Menurunnya Semangat Nahi Munkar

"Dia orang baik dan taat beribadah. Pasti ini kasus yang dipolitisir. Dia korban konspirasi." Kalimat pembelaan yang sering kita dengar.
Menurunnya Semangat Nahi Munkar
Kang Juki
www.inikebumen.net PERKEMBANGAN zaman yang membuat kompetisi dalam berbagai bidang kehidupan semakin ketat, mendorong orang bersikap lebih individualis.

Tak terkecuali dalam kehidupan beragama, khususnya Islam, yang dianut mayoritas bangsa Indonesia. "Menjadi orang baik sudah cukup." Begitu prinsip yang seringkali kita dengar.

Apabila terjadi sesuatu yang menurutnya bertentangan dengan ajaran Islam, reaksinya sekadar beristighfar dan berharap tidak terjadi pada orang-orang dekatnya. Semisal ada informasi, "Sudah banyak pelajar yang menjadi gay," akan ditanggapi secara umum, "Astaghfirullah, mudah-mudahan anak saya tidak ikut-ikutan."

Tapi kalau sesuatu yang buruk terjadi pada orang-orang dekatnya, reaksi spontannya adalah menegasikan informasi. Semisal menerima laporan, "Putra Bapak telah melecehkan perempuan." Reaksinya, "Ah, tidak mungkin. Anak saya baik kok. Di rumah rajin shalat, tidak mungkin melecehkan perempuan. Salah mengenali orang mungkin?"

Bahkan saat ada penangkapan koruptor dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), masih ada upaya orang dekat yang membantah dengan menyebut ketidakmungkinan yang bersangkutan sebagai koruptor. "Dia orang baik dan taat beribadah. Pasti ini kasus yang dipolitisir. Dia korban konspirasi." Kalimat pembelaan yang sering kita dengar.

Mengapa keadaan seperti ini bisa terjadi? Banyak faktor penyebabnya, antara lain menurunnya semangat untuk nahi munkar, mencegah kemunkaran.

Perintah Allah SWT dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 104 cukup jelas, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Yang melakukan ketiga hal tersebut melalui berbagai media sudah banyak. Tapi yang mau mencegah kemunkaran, saat orang terdekat hendak melakukan, bisa dihitung dengan jari. Beragam alasan dibuat untuk membenarkan diamnya orang saat melihat kemunkaran.

Diam dan membiarkan, bukan karena melakukan pilihan ketiga, seperti yang dimaksud dalam hadis, "Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran hendaklah ia mencegah kemunkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim no. 70 dishahihkan ijmak ulama).

Ada yang berdalih tidak mau ribut saat diam saja orang di dekatnya berbuat kemunkaran, "Yang penting bukan saya yang melakukan." Ada yang beralasan tidak enak, tak mau ikut campur urusan orang atau tidak suka reseh. Yang repot kalau berdalih tidak mau suudhon, sementara fakta terpampang di depan mata.

Tidak heran, kasus oknum guru melecehkan siswinya baru ditangkap setelah beberapa korban mengalami dan dalam rentang waktu yang tidak sebentar. Karena saat gejalanya mulai tampak, yang melihatnya enggan mencegah. Atau mungkin sudah laporan kepada yang berwenang, tak kunjung ada tindak lanjut, malah terkesan dilindungi.

Juga, mesti ada OTT KPK baru korupsi diungkap. Baru yang terlibat saling lempar kesalahan untuk membersihkan diri. Apalagi salah satu tindakan yang dikategorikan sebagai korupsi justru sesuatu yang dianggap sudah lazim, yakni fee proyek.

Di lingkungan keluarga, semakin enggan orang mengingatkan, meski kemunkaran sudah terjadi. Ada yang menganggap remeh, "Begitu saja dipermasalahkan!" Lebih ironis lagi ada tambahan, "Tidak usah munafik, semua orang perlu uang!"

Tragisnya bila keengganan mengingatkan, alasannya untuk menjaga kerukunan. Karena yang lebih ditekankan orang tua kepada putra-putrinya adalah menjaga kerukunan, bukan saling amar makruf nahi munkar. Mungkinkah terwujud kerukunan tanpa kemauan mencegah kemunkaran?

Jika semakin banyak orang enggan mencegah kemunkaran, jangan kaget, bukan tidak mungkin suatu saat kemunkaran atau kejahatan terjadi di rumah kita dan pelakunya anggota keluarga yang tak pernah diduga sebelumnya, karena penampilannya mengesankan sebagai orang baik, sopan dan santun.  Naudzu billahi mindzalik.

Ingat pesan almarhum Bang Napi, "Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan!"(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.