Persentase Penduduk Miskin dan Potensi Kebumen

Peringkat persentase penduduk miskin ini yang membuat Kabupaten Kebumen dijuluki daerah termiskin. Padahal sebenarnya, Kebumen merupakan daerah yang kaya dengan potensi, namun belum tertangani dengan baik.
Persentase Penduduk Miskin dan Potensi Kebumen
Bambang Priyambodo
www.inikebumen.net DATA BIRO Pusat Statistik yang terakhir dirilis (September 2018), Kabupaten Kebumen mempunyai penduduk miskin berjumlah 208.660 jiwa. Urutan ketiga setelah Kabupaten Brebes (309.170) dan Kabupaten Banyumas (226.230). Sedangkan jumlah penduduk miskin Jawa Tengah 3.897.200.

Jika dilihat dari persentasenya, penduduk miskin Kabupaten Kebumen sebesar 17,47 persen. Peringkat kedua di Jawa Tengah, setelah Kabupaten Wonosobo (17,58 persen). Jawa Tengah sendiri persentase penduduk miskinnya sebesar 11,32 persen.

Peringkat persentase penduduk miskin ini yang membuat Kabupaten Kebumen dijuluki daerah termiskin. Padahal sebenarnya, Kebumen merupakan daerah yang kaya dengan potensi, namun belum tertangani dengan baik.

Sebagai contoh, beberapa produk pertanian Kebumen sebenarnya sudah menarik minat pabrikan, tapi belum ditindaklanjuti dengan serius oleh Pemkab Kebumen, khususnya organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Misalnya bengkowang, pemilik industri kosmetik PT Mustika Ratu Indonesia, Martha Tilaar, sejak dulu membutuhkan bengkowang, untuk bahan baku kosmetik.

Sayangnya kadar air bengkowang Kebumen masih terlalu tinggi, perlu sedikit sentuhan teknologi. Kondisi seperti ini tidak ada yang menindaklanjuti, sehingga akhirnya bengkowang dari daerah lain yang digunakan.

Produk pengolahan hasil pertanian yang juga potensial adalah oyek.

Tim dari BPPT yang terdiri dari seorang profesor dan empat orang doktor, pernah meneliti dan kemudian merekomendasikan oyek untuk dipabrikasi. Karena oyek Karanggayam memang istimewa. Setahun disimpan, tidak berubah rasa dan warnanya, serta tidak berkutu.

Pabrik oyek tak harus dibuat dalam skala besar, dengan skala kecil asal bisa berproduksi secara kontinyu, bisa untuk diekspor. Karena oyek cocok dimakan orang yang sakit gula (diabetes melitus). Namun sampai saat ini juga belum ada yang menindaklanjuti informasi tersebut.

Dengan beragamnya potensi yang ada di Kebumen, langkah efektif untuk mengurangi kemiskinan antara lain bisa dengan memperluas kesempatan usaha, meningkatkan kualitas hasil usaha dan membantu pemasaran.

Jika banyak penduduk yang membuka usaha dan usahanya ternyata prospektif, semestinya akan ikut memberi keuntungan bagi masyarakat sekitarnya. Setiap usaha yang berkembang, selain membuka kesempatan kerja juga akan membuka peluang usaha baru.

Di sini perlunya Pemkab Kebumen, khususnya OPD terkait, untuk aktif membina dan mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pembinaan dimaksud tidak mungkin hanya dilakukan sesaat, melainkan terus menerus.

Bukan hanya terhadap pelaku UMKM tertentu, tapi juga calon dan pelaku UMKM baru.

Bila potensi tersebut terus dibiarkan, bukan tidak mungkin, pertumbuhan penduduk Kebumen bisa identik dengan perkembangan jumlah penduduk miskin. Apa mau seperti itu terus?(*)

Bambang Priyambodo
Penulis adalah pembina Komunitas LDSK (Lebih Dari Sekedar Kebumen)
Powered by Blogger.