Rumah Orangtuaku, Surgaku

Rumah Orangtuaku, Surgaku
Kang Juki
www.inikebumen.net LEBARAN adalah saatnya mudik bagi para perantau. Kembali ke rumah orang tua di kampung halaman.

Pada saat anak-anak perantau dan sudah berumah tangga berkumpul kembali, bisa dilihat hasil didikan orang tua dari cara anak-anaknya menangani keluarga masing-masing. Orang tua yang hanya berpikir materialistis, mengukur keberhasilan pendidikan anak hanya dari kemandirian ekonomi. Maka ketika anak cucunya berkumpul akan saling unjuk keberhasilan materi.

Bahkan suami-istri perantau yang menitipkan anak-anaknya di rumah kakek-neneknya, tak dianggap suatu masalah sepanjang secara materi memberikan kontribusi.

Berbeda dengan orang tua yang peduli dengan pembinaan keluarga. Bagaimana keadaan cucunya, baik yang masih bayi, kanak-kanak atau remaja tidak luput dari perhatiannya. Yang masih bayi apa ditangani dengan benar, diberi ASI atau susu formula? Yang kanak-kanak bagaimana cara bermainnya, yang mulai remaja apa sudah tahu kewajibannya, dan sebagainya.

Dalam kultur Jawa ada yang disebut rumah candi, rumah orang tua yang dijaga keberadaannya sebagai tempat berkumpul keluarga, khususnya saat lebaran. Keberadaan rumah candi juga tergantung ketokohan dan pengaruh seseorang.

Tokoh yang punya pengaruh luas, maka di antara anak-anaknya akan ada yang menunggui rumah candi meskipun kedua orang tuanya sudah meninggal, agar tetap terjaga fungsinya. Masyarakat yang sudah terbiasa menjadikannya tempat bermusyawarah dan meminta nasehat, tidak begitu kehilangan panutan, merasa ada penggantinya.

Berbeda dengan orang biasa, anak-anaknya akan menganggap rumah candi sebatas warisan, yang bila bisa dijual akan dijual atau dikomersialkan, diubah peruntukannya dari hunian menjadi tempat usaha. Masih mending jika hasilnya dibagi kepada ahli waris sesuai komposisinya, tapi biasanya pasti akan ada yang mendominasi sehingga memicu konflik. Kalau masih mau kumpul-kumpul kerabat bergiliran tempat, sudah pasti suasana batinnya berbeda.

Karena itu, sejatinya sikap seseorang terhadap rumah peninggalan orang tua, menunjukkan penilaian terhadap kapasitas sekaligus penghargaan kepada orang tuanya.

Mudik ke rumah orang tua akan bisa jadi sarana pembelajaran bagi kita dan anak-anak kita. Bagaimana orang tua mendidik kita dan bagaimana kita mendidik anak-anak kita bisa jadi bahan pemikiran. Meski saudara sekandung, belum tentu cara mendidik anaknya sama.

Hal itu menunjukkan ada yang luput dalam pendidikan orang tua kepada anak-anaknya, yakni tidak menyiapkan anak-anak saat kelak berkeluarga. Sehingga anak-anaknya mencari pengetahuan dan ketrampilan sendiri dalam mendidik anak. Semua itu merupakan bagian dari dinamika keluarga sepanjang kerangka berpikir yang dibentuk keluarga berorientasi pada satu hal, mewujudkan kebenaran.

Banyak orang tua yang keliru memberikan orientasi berpikir dan bertindak kepada putra-putrinya. Kebenaran sesuai ajaran agama yang diyakini, sering kali kurang diperhitungkan. Yang lebih dikedepankan pewarisan atau duplikasi tindakan, kadang dikemas atas nama tradisi. Orientasi lainnya adalah yang penting rukun.

Tidak mengherankan bila di negeri kita subur praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), karena praktek kerukunan yang kadang bercampur tradisi, tidak berorientasi pada kebenaran.

Sama-sama pulang ke rumah orang tua, bisa memiliki makna yang berbeda. Ada yang hanya menjadikan rumah orang tua sebagai rumah singgah selama di kampung halaman.

Begitu banyak rencana bertemu teman-teman lama, dari TK, SD, SMP hingga SMA. Akhirnya selama di kampung halaman hanya menitipkan barang dan tempat menginap. Tak banyak dialog keluarga, anak-anaknya juga kurang berinteraksi dengan kerabatnya.

Padahal apabila orang tua mendidik dengan benar, anaknya juga memahaminya dengan benar, akan terbentuk pemikiran yang sama, mewujudkan rumah sebagai surga. Terasa nyaman untuk ditempati layaknya surga, juga sebagai jalan menuju surga. Apa bisa?

Rumah akan menjadi surga bagi penghuninya, bila semua saling menghargai hak dan kewajibannya. Rumah akan menjadi jalan menuju surga jika orang tua mendidik anak-anaknya membina keluarga dengan benar, antara lain dengan menjaga kualitas kesejahteraan dan ibadah anak-anaknya. Beberapa ayat Al Quran dan hadits berikut bisa menjadi rujukan.

Dalam surat An Nisa' ayat 9 Allah SWT berfirman,   

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar."

Sahabat Abdul Malik bin Ar Rabi' bin Sabrah ra dari Ayahnya dari Kakeknya mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,   

"Ajarkanlah shalat kepada anak-anak pada umur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika meninggalkan shalat pada umur sepuluh tahun." (HR Tirmidzi nomor 372, hadits hasan shahih menurut Muhammad Nashiruddin Al Bani).

Selanjutnya Ar-Rubai' binti Mu'awwidz ra usai mendengar Rasulullah saw memerintahkan berpuasa Asyura, mengatakan,

"Setelah itu kami selalu berpuasa dan kami juga mendidik anak-anak kecil kami untuk berpuasa dan kami sediakan untuk mereka semacam alat permainan terbuat dari bulu domba, apabila seorang dari mereka ada yang menangis meminta makan maka kami beri dia permainan itu. Demikianlah terus kami lakukan hingga tiba waktu berbuka" (HR Bukhari nomor 1824 disahihkan oleh ijma' ulama).

Bagaimana suasana mudik di rumah orang tua anda?(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.