Keinginan yang Membelenggu

Yang paling gampang dijadikan contoh adalah saat seorang pimpinan yang menginginkan sesuatu, tapi mendapat jawaban tidak bisa dari anak buahnya. Argumen selogis apapun selama muaranya tidak bisa memenuhi keinginannya, tidak akan didengar.
Keinginan yang Membelenggu
Kang Juki
www.inikebumen.net DALAM BERBAGAI sudut pandang, keinginan dan kebutuhan seringkali merupakan dua hal yang berbeda, bahkan kadang bertolak belakang. Apa yang menjadi keinginan belum tentu merupakan kebutuhan. Ingin beli baju model terbaru, padahal sudah punya baju lebih dari satu almari penuh.

Keinginan beli baju jelas bukan merupakan kebutuhan. Badan sudah lelah, butuh istirahat, tapi ingin menonton pertandingan sepakbola Liga Inggris. Keinginan yang bertentangan dengan kebutuhan.

Dalam ajaran Islam, keinginan lebih dekat dengan istilah hawa nafsu. Allah SWT beberapa kali mengingatkan untuk tidak mengikuti hawa nafsu, seperti dalam surat Al-Jaatsiyah ayat 23,

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutup atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk selain Allah?”

Menurut Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari, dalam Tafsir Ath-Thabari, sebagian ahli tafsir mengatakan, bahwa orang seperti itu, setiap menginginkan sesuatu pasti akan menurutinya. Karena hakekatnya orang seperti ini tidak beriman kepada Allah SWT, tidak mengharamkan sesuatu yang Dia haramkan, tidak pula menghalalkan sesuatu yang Dia halalkan.

Bagi orang seperti itu, agama semata-mata hanyalah apa yang disukai jiwanya, itulah yang ia lakukan. Istilah gaulnya "yang penting  happy".

Barangkali terlalu ekstrem untuk menyebut mempertuhankan hawa nafsu, yang sederhana dan lebih mudah dipahami, mungkin dikendalikan keinginannya. Orang yang sudah demikian kuat keinginannya, akan sulit menerima pendapat yang bertentangan dengan keinginannya.

Yang paling gampang dijadikan contoh adalah saat seorang pimpinan yang menginginkan sesuatu, tapi mendapat jawaban tidak bisa dari anak buahnya. Argumen selogis apapun selama muaranya tidak bisa memenuhi keinginannya, tidak akan didengar.

Dari sinilah kemudian muncul istilah asal bapak senang (ABS). Anak buah ditanya pimpinannya tidak menjawab dengan sebenarnya, melainkan sesuai jawaban yang diinginkan pimpinan.

Ada kalanya orang seolah-olah meminta saran, padahal sejatinya sedang mencari pembenaran atas tindakan yang sesuai dengan keinginannya. Berbagai saran yang didapatkannya tidak lagi dipertimbangkan baik buruknya atau keuntungan dan kerugiannya. Yang diperhatikan hanya memberikan dukungan atau tidak terhadap pemenuhan keinginannya.

Terlebih bila keinginan itu terkait dengan rasa kepada orang tertentu. Mencintai, mengidolakan atau memfigurkan seseorang bisa membutakan realita. Berbagai keburukan, bahkan yang sudah masuk kategori kejahatan, akan dicari-carikan rasionalisasi kewajarannya.

Sebaliknya membenci, merendahkan atau menganggap remeh seseorang, bisa memutarbalikan fakta. Berbagai kebaikan tak ada yang dipandang sebelah mata, semuanya dianggap buruk, tanpa mempedulikan pendapat yang berkebalikan dengan anggapannya.

Dalam sebuah hadis dari Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya

"Sayangilah maka kalian akan disayangi, dan ampunilah (kesalahan manusia) maka Allah akan mengampuni kesalahan kalian. Celakalah orang yang mendengarkan nasehat tapi tidak mau melaksanakannya. Celakalah orang-orang yang bersikukuh dalam kemaksiatan padahal mereka mengetahuinya." (HR Ahmad no. 6744)

Jika punya keinginan kuat terhadap sesuatu, dengarkanlah seksama pendapat yang mendukung dan menentang keinginan tersebut. Pertimbangkan baik-baik sebelum memutuskan. Jangan sampai keinginan itu membelenggu, mematikan akal pikiran. Agar tidak terjadi penyesalan, yang datangnya selalu terlambat.  Wallahu a'lam.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen
Powered by Blogger.