Ramadhan dan Kepedulian Sosial

Ramadhan dan Kepedulian Sosial
Kang Juki
www.inikebumen.net SEBAGAIMANA sering disampaikan dalam berbagai kesempatan melalui beragam media, tujuan berpuasa di bulan Ramadhan adalah agar bisa menjadi orang bertakwa. Tercapai tidaknya tujuan tersebut, bisa diketahui manakala memahami ciri-ciri orang bertakwa.

Allah Swt memberikan ciri-ciri orang bertakwa antara lain seperti disebutkan dalam surat Al Baqarah ayat 3, "“...menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” Ciri ini dipertegas lagi dalam surat Ali Imran ayat 134, "(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit ...”

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah ZIS (zakat, infak dan shadaqah). Bedanya, zakat dan shadaqah diberikan oleh orang yang mampu mencukupi kebutuhannya, sementara infak bisa saja diberikan oleh orang yang tengah mengalami kesempitan, situasi di mana kebutuhannya sendiri belum tercukupi tapi tetap mau membagi sebagian rezekinya untuk orang lain.

Kemauan berbagi ini didasari keyakinan orang yang bertakwa, bahwa pada hartanya terdapat hak untuk orang miskin (lihat surat Adz Dzariyat ayat 15 s.d 19). Sehingga sedikit atau banyak harta yang ada pada dirinya, cukup atau tidak untuk memenuhi kebutuhannya, tetap ada hak bagi orang miskin yang harus diberikannya.

Dengan prinsip tersebut, maka semestinya dalam lingkungan masyarakat yang bertakwa, tidak akan ditemui orang-orang miskin yang sampai terlantar dan kelaparan. Manakala melihat ada orang kelaparan, sudah pasti orang yang bertakwa akan membagi rezeki, berapapun yang dimilikinya.

Tak sekali dua, melalui media sosial kita mendapatkan informasi, adanya orang miskin yang terlantar. Ada yang masih anak-anak, terlantar karena yatim atau tidak tahu keberadaan orang tuanya. Ada juga orang lanjut usia yang sendirian tanpa ada kerabat yang merawat. Ironisnya, terkadang orang-orang di lingkungan terdekat malah tidak mengetahuinya.

Padahal di sekitarnya, bisa jadi ada orang-orang kaya, setidaknya hidupnya sudah berkecukupan. Dari sisi ibadah, mungkin juga orang sekitarnya rajin beribadah, bahkan malah ada yang sudah haji. Hal itu menegaskan, bahwa menjadi ahli ibadah belum menjamin orang sampai derajat takwa.

Sahabat Ibnu Abbas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda,  "Dan ketinggian derajat diperoleh dengan cara menyebarkan salam, memberi makan, dan shalat malam ketika orang-orang tidur." (HR Tirmidzi no. 3157, shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Bani).

Sebaliknya, dalam surat Al Ma'un ayat 1 s.d 3 malah disebutkan mereka yang tergolong pendusta agama antara lain yang tidak mengajak untuk memberi makan orang miskin. Karena itu, bulan Ramadhan ini perlu dijadikan momentum untuk lebih meningkatkan kepedulian kita terhadap orang miskin.

Apalagi sampai saat ini, persentase penduduk miskin di Kabupaten Kebumen masih tergolong tinggi. Apa artinya seseorang bisa hidup berkecukupan bila di sekelilingnya masih banyak orang miskin?(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.