinya,

"Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun."

Membuat penerima sedekah berdesak-desakan dalam antrian, tidakkah sama dengan memberi sedekah dengan diiringi sesuatu yang menyakitkan penerima? Padahal dalam pandangan Allah Swt lebih baik mengatakan tidak bisa memberi melalui perkataan yang baik, daripada memberi diiringi sesuatu yang menyakitkan.

Selama bulan Ramadhan ini, selain meningkatkan ibadah, mari perbaiki juga cara kita, baik dalam mencari maupun berbagi rezeki dengan orang lain. Dengan begitu, tujuan puasa menjadikan kita orang bertakwa, bisa terwujud. Aamiin.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.