Tidak Membedakan Status Sosial dalam Pergaulan

Tidak Membedakan Status Sosial dalam Pergaulan
Kang Juki
www.inikebumen.net DIRIWAYATAKAN dari 'Aisyah oleh Imam Tirmidzi (no. 3254), yang sanadnya dishahihkan oleh Muhammad Nashiruddin Al Bani, bahwa suatu hari Rasulullah saw tengah berbincang dengan pembesar kaum musyrik yang diharapkannya mau masuk Islam.

Datanglah seorang buta bernama Ibnu Ummi Makhtum, yang sudah lama memeluk Islam, lalu berkata, "Wahai Rasulullah, berilah aku petunjuk."

Rasulullah saw dengan muka masam berpaling dari Ibnu Ummi Makhtum dan melanjutkan perbincangannya dengan pembesar kaum musyrik. Maka Allah Swt menegur sikap Rasulullah saw dengan menurunkan surat 'Abasa ayat 1-10, sebagai berikut:

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalupengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya."

Sebagai manusia, Rasulullah saw dengan pertimbangan yang manusiawi pula, mungkin menilai perbincangannya dengan pembesar kaum musyrik akan lebih memberi hasil dalam berdakwah, ketimbang hanya mengajari seorang buta. Maka dalam ayat selanjutnya, 11-16,  Allah Swt mengingatkan bahwa pertimbangan tersebut tidaklah benar.

"Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya. Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti."

Mungkin kita juga akan berpandangan, bila mampu membuat pembesar kaum musyrik beriman kepada Allah Swt, akan memberi keuntungan yang besar bagi dakwah Rasulullah Saw selanjutnya, ketimbang hanya mengajari Ibnu Ummi Makhtum. Namun bagi Allah tidak demikian. Yang mau menunjukkan minatnya mempelajari ajaran Islam yang lebih layak diprioritaskan.

Dalam keseharian tanpa disadari kita semua mungkin juga bersikap begitu. Berbeda saat menghadapi pejabat dan rakyat biasa. Etika pergaulan yang diajarkan Islam adalah sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu As Sarh, bahwa Rasulullah Saw bersabda, 

"Siapa yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih besar di antara kami, maka ia bukan dari golongan kami." (HR Abu Daud no. 4292 dishahihkan Muhammad Nashiruddin Al Bani).

Dengan mengambil kiasan dari hadits tersebut, maka kita mesti menyayangi rakyat biasa namun juga memahami hak-hak para elit penguasa. Jangan sampai mengesampingkan salah satu karena menilai yang lain bakal lebih membawa pengaruh besar. Wallahu a'lam bi shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung, Kauman Kebumen.
Powered by Blogger.