Ancam Geopark Karangsambung, Gus Yazid Minta Gubernur Jateng Cabut Izin Pertambangan

Gus Yazid meminta masyarakat maupun para pengusaha agar tidak melakukan penambangan di Kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong.
Ancam Geopark Karangsambung, Gus Yazid Minta Gubernur Jateng Cabut Izin Pertambangan
Bupati Kebumen Yazid Mahfudz saat membuka FGD Geopark Karangsambung-Karangbolong di BIKK LIPI Karangsambung
www.inikebumen.net KARANGSAMBUNG - Aktivitas penambangan di sekitar kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong cukup mengkhawatirkan.

Pasalnya, penambangan batu dan pasir di galian C tersebut mengancam kelestarian lingkungan yang areal berstatus geopark nasional itu.

Penambangan galian C tidak saja menyebabkan kerusakan lingkungan tetapi juga mengganggu aktivitas pariwisata. Apalagi, saat ini Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong sedang mengejar status sebagai Unesco Global Geopark (UGG).

Jika kegiatan penambangan tetap dibiarkan maka bisa saja status kawasan geopark nasional akan dicabut pemerintah pusat.

Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, mengatakan tidak pernah mengeluarkan izin penambangan galian C. Sebab, perizinan pertambanganan saat ini kewenangannya telah diambilalih oleh pemerintah provinsi.

"Selain infrastruktur yang harus dibenahi, masalah penambangan-penambangan yang ada di wilayah Geopark harus dihentikan," kata Yazid Mahfudz, pada acara Sosialisasi dan Optimalisasi Geopark Karangsambung-Karangbolong di BIKK LIPI Karangsambung, Rabu 28 Agustus 2019.

Yazid Mahfudz, meminta Pemprov Jateng melakukan penertiban terhadap keberadaan penambangan. Jika terus dibiarkan bebatuan akan habis ditambang oleh masyarakat.

"Saya mohon Pemprov mengevaluasi ijin-ijin penambangan yang ada di kawasan geopark. Jangan sampai masalah batuannya habis ditambang oleh masyarakat yang akan merugikan kita semua," ujarnya.

Gus Yazid meminta masyarakat maupun para pengusaha agar tidak melakukan penambangan di Kawasan Geopark Karangsambung-Karangbolong. Masih banyak lokasi lain yang bisa ditambang.

"Saya minta pak gubernur tidak mengijinkan, bahkan yang sudah ada saya minta dicabut," tegasnya.

Baca juga: Kemenpar RI Dorong Karangsambung-Karangbolong jadi Unesco Global Geopark

 Kepala Balai Informasi dan Konservasi Kebumian (UPT BIKK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Karangsambung, Edi Hidayat, mengatakan, di wilayah Karangsambung terbentang 22 ribu hektare kawasan konservasi geologi.

Dari luasan itu, telah terdeteksi 30 titik situs kebumian yang teramat penting. Sebagian berada di tanah negara di bawah pengelolaan Perhutani. Tetapi, sebagian lainnya berada di tanah pribadi.

Batuan purba yang berada di tanah pribadi inilah yang terancam. Perbukitan ditambang lantaran  kualitasnya yang jauh lebih tinggi daripada batu hitam penambangan batu di luar Karangsambung. Hal ini karena memang batuannya lebih keras dan bagus.

Warga tak tahu, mereka tengah memotong mata rantai muasal daratan Jawa dan kehidupan awal mula bumi. Oleh sebab itu, Balai Konservasi Kebumian LIPI mendorong agar terjadi perubahan mata pencaharian dari penambang menjadi masyarakat pariwisata.

Dari 30 lokasi batuan purba yang dinilai vital itu, baru delapan yang diselamatkan. Delapan titik batuan penting itu telah dibeli oleh LIPI. Masyarakat tidak tahu bahwa batuan di Karangsambung adalah singkapan samudera masa lalu.

"Wilayah konservasi menjadi tempat penelitian geologi untuk mengetahui kehidupan bawah laut yang bisa membuka lembar sejarah kehidupan sebelum manusia," kata Edi.

Menurutnya, kawasan ini mesti dilindungi lantaran telah ditahbiskan sebagai kawasan geologi terbesar di Asia Tenggara dan terlengkap di dunia. Bahkan, kawasan itu telah menjadi cagar alam geologi nasional.

Yang didapati batuan hasil proses kebumian batu beku seperti basal, granit, gabro, andesit, diabas dan dasit. Selain itu, ada pula batuan sedimen yang meliputi rijang, konglomerat, batu pasir, gamping merah dan kalkarenit.

Adapun batuan metamorf terdiri dari kuarsit, serpenit, sekis mika, filit, karmer dan gnels. Batuan purba itu tercipta antara 120-60 juta tahun yang lalu.(*)
Powered by Blogger.