Header Ads

Sabar Tidak Melakukan Maksiat

Sabar Tidak Melakukan Maksiat
Kang Juki
www.inikebumen.net BENTUK  sabar lainnya adalah tidak melakukan maksiat. Karena semakin banyak orang yang tidak malu lagi melakukan maksiat, yakni mengabaikan perintah dan melanggar larangan Allah Swt.

Bermacam perintah Allah Swt yang semakin banyak diabaikan, sebaliknya bermacam larangan Allah Swt yang semakin dibanyak dilanggar. Mereka yang melakukan maksiat mengira bisa mendapatkan kebahagiaan hidup, karena merasa hidup lebih bebas tanpa ada yang mengekang.

Berbeda dengan yang ditunjukkan Nabi Yusuf as, meski mempunyai peluang untuk berbuat maksiat, dengan penuh kesabaran ditolaknya kesempatan tersebut walau resikonya berat. Dikisahkan dalam surat Yusuf ayat 33, yang artinya,  

Yusuf berkata, "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh."

Ayat tersebut berkenaan dengan kisah Nabi Yusuf as saat menolak ajakan bermaksiat dari Zulaikha (saat itu masih istri Wazir Agung Mesir) walaupun resikonya kemudian sempat dipenjara. Kesabaran yang sulit ditemukan dalam diri manusia seperti sekarang ini. Jangankan menolak ajakan, tidak diajak pun akan mencari-cari kesempatan.

Namun bagi mereka yang memahami dampak dari perbuatan maksiat tentu akan menghindarinya sejauh mungkin. Dalam surat Al Baqarah ayat 266, Allah Swt memberikan gambaran akibat perbuatan maksiat sebagai berikut,

"Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya."

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa terkait ayat tersebut Umar bin Khathab ra menjelaskan bahwa ayat tersebut membuat perumpamaan seorang laki-laki yang kaya, lalu dia beramal dengan menaati Allah azza wa jalla. Kemudian Allah mengutus setan kepadanya. Maka ia pun melakukan maksiat hingga ia tenggelamkan amalan kebaikan yang telah dilakukannya (HR Bukhori nk. 4174 dishahihkan oleh ijma' ulama).

Karena itu jangan sekali-sekali kita mencoba bermaksiat kepada Allah Swt, yang bisa berakibat terhapusnya amal shaleh yang sudah kita lakukan sebelumnya.

Ajakan untuk berbuat maksiat sering kali muncul dalam pergaulan sehari-hari. Sehingga untuk menghindari perbuatan maksiat tak jarang ada orang yang kemudian menarik diri dari pergaulan. Hal ini tak dikehendaki Rasulullah Saw.

Dalam suatu riwayat Ibnu Umar mengatakan,"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang mukmin yang berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan bersabar atas perbuatan buruk mereka, lebih besar pahalanya daripada seorang mukmin yang tidak berbaur (berinteraksi) dengan manusia dan tidak sabar atas tindakan buruk mereka." (HR Ibnu Majah no. 4022, dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin Al Bani).

Bulan Ramadhan ini juga menjadi sarana kita melatih sabar untuk tidak bermaksiat apabila kita tetap menjaga pergaulan sehari-hari, termasuk dengan orang-orang yang tidak berpuasa. Semoga kita tetap sabar.(*)

Kang Juki 
Penulis adalah jamaah Madjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.