Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim

Momentum Idul Adha bisa menjadi sarana menyamakan prinsip dalam keluarga, agar bisa seperti keluarga Nabi Ibrahim as. Sehingga meski tidak sedang berkumpul, saat menghadapi suatu masalah akan mengambil sikap yang sama, karena didasari prinsip yang sama pula.
Meneladani Keluarga Nabi Ibrahim
Kang Juki
www.inikebumen.net IDUL ADHA yang baru kita rayakan, tak semata menjadi momentum interaksi lintas sosial kaya-miskin melalui ibadah kurban, tapi juga menyajikan banyak pelajaran bagi umat Islam. Pelajaran yang bisa diambil semua kalangan, tak peduli strata sosialnya bahkan yang beda agama sekalipun, adalah keberhasilan Nabi Ibrahim as dalam membangun kesamaan persepsi keluarga tentang menjalankan perintah Allah Swt.

Sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran surat Ash Shafat ayat 100-111, perintah Allah Swt kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as, tidak seketika langsung dipahami dan dilaksanakan. Selain perlu meyakinkan diri bahwa itu benar-benar perintah Allah Swt, Nabi Ibrahim as juga meminta pendapat putranya, Nabi Ismail as.

Setelah meyakini bahwa hal itu memang merupakan perintah Allah Swt, maka bulatlah rencana Nabi Ibrahim as, untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail as. Upaya syaitan untuk menggagalkannya, dengan menggoda ketiganya secara terpisah, tak membawa hasil. Baik Nabi Ibrahim as, Nabi Ismail as maupun Hajar, mempunyai persepsi yang sama, bahwa bila itu perintah Allah Swt, bagaimanapun beratnya harus dilaksanakan.

Bagi yang sudah berkeluarga, tentu pernah merasakan perbedaan pendapat internal keluarga, antara ayah, ibu dan anak. Jika perbedaan itu sekadar selera makan, minat yang berlainan atau hobi yang tidak sama, tidak terlalu berdampak serius, karena itu memang sesuatu yang manusiawi.

Persoalan terjadi, ketika perbedaan itu menyangkut sesuatu yang prinsip dan mendasar, yang hak dan yang batil. Karena Allah Swt melarang mencampur-adukkan keduanya. Firman Allah Swt,  “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah:42).

Prinsip seseorang akan tampak ketika terjadi masalah. Meski dididik dalam lingkungan kehidupan beragama yang sama, tak selalu membuat prinsip yang dimiliki sama. Misalnya dalam sebuah keluarga ada seorang yang mengeluhkan kehilangan uang. Akan ada yang meremehkan peristiwa tersebut hanya dengan menilai nominal yang hilang. Merasa bisa mengganti, menganggap masalah itu tak perlu dibahas.

Beda dengan yang menilai peristiwa tersebut dari pesan Rasulullah SAW,  "Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR Bukhori dari Abu Hurairah ra no. 4650 dishahihkan ijmak ulama).

Berapapun yang hilang, meski punya kerabat mencuri tetap haram, dan harus ada ketegasan untuk menegakkan prinsip tersebut dalam keluarga.

Sehingga ketika terjadi perbedaan prinsip tersebut, mana yang kemudian dominan, akan menggambarkan kondisi keluarga tersebut di masa depan. Jika lebih dominan mereka yang menanggapi kehilangan uang hanya dari nominalnya, maka suatu saat ada kehormatan anggota keluarganya yang terganggu juga akan diabaikan, karena tak ada nilai nominal yang pasti dari kehormatan seseorang. Pelan tapi pasti, kehormatan keluarga kemudian bisa tak dihargai lagi di tengah masyarakat.  Naudzu billahi min dzaalik.

Sebelum segalanya terlambat, momentum Idul Adha bisa menjadi sarana menyamakan prinsip dalam keluarga, agar bisa seperti keluarga Nabi Ibrahim as. Sehingga meski tidak sedang berkumpul, saat menghadapi suatu masalah akan mengambil sikap yang sama, karena didasari prinsip yang sama pula. Perintah Allah Swt dilaksanakan sesuai kemampuan, dan larangan-Nya dihindari sejauh mungkin. Insya Allah bisa menjadi keluarga yang  sakinah mawaddah warahmah. Semoga.(*)

Kang Juki 
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.