Tak Selamanya Diam itu Emas

Oleh: Kang Juki

Bayangkan bila terjadi pencopetan, penjambretan atau tindak kriminal lainnya, semua yang melihat hanya diam. Tidak ada yang berteriak, apalagi mencegah, dengan dalih bukan aparat, apa yang bakal terjadi?
Tak Selamanya Diam itu Emas
Kang Juki
www.inikebumen.net SERING kali orang menggunakan ungkapan "diam itu emas" untuk membenarkan sikap diamnya dalam menghadapi sebuah situasi. Jika dicaci-maki, diolok-olok atau dibully banyak orang, kita diam saja, bisa jadi ungkapan itu benar.

Namun bila di depan mata kita terjadi kemungkaran, diam kita tak bernilai emas. Bisa-bisa kita termasuk bagian dari pelaku kemungkaran, atau setidaknya melakukan pembiaran terhadap perilaku mungkar.

Bayangkan bila terjadi pencopetan, penjambretan atau tindak kriminal lainnya, semua yang melihat hanya diam. Tidak ada yang berteriak, apalagi mencegah, dengan dalih bukan aparat, apa yang bakal terjadi?

Dalam sebuah hadis dari Thariq bin Syihab, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR Muslim no. 70 dishahihkan ijmak ulama).

Mencegah dengan hati, berdoa agar kemungkaran itu sirna merupakan representasi tindakan berlatar belakang iman yang paling lemah. Padahal mencegah dengan hati belum tentu dilakukan oleh orang yang diam saat melihat kemungkaran.

Bisa jadi orang diam melihat kemungkaran karena memang tak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Atau merasa tak kenal dengan korban dan berbagai latar belakang lainnya yang tak mengindikasikan adanya pencegahan dengan hati.

Di lingkungan lembaga pendidikan sekalipun, bisa dirasakan saat terjadi kemungkaran mayoritas cenderung memilih untuk diam. Kalaupun bersuara hanya di belakang.

Apakah bila ada siswa menyontek saat ujian, siswa lain yang melihat berani menegur? Bahkan bila melaporkan temannya yang menyontek sekalipun, belum tentu tindakan siswa tersebut diapresiasi guru dan teman-temannya yang lain.

Pada tahun 2016, seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) Ernan Rustiadi, pernah mengeluhkan anaknya yang dibully teman-temannya karena menolak menerima bocoran jawaban soal Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Itu baru dalam masalah yang mungkin dianggap "sepele", kejujuran dalam mengerjakan ujian. Belum terhadap masalah yang lebih besar. Posisi guru yang secara psikologis dominan terhadap siswa-siswinya, bila tidak diiringi kontrol berpotensi terjadi penyimpangan. Bukankah tidak sekali dua ada saja berita oknum guru yang bertindak cabul terhadap muridnya?

Tentu tidak mungkin menyerahkan semua tindakan terhadap penyimpangan yang terjadi di lembaga pendidikan seperti sekolah kepada polisi. Sebagai lembaga pendidikan yang juga memiliki otonomi, tentunya setiap sekolah mempunyai mekanisme kontrol terhadap berbagai kemungkinan tersebut. Sehingga jangan sampai sivitas dari sebuah lembaga pendidikan dibuat terkejut karena ada salah seorang oknumnya yang mendadak diamankan polisi.

Jika ada perbuatan mungkar semua yang melihat hanya diam, atau pura-pura tidak melihat, maka pelaku kemungkaran merasa tak bakal tersentuh hukum sehingga bisa makin merajalela. Dalam situasi seperti itu bisa disebut, diam semakin memperburuk keadaan, tak bisa disetarakan dengan emas.

Karena itu dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda,  "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam." (HR Bukhari no. 5673 dishahihkan ijmak ulama).

Hadis tersebut ikut menegaskan, diam merupakan alternatif terakhir, bukan alternatif terbaik. Padahal umat Islam dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan  (fastabiqul khairat).

Berusahalah untuk selalu mengingatkan dengan kata-kata yang baik, kalau tidak bisa baru berdoa dalam hati dan diam. Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.