Akhlak Menggalang Dana Melalui Medsos

Efektivitas media sosial sebagai sarana penyebaran informasi, telah membuat sebagian penggerak lembaga sosial, terkesan membabi-buta dalam menggalang dana. Hal ini dikhawatirkan bisa membuat  aktivitas sosial dan keagamaan kehilangan substansi.
Akhlak Menggalang Dana Melalui Medsos
Kang Juki
www.inikebumen.net SEMAKIN banyaknya lembaga zakat infaq, shodakoh (ZIS) dan lembaga sosial yang memiliki kepedulian terhadap kaum dhuafa mestinya suatu hal yang menggembirakan.

Keadaan orang miskin semakin banyak yang memperhatikan. Namun keprihatinan lain muncul, memperhatikan cara beberapa penggerak lembaga tersebut dalam menggalang dana dari masyarakat.

Efektivitas media sosial (medsos) sebagai sarana penyebaran informasi, telah membuat sebagian penggerak lembaga tersebut, terkesan membabi-buta dalam menggalang dana. Hal ini dikhawatirkan bisa membuat  aktivitas sosial dan keagamaan kehilangan substansi.

Beberapa penggerak lembaga sosial tersebut, tampaknya bergabung dengan banyak whats app group (WAG) dan aplikasi medsos lain, agar bisa mendapatkan sebanyak mungkin kontak pribadi.

Dengan bekal kesamaan group, lantas menghubungi via jaringan pribadi (japri), inbox, direct message (dm), messenger dan istilah sejenis lainnya, untuk menggalang dana.

Yang paling umum ajakan santunan yatim, baik itu atas nama zakat, infak maupun shodakoh (ZIS). Kalau saat seperti sekarang tentu ajakan berkurban, sekaligus penawaran harga hewan-hewan untuk kurban.

Ajakan yang baik, tapi dengan cara yang kurang etis ketika secara pribadi belum mengenal yang diajak. Menganggap semua pengguna medsos adalah orang yang sudah memiliki kewajiban membayar zakat, berkurban atau setidaknya mengeluarkan infak dan shodakoh, merupakan suatu hal yang gegabah.

Medsos mungkin sudah menjadi kebutuhan primer sekarang, sehingga pengguna medsos tidak selalu orang berpunya. Masih ada pengguna medsos yang mengandalkan fasilitas wifi gratis. Jika tak berada di kawasan yang menyediakan wifi gratis, akan offline dengan sendirinya.

Ketika seseorang dalam kondisi tak punya uang, memikirkan kebutuhan anak dan istri yang mendesak harus dipenuhi, lalu ada yang japri mengajak memberi santunan kepada anak yatim. Alamat lembaga penggalang dana santunan di kota metropolitan, sementara yang dimintai tinggal di desa, setidaknya sebuah kota kecil. Apa tidak terbalik?

Mestinya orang-orang di kota yang perekonomiannya sudah lebih maju, membantu orang desa yang masih harus jatuh bangun meningkatkan taraf hidupnya.

Dalam ajaran Islam ada urutan prioritas, siapa yang perlu dibantu. Firman Allah SWT dalam Al Quran, surat Al-Baqarah ayat 215:

Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah, "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Rasulullah SAW juga menegaskan hal serupa, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis, "Sesungguhnya sedekah kepada orang miskin pahalanya satu sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat pahalanya dua; pahala sedekah dan pahala silaturrahim." (HR Nasa'i no. 2535 dishahihkan Muhammad Nashiruddin Al Albani).

Jadi jelas, kalau ada kerabat yang masih miskin, kepada mereka prioritas sedekah diberikan, baru kepada lainnya yang membutuhkan. Sehingga bagi para penggerak lembaga sosial, ketika menggalang dana via japri, kenalilah terlebih dahulu yang dijapri. Dimana berdomisili, apa aktivitasnya, bagaimana keadaan ekonomi keluarga dan kerabatnya. Jika layak diajak ikut menyumbang baru disampaikan ajakannya. Jika masih memiliki kerabat yang miskin, ingatkanlah untuk membantunya.

Dalam Islam, ZIS bermuatan ukhuwah, tak sekadar pemberian materi. Makanya muallaf, meskipun kaya termasuk kelompok mustahik (berhak menerima zakat). Kalau hanya mengejar target nominal dana yang dikumpulkan, tanpa kemauan mengenal pemberi dana, hilanglah muatan ukhuwahnya. Tinggal kapitalisasi sumber dana yang dilakukan, menjalin hubungan hanya karena keuntungan materi.

Meski lembaganya berlabel agama, tapi prinsip kapitalisme yang sebenarnya dipraktekkan. Apa yang dilakukan sesungguhnya bukan aktivitas sosial, melainkan aktivitas ekonomi dengan branding produk aktivitas sosial. Calon konsumennya, mereka yang layak untuk disebut dermawan, setidaknya orang yang peduli sesama.  Wallahu a'lam bish-shawabi.(*)

Kang Juki 
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.