Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Historis Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat di Karanganyar

"...Dua tahun kemudian dibangun sebuah rumah sakit pribumi atas inisiatif Bupati Karanganyar untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan masyarakat Karanganyar tahun 1919..."
Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Historis Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat di Karanganyar
Teguh Hindarto bersama istri dan koleganya
www.inikebumen.net SEBUAH bangunan puskesmas baru yang dibangun pada 2018 lalu berdiri di tepian jalan yang tidak begitu ramai dilewati kendaraan. Namanya Puskesmas Karanganyar. Terletak di Jalan Sejahtera No 4 Karanganyar.

Dengan latar belakang areal pesawahan dan barisan bukit di selatan serta aliran air irigasi dari Bendungan Sindhoet melintasi kawasan puskesmas, menjadikannya sebagai lokasi yang diselimuti ketenangan dan keindahan.

Di samping gedung puskesmas baru (agak menjorok ke dalam) nampak sebuah bangunan tua berlabur putih dengan gaya Indische. Jika kita memasuki bangunan tua tersebut maka akan nampak selasar yang menghubungkan satu ruangan ke ruangan lain. Lengkungan khas Indische nampak di beberapa ruangan yang dilewati selasar bangunan. Demikian pula jika menelusuri hingga bangunan bagian belakang terdapat water toren (penampungan air) besar dan berusia tua.

Beberapa orang tua yang tinggal di Karanganyar masih mengenali nama dan keberfungsian bangunan tua bergaya Indische itu dengan sebutan Panti Raga Nirmala.
Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Historis Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat di Karanganyar
Bangunan Eks RS Nirmala yang sekarang menjadi Puskesmas Karanganyar
Salah satunya Mba Salip (92 tahun) warga Desa Plarangan Kecamatan Karanganyar, yang penulis wawancarai bulan Agustus lalu. Menurut ingatannya, panti tersebut dibangun tahun 1918 dan menjadi salah satu tempat bermain di masa kecilnya. Dalam ingatannya pula, pengendara ambulans pada waktu itu bernama Santaruna yang kemudian dilanjutkan oleh adiknya yang bernama Sankarja.

Jika kita mengkaji dokumen kolonial berupa koran-koran berbahasa Belanda, maka akan ditemui sejumlah data-data menarik perihal Panti Raga Nirmala. Sehingga kita dapat membuat bingkai narasi historis yang melengkapi sejumlah kesaksian lisan dan memori masyarakat khususnya generasi yang telah memasuki usia uzur.

Ziekenhuis Nirmala (rumah sakit Nirmala) inilah nama yang dikenal di era kolonial. Dalam sebuah artikel panjang dengan judul Indisch Dagboek (Buku Harian Hindia) yang dimuat koran Algemeen Handelsblad bertanggal 31 Juli 1925 ada sebuah petikan kalimat sbb, “Daarnast begint zich ook inlandsch iniatief teuiten en ik heb een heel aardig klein ziekenhuis gezien, geheel op inlandsch initiatief (van de regent) en met inlandsch middelen tot stand gebracht te Karang Anjar. Het was het eerste maar reeds niet meer het eenige, inlandsche hospitaal”

Terjemahan bebas:
“Ada juga inisiatif penduduk asli dan saya telah melihat rumah sakit kecil yang sangat bagus, sepenuhnya atas inisiatif penduduk asli (dari bupati) dan yang didirikan dengan sarana pribumi di Karang Anjar. Itu adalah rumah sakit pribumi pertama sekalipun bukan satu-satunya”
Ziekenhuis Nirmala (RS Nirmala): Monumen Historis Kemandirian Perawatan Kesehatan Masyarakat di Karanganyar
Lorong bekas rumah sakit Karanganyar
Ada tiga kata kunci yang menarik dikaji secara lebih mendalam yaitu: Pertama, rumah sakit kecil ini dibangun oleh “inisiatif pribumi dalam hal ini bupati” (inlandsch initiatief (van de regent). Kedua, dibangun dengan sarana pribumi Karanganyar (en met inlandsch middelen tot stand gebracht te Karang Anjar). Ketiga, keberadaan rumah sakit ini adalah rumah sakit pribumi (inlandsche hospitaal) yang pertama sekalipun bukan satu-satunya.

Sebelum tanggal 1 Januari 1936, Karang Anjar (Karanganyar) adalah sebuah kabupaten (regentschapen) yang berdiri sendiri. Sebelum Karanganyar menjadi salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Kebumen, pasca Perang Jawa (1825-1830), salah satu Kadipaten yang dahulunya bernama Roma (masuk wilayah Kesultanan Yogyakarta) pada tahun 1841 diubah oleh Belanda menjadi Regentschapen Karang-anjar.

Dalam laporan koran, De Locomotief  bertanggal 21 Maret 1874, disebutkan bahwa Regentschap Karanganyar memiliki sejumlah distrik, yaitu Karanganyar, Gombong, Soka, Petanahan, Puring, Karangbolong. Pertanyaannya adalah, bupati siapa yang berinisiatif melakukan pembangunan Ziekenhuis Nirmala (rumah sakit Nirmala) atau Panti Raga Nirmala?

Inisiator dan Pendiri Rumah Sakit Nirmala

Untuk mendapatkan kepastian siapa nama bupati yang berinisiatif membangun rumah sakit pribumi ini, kita harus mendapatkan kepastian tahun rumah sakit ini didirikan. Menurut sebuah artikel dengan judul, Het Inlandsen Ziekenhuis "Nirmala" te Karang-Anjar (Rumah Sakit Pribumi "Nirmala" di Karang-Anjar) yang diterbitkan Bataviaasch nieuwsblad bertanggal 10 Juli 1925 didapati sebuah keterangan lengkap dan panjang lebar perihal nama bupati yang berinisiatif membangun sekaligus meresmikannya.

Artikel tersebut dibuka dengan kalimat, “Den arbeid van wijlen zijn vader en ambtsvoorganger voortzettende, richtte de tegenwoordige regent van Karang-Anjar, Raden Toemengoeng Aria Iskandar Tirtokoesoemo,, den lsten Januari 1919 de Vereeniging ‘Nirmala’ op, waarvan het doel was "het vermeerderen van het vertrouwen der Inlandsche Maatschappij in de Europeesche geneeskunde en het verleenen van hulp aan behoeftige zieken en gewonden".

Terjemahan bebas:
“Melanjutkan pekerjaan almarhum ayah dan pembimbingnya, bupati Karang-Anjar saat ini, yaitu Raden Toemengoeng Aria Iskandar Tirtokoesoemo, pada bulan Januari 1919 mendirikan Asosiasi ‘Nirmala’, yang bertujuan “untuk meningkatkan kepercayaan Masyarakat/Komunitas Pribumi dalam pengobatan Eropa dan memberikan bantuan untuk orang sakit serta mengalami luka”



Raden Tumenggung Aria Iskandar Tirtokusumo adalah bupati ketiga yang memimpin di Karanganyar. Bupati pertama bernama K.R.M.A.A. Djodjodiningrat dan bupati kedua bernama Raden Adipati Ario Tirtokoesoemo. Saya telah menulis mengenai kisah ringkas R.A.A. Tirtokoesoemo yang bukan hanya seorang Bupati Karanganyar namun juga Ketua Boedi Oetomo pertama hasil Kongres Yogyakarta (Teguh Hindarto, Mengenang Tirtoekoesoemo: Ketua Boedi Oetomo Pertama - https://www.qureta.com/post/mengenang-tirtokoesoemo).

Tarikh Pendirian Rumah Sakit Nirmala

Artikel yang dikutip di atas secara lebih detail menuliskan tarikh pendirian rumah sakit sbb,
“Zooals gezegd, "Nirmala"  werd gesticht op 1 Januari 1919; eerst op 3 December 1922 kon de eerste steenlegging voor het hospitaal plaatshebben, terwijl op 15 Juni 1924 de opening volgde en de vrouwen-zaal op 30 April 1925 kon worden ingewijd”

Terjemahan bebas:
Seperti yang telah dijelaskan, "Nirmala" didirikan pada 1 Januari 1919; namun peletakkan batu pertama untuk rumah sakit baru dapat dilakukan pada 3 Desember 1922, sementara pembukaan dilakukan pada 15 Juni 1924 dan disusul aula wanita diresmikan pada 30 April 1925”

Keterangan Mbah Salib dan keterangan koran selisih satu tahun. Namun detail tanggal dan bulan serta tahun yang disajikan koran nampaknya lebih dapat dijadikan rujukan akurat perihal tarikh pendirian rumah sakit.

Filosofi dan Tujuan Pendirian Rumah Sakit Nirmala

Setiap nama yang disematkan disebuah organisasi tentu memiliki tujuan-tujuan filosofis di dalamnya. Demikian pula dengan Rumah Sakit Nirmala. Masih berdasarkan keterangan dalam artikel yang dikutip sebelumnya bahwa ada sejumlah tanaman (tidak disebutkan namanya) yang tumbuh subur di Karangbolong sebagai hasil perawatan yang dilakukan oleh ayah Iskandar Tirtokoesoemo yaitu Ario Tirtokoesomo yang memiliki kepedulian terhadap pertanian pribumi.

Berlatar belakang perawatan yang baik itulah muncul sebuah inisiatif untuk diterapkan pada pemeliharaan kesehatan manusia sebagaimana dijelaskan, “Uit die overweging ontstond ‘Nirmala’, waarvan de beteekenis is: "het doen verdwijnen van ziekten en kwalen", terwijl het ook zeggen wil: “een voor duizend, duizend voor één!”

Terjemahan bebas:
“Dari pertimbangan itu muncul ‘Nirmala’, artinya adalah ’lenyapnya penyakit dan gangguan’ namun juga bermakna, "satu untuk seribu, seribu untuk satu!"
Dalam sebuah artikel lain berjudul, De vereeniging "Nirmala" yang diterbitkan koran De Sumatra post  bertanggal 22 Maret 1921 dijelaskan dan ditekankan tujuan pendirian rumah sakit oleh yayasan ini yaitu, “Hier ter plaatse werd, zooals u wellicht reeds ter oore kwam, opgericht de vereeniging "Nirmala", ten doel hebbende, tegemoet te komen aan de behoefte aan geneeskundige iuip en het verivouwen in de Europeescne geneesmethoden te bevorderen”.

Terjemahan bebas:
“Di sini, di tempat sebagaimana yang mungkin telah Anda dengar sebelumnya bahwa asosiasi/yayasan ‘Nirmala’ didirikan untuk memenuhi kebutuhan akan perawatan medis dan untuk mempromosikan penyembuhan dengan metode pengobatan Eropa”

Biaya Pembangunan Rumah Sakit Nirmala
Perihal pembiayaan pembangunan rumah sakit dijelaskan dalam artikel tersebut, “De bouwkosten van het ziekenhuis plus inventaris bedragen florin 90.000, waarvoor door de Regeering een som van f 45.950 werd bijgedragen, zoodat de vereeniging — op f  950 na — de helft heeft betaald”

Terjemahan bebas:
“Biaya konstruksi rumah sakit ditambah jumlah persediaan mencapai 90.000 florin, dimana Pemerintah menyumbang sebesar 45.950 florin, sehingga yayasan - kecuali yang 950 florin - membayar setengahnya”
Pemerintahan Hindia Belanda namaknya memberikan dukungan yang besar terhadap pendirian rumah sakit pribumi ini. Namun demikian sebagian pembiayaan tetap dikeluarkan dan ditanggung oleh perusahaan pribumi ini.

Biaya Operasional dan Sumber Pembiayaan Rumah Sakit Nirmala

Perihal biaya operasional rumah sakit diperoleh keterangan sbb, “De exploitatie van het ziekenhuis kost per maand f 1200, waarvan aan den administrateur, het verplegend en bedienend personeel wordt betaald florin 542.50. Van den datum der opening, 15 Juni, af tot en met 31 December 1924 bedroeg het aantal verpleegden 458, het totaal aantal verpleegdagen 7.937 en het bedrag der exploitatiekosten f 7.857.02, dus gemiddeld per patiënt f 0.99. Het aantal patiënten aan de polikliniek bedroeg 4.110 het aantal consulten 12.064”

Terjemahan bebas:
“Biaya operasional rumah sakit sebesar 1200 florin per bulan, di mana 542,50 florin dibayarkan untuk administrator, staf perawat dan staf pembantu. Dari tanggal pembukaannya yaitu 15 Juni hingga 31 Desember 1924, jumlah perawat ada 458 orang, dengan jumlah total hari perawatan sebanyak 7.937 dan jumlah biaya operasional sebanyak 7.857,02 florin sehingga biaya rata-rata per pasien adalah 0,99 florin. Jumlah pasien di klinik rawat jalan adalah 4.110 orang dan jumlah pasien yang berkonsultasi sebanyak 12.064 orang”

Melihat jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan di atas, kita dapat membayangkan nilai penting rumah sakit dalam melayani kebutuhan masyarakat Karanganyar tahun 1925-an.

 Jika di Kabupaten Kebumen tahun 1915 (diresmikan 1 januari 1916) telah berdiri sebuah rumah sakit yang dirikan oleh De Zendingsarbeid der Friesche Gereformeed Kerken alias Badan Misi dari Gereja Reformasi (Teguh Hindarto, Membaca Sejarah Dibalik Debu Bangunan RSUD (Lama) Kebumen- http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2019/06/membaca-sejarah-dibalik-debu-bangunan.html) maka di Karanganyar dua tahun kemudian dibangun sebuah rumah sakit pribumi atas inisiatif Bupati Karanganyar untuk memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan masyarakat Karanganyar tahun 1919.

Melihat akar historis keberadaan Puskesmas Karanganyar yang dahulunya bernama Ziekenhuis Nirmala atau Panti Raga Nirmala yang berjaya sejak tahun 1919, maka bangunan rumah sakit ini bukan hanya harus mempertahankan pelayanannya pada masyarakat melainkan turut menjaga dan merawat artefak bangunannya menjadi sebuah monumen historis kemandirian dalam menyediakan jasa kesehatan masyarakat.(*)

Teguh Hindarto
Peminat Kajian Sosial, Budaya, Sejarah
Powered by Blogger.