Demo Mahasiswa dan Pembangunan Kebumen

Oleh : Aris Setiawan Yodi

Para calon kandidat bupati, mulai saat ini sudah harus berfikir untuk menempatkan pemuda dalam pos-pos strategis. Misalnya dengan menempatkan menjadi tim kampanye kreatif, juru kampanye milenial. Atau bahkan mendorong pemuda untuk ikut menjadi salah satu peserta proses politik lima tahunan tersebut.
Demo Mahasiswa dan Pembangunan Kebumen
Aris Setiawan Yodi
www.inikebumen.net DEMONSTRASI besar-besaran mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia beberapa pekan lalu bisa dibilang kembali menggugah ingatan masyarakat Indonesia bahwa pemuda benar-benar menjadi agen perubahan.

Tuntutan demonstrasi mahasiswa yang berdemo agar Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) ditunda pun akhirnya dikabulkan. Rencananya, pengesahan RKUHP baru akan dilakukan pada periode DPR RI 2019-2024 dengan mengkaji ulang beberapa poin yang menjadi "pemicu" demo mahasiswa tersebut.

Sejarah mencatat, mahasiswa pernah tampil dalam panggung perubahan rezim politik di Indonesia. Mulai dari pra-kemerdekaan dengan Boedi Oetomonya, kemudian tahun 1965, hingga reformasi 1998. Mahasiswa bak menjadi "pedang" milik rakyat yang ingin bangsanya berubah menjadi lebih baik.

Kuatnya power demonstrasi mahasiswa seringkali membuat para pengambil kebijakan harus mendengar dan menuruti tuntutan mahasiswa. Tidak hanya di Indonesia, hal yang sama juga terjadi di Hong Kong, sebuah wilayah otonomi khusus di China yang hendak mensahkan UU Ekstradiksi.

Sejak Juni 2019, masyarakat Hong Kong dengan dipimpin oleh para mahasiswa menuntut pembatalan UU Ekstradiksi. Menariknya, tuntutan tersebut akhirnya dibatalkan oleh pemerintah setempat.

Ada yang menarik di antara dua kejadian demonstrasi mahasiswa di Indonesia dan Hong Kong. Keduanya mempunyai beberapa kemiripan, misalnya cara yang digunakan untuk menarik simpati masyarakat yang sangat kreatif. Di Indonesia, demo mahasiswa dipenuhi dengan kalimat-kalimat lucu yang bermakna sindiran, seperti  "Cukup Cintaku Yang Direvisi, KUHP Jangan" atau "Entah Apa yang Merasukimu DPR".

Sedangkan di Hong Kong, demo mahasiswa justru diisi dengan flashmob (menari) hingga menggelar pertunjukan laser sebagai sarana menyampaikan pesan bahwa rakyat menolak UU Ekstradisi. Hasilnya, masyarakat yang sebelumnya tidak tertarik dengan gerakan politik akhirnya mendadak menjadi tertarik membahas soal politik.

Besar kemungkinan, ketertarikan masyarakat terjadi karena adanya perbedaan pola aksi yang lebih kreatif dan berbeda dengan aksi-aksi sebelumnya yang cenderung serius dan menjenuhkan.

Ilmuwan politik AS, Lucian Pye dalam buku berjudul "Teori Perbandingan Politik" pernah menjelaskan, bahwa seluruh proses-proses sosial dapat dianalisis dalam pengertian struktur, kandungan, dan aliran komunikasi. Komunikasi itu lantas meresapi hubungan-hubungan manusia dengan pesan-pesan yang sengaja maupun tidak disengaja.

Dalam hal ini, kita bisa menilai bahwa baik mahasiswa di Indonesia dan Hong Kong, sama sama berhasil membangun struktur atau aliran komunikasi yang membuat masyarakat mau terlibat dalam proses-proses sosial yang ada.

Masyarakat yang tadinya tidak peduli terhadap proses pengambilan kebijakan di eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPR), mendadak menjadi tertarik membahas politik, suatu sinyal positif dalam proses pembangunan iklim demokrasi di Indonesia. Suatu iklim yang memungkinkan rakyat boleh turut campur tangan terhadap urusan politik dan pengambilan kebijakan.

Kebumen dan Anak Muda

Kreatifitas, semangat, dan kecerdasan anak muda yang tergambar dari demonstrasi mahasiswa di beberapa kota besar di Indonesia dan Hong Kong beberapa waktu lalu setidaknya bisa ditiru di Kebumen.

Tentu saja bukan demonstrasinya, melainkan kreatifitas, semangat, dan cara mereka menarik perhatian masyarakat untuk terlibat dalam proses politik dan pengambilan kebijakan.

Momentum pelibatan pemuda dalam proses politik di Kebumen bisa dimulai dengan melibatkan pemuda dalam berbagai proses pemilihan bupati yang akan dihelat 2020 mendatang. Para calon kandidat bupati, mulai saat ini sudah harus berfikir untuk menempatkan pemuda dalam pos-pos strategis.

Misalnya dengan menempatkan pemuda menjadi tim kampanye kreatif, juru kampanye milenial atau bahkan mendorong pemuda untuk ikut menjadi salah satu peserta proses politik lima tahunan tersebut.

Hal tersebut penting dilakukan apalagi menjelang bonus demografi yang akan terjadi beberapa tahun mendatang. Toh, kaum muda Kebumen sudah terbukti mempunyai kreatifitas dan semangat yang luar biasa.

Banyak pemuda Kebumen yang berhasil mengelola tempat wisata, mengelola usaha kreatif, atau bahkan mengelola klub olah raga bertaraf nasional.
Disamping itu, ide kreatif pemuda juga sudah terbukti mampu membuat orang tertarik untuk terlibat dalam proses politik dan pembangunan. Tujuannya satu, meningkatkan kesejahteraan “Wong Bumen”.(*)

Aris Setiawan Yodi
Warga Desa Redisari, Kecamatan Rowokele
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Indonesia
Powered by Blogger.