Keren! Wayang Golek Janeng Meriahkan Hari Jadi ke-390 Kabupaten Kebumen di Sruweng

Pagelaran wayang golek janeng mengambil lakon Raja Marmadi Masuk Islam dengan dalang Ki Sugito dari Desa Kaibon Kecamatan Ambal.
Keren! Wayang Golek Janeng Meriahkan Hari Jadi ke-390 Kabupaten Kebumen di Sruweng
Salah satu adegan dalam pagelaran wayang Golek Janeng oleh Ki Sugito dari Kaibon, Kecamatan Ambal.
www.inikebumen.net SRUWENG - Untuk pertama kalinya, wayang golek janeng dipentaskan pada rangkaian perayaan HUT ke-74 RI dan Hari Jadi ke-390 Kabupaten Kebumen. Pementasan gabungan dua kesenian tradisional itu digelar di Desa Karangsari, Kecamatan Sruweng, Selasa 27 Agustus 2019.

Pementasan ini sangat unik dan menyedot perhatian ribua warga setempat untuk menonton langsung. Wayang golek janeng adalah pementasan wayang golek yang diiringi tembang-tembang jamjaneng dari Paguyuban Seni Tradisional desa setempat pimpinan BE Susilohadi SPd.

"Pagelaran wayang golek janeng ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan dua kesenian tradisional. Yang merupakan aset kesenian di Kabupaten Kebumen," ujar BE Susilohadi, Jumat, 30 Agustus 2019.

Menurutnya, kedua kesenian itu kemudian dijadikan satu kemasan golek janeng. "Yang harapannya menjadi dikenal akrab bagi warga masyarakat Kebumen," ucapnya.

Pagelaran wayang golek janeng mengambil lakon Raja Marmadi Masuk Islam dengan dalang Ki Sugito dari Desa Kaibon Kecamatan Ambal.

Golek Janeng ini sengaja dipentaskan atas inisiatif dari Ketua RT 01 RW 01 Desa Karangsari Kecamatan Sruweng, Tusiyam. Tusiyam mengatakan pementasan dua kolaborasi itu untuk nguri-uri seni tradisional.

"Kalih ngge nyenengaken warga, khususe  warga RT 01 RW 01, lan umume warga Desa Karangsari. (Sekalian untuk menghibur warga, khususnya warga RT 01 RW 01 lan umumnya warga Desa Karangsari)," kata Tusiyam, yang juga sebagai penyandang dana utama pada acara tersebut.

Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, mengapresiasi inovasi yang dilakukan warga setempat.

"Ini merupakan langkah inovasi yang patut diapresiasi. Setidaknya ada dua jenis kesenian tradisional yang secara bersama-sama dikuatkan keberadaannya. Keduanya sebenarnya sama-sama kesenian yang bernafaskan keislaman," bebernya.(*)
Powered by Blogger.