Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka

Oleh: Teguh Hindarto

Nama Sokka tidak dapat dilepaskan dari produk genting dan genting Sokka tidak dapat dilepaskan dari profil seorang pengusaha pribumi di era kolonial bernama Haji Aboengamar. Siapakah Aboengamar? 
Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka
Haji Aboengamar
www.inikebumen.net JIKA kita berkendara dengan sarana transportasi kereta api melewati Stasiun Kebumen maka akan melewati sebuah stasiun kecil bernama Sokka. Di dekat kawasan stasiun Sokka hingga stasiun Kebumen kita akan melihat sejumlah tobong pembakaran genting yang khas.

Saat kendaraan bermotor belum menjadi komoditas transportasi yang dapat dibeli semua lapisan masyarakat, pagi hari biasanya ramai laki-laki perempuan mengayuh sepeda menuju kawasan Sokka. Bukan hanya anak-anak sekolah melainkan mereka para buruh yang bekerja di sejumlah pabrik genting tersebut.

Nama Sokka tidak dapat dilepaskan dari produk genting dan genting Sokka tidak dapat dilepaskan dari profil seorang pengusaha pribumi di era kolonial bernama Haji Aboengamar. Siapakah Aboengamar? Apa yang dapat kita ketahui dari Aboengamar, seorang pelaku usaha industri genting di era kolonial?

Dari hasil pengkajian sejumlah iklan surat kabar berbahasa Belanda perihal keberadaan industri pembuatan genting di distrik Sokka, Kabupaten Kebumen, sudah terdeteksi sejak tahun 1915. Dalam sebuah laporan pendek di surat kabar berbunyi Bataviaasch Nieuwsblad bertanggal 30 Oktober 1915 berbunyi, “Als maar Dakpannen. De dienst der pest bestrijding te Solo sloot met de pannenfabriek te Sokka een contract voor de levering van zestigduizend pannen wekelijks” (Mengenai Atap Genting. Pelayanan Anti Kerusakkan di Solo menandatangai kontrak dengan pabrik pembakaran genting di Sokka untuk memenuhi pasokan kebutuhan enam puluh ribu genting dalam seminggu).

Tarikh awal nama pribumi yang muncul dalam iklan koran berbahasa Belanda adalah Aboengamar sebagaimana termuat dalam koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie tanggal 29 Agustus 1917 dengan judul iklan, “De Klei Uit De Loopgraven van Sokka” (Tanah Liat dari Parit Sawah Sokka). Dalam iklan tersebut disebutkan bahwa Aboengamar mampu menyediakan 500.000 dakpannen (genting) dan 1.000.000 baksteenen (batu bata).
Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka
koran Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie
Bahkan untuk pembelian tertentu mendapat pelayanan franco waggon Sokka (pengiriman gratis dengan gerobag Sokka). Iklan genting dan batu bata yang diproduksi Aboengamar muncul sepanjang tahun 1917-1930 dst di berbagai koran berbahasa Belanda. Adapun pengusaha pribumi lain tidak terlacak, atau memang hanya Aboengamar satu-satunya pengusaha genting pribumi saat itu.
Het Nieuws van den dag voor Nederlandsche Indie
Analisis terhadap sejumlah iklan bisnis genting Aboengamar tidak memberikan kita sebuah gambaran yang lengkap mengenai bisnis genting yang dijalankan Aboengamar. Namun dengan melakukan pembacaan dan analisis terhadap dua artikel di sebuah koran berbahasa Belanda, kita mendapatkan gambaran yang lebih lengkap bahwa Aboengamar bukan sekedar pebisnis genting lokal dari kalangan pribumi melainkan eksportir genting hingga ke luar negeri (Teguh Hindarto, Aboengamar, Eksportir Genting Pribumi dari Sokka: Dinamika Ekonomi Swasta Pribumi dan Swasta Belanda di Kebumen Era Kolonial - http://historyandlegacy-kebumen.blogspot.com/2019/06/aboengamar-eksportir-genting-pribumi.html).

Sebuah artikel berjudul, “Uit Zuid-West-Kedoe” (Berita Dari Barat Daya Kedoe) yang diterbitkan Bataviaasch Nieuwsblad bertanggal 17 Oktober 1919 melaporkan sebuah bisnis yang berkembang luar biasa di wilayah Kedu Barat yaitu di Kabupaten Kebumen distrik Sokka di mana nama Abengamar disebutkan. Bisnis Aboengamar berkembang di saat di sejumlah wilayah lain sedang mengalami kelesuan ekonomi dan sejumlah keluhan terhadap pembangunan oleh pemerintah kala itu. Dalam artikel tersebut dijelaskan sbb:

“Slechts In betrekkelijk engen kring Is het bekend, dat zich in den loop der jaren hier in Zuid-West Kïdoe  een Industrie heft gevormd, die beslist van beteekenls Is geworden. Wij bedoelen de pannenindustrie. Het centrum hiervan vormt het nabij Keboemen gelegen Sokka, waar een zekere hadji Aboengamar eigenaar is van een flinke steen- en pannenfabriek. Wij hebben hem deser dagen eens opgegocht en ontleenen aan zijn mededelingen het volgende:

Ongeveer dertig jaren geleden Is de vader van den tegenwoordigen eigenaar ter plaatse begonnen op zeer bescheiden voet met het bakken van pannen en steenen, waarvoor bij de benoodigde grondstoffen uit de onmiddellijke nabijheld betrok.

Zijn zoon beeft er ruim veertien jaren geleden een enorme uitbreiding aan gegeven en thans vinden orageveer 1.900 personen in dese industrie een middel van bestaan. In bet eerst vonden de artikelen slechts altrek In de naaste omgeving, maar thans is geheel Indie afzetgebied geworden, zoowel Deli als Ambon, ja, zelfs worden er zendingen naat Japan gestuurd.

Per maand worden er zoo tussehen de éé i en twee miliioen pannen verkocht. Dé grootste afnemers zijn de suikerfabrieken (het zondig kapitaal dus alweer —s.i.c) de S. S, de N,I,S. en vooral ook Deli. Het vervoer van de bakkeren naar de halte Sokka geschiedt met ongeveer tweehonderd grobaks  per dag worden tien a vijftien wagons pannen, zoowel als baksteenen, de wereld Ingezonden.

De pannen kosten momenieel f 1750 per mille, de baksteen, naargelang der rrootte 12 tot 14 gld per mille en de tegels 10 cent per stuk. De zoogenaamde wadaspotten, die In Kedoe zooveel worden aangetroffen, kunnen daar ook besteld worden”.

De Industrie neemt nog sleedt een grooter uitgebreidheid aan en is van teer groots neteekenls voor de bewoners van het district Sokka.

Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka
Bataviaasch Nieuwsblad bertanggal 17 Oktober 1919
Terjemahan bebas:
“Hanya dalam lingkungan yang terbatas. Diketahui bahwa selama bertahun-tahun di sini di Kïdoe Barat Daya sebuah Industri telah terbentuk yang pastinya menjadi signifikan. Yang kami maksud adalah industri pembakaran genting. Pusat dari industri ini adalah Sokka, yang terletak di dekat Keboemen, di mana seorang haji bernama Aboengamar memiliki pabrik batu bata dan genting yang besar. Kami pernah mengunjunginya di masa lalu dan mendapatkan keterangan berikut dari pernyataannya:

Kira-kira tiga puluh tahun yang lalu, ayah dari pemilik yang sekarang ini memulai di tempat ini dengan membuat genting dan batu, yang membutuhkan bahan baku dari wilayah terdekat yang terjangkau.

Putranya membuat ekspansi besar-besaran lebih dari empat belas tahun yang lalu, dan hari ini sekitar 1.900 orang menemukan penghasilan  di industri ini. Pada awalnya, usaha ini hanya menjangkau lingkungan mereka yang terdekat, tetapi sekarang semua Hindia telah menjadi pasar - baik Deli dan Ambon - ya, bahkan pesanan dikirim ke Jepang.

Setiap bulan antara satu dan dua juta genting dijual. Pembeli terbesar adalah pabrik gula .... yaitu ‘S.S’ dan ‘N, I, S’. dan terutama dari Deli. Transportasi dari tempat pembakaran ke halte Sokka berlangsung sekitar dua ratus grobak per hari, sepuluh hingga lima belas gerbong pengangkut genting, serta batu bata, dikirim ke dunia.

Genting saat ini harganya 1750 f per mille, batu bata -tergantung pada ukuran- 12 hingga 14 gld per mille dan ubin masing-masing 10 sen. Pot terbuat dari wadas, yang banyak ditemukan di Kedoe, juga dapat dipesan di sana.

Industri masih mengambil tingkat yang lebih besar dan sangat penting bagi penduduk distrik Sokka”.

Dari keterangan artikel tersebut kita melihat bahwa bisnia genting Aboengamar hanya melanjutkan bisnis genting ayahnya namun yang membedakan adalah, Aboengamar berhasil “een enorme uitbreiding aan gegeven” (melakukan ekspansi besar-besaran).

Ekspansi besar-besaran tersebut bukan hanya di kawasan Jawa melainkan luar Jawa hingga Deli, Ambon bahkan Jepang! Frasa, “zelfs worden er zendingen naat Japan gestuurd” (bahkan pesanan dikirim ke Jepang) dan “de wereld Ingezonden” (dikirim ke dunia) menjelaskan ekspansi bisnis Aboengamar yang bukan sekedar pebisnis lokal melainkan eksportir pribumi Kebumen pertama yang bisnisnya merambah dan menguasai pasar nasional dan internasional di era kolonial.
Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka
Rumah Aboengamar
Berita yang sama muncul kembali pada tahun 1920 melalui sebuah artikel berjudul, “Een groote Inlandsche Industrie” (Industri Besar Dalam Negeri) yang diterbitkan, Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië  bertanggal 17 Februari 1920. Berikut petikan artikelnya:

“Daar bezit een zekere hadji Aboengamar een flinke bakkerij, welke een dertigtal jaren geleden door zijn vader op bescheiden voet is begonnen...Steeds werd de zaak meer uitgebreid en thans vinden er ruim 1.600 menschen een flink middel van bestaan in. Kwamen de bestellingen eerst alleen uit de aangrenzende residenties, al spoedig werd het afzetgebied grooter en thans omvat dit niet alleen geheel Indië, ook Japan is er toe gaan behooren...Alleen dakpannen worden er per maand bij de twee millioen de wereld ingezonden”
Terjemahan bebas:
“Di sana ada Hadji Aboengamar yang memiliki tempat pembakaran besar, yang dimulai dengan sederhana oleh ayahnya sekitar tiga puluh tahun yang lalu...Sekitar empat belas tahun yang lalu, ketika dia mewarisi bisnis dari ayahnya, Hadji Aboengamar menunjukkan ekspansi penting, karena jumlah pesanan terus meningkat dan masih ada cukup pasokan bahan baku dari lingkungan sekitar...Bisnis menjadi semakin luas dan sekarang lebih dari 1.600 orang menemukannya sebagai sarana penghidupan. Awalnya, pesanan hanya datang dari tempat tinggal sekitar, namun segera area penjualan menjadi lebih besar dan sekarang ini tidak hanya mencakup seluruh Hindia, melainkan Jepang juga menjadi bagian dari bisnis tersebut....Hanya genteng yang dikirim ke dunia setiap bulan dengan harga dua juta”
Selain Aboengamar, pengusaha genting pribumi ada juga pengusaha genting orang Belanda bernama Mr. Schoon. Sebagaimana dilaporkan Koran Algemeen Handelsblad bertanggal 04 September 1920 bahwa Mr. Schoon adalah pemilik “Vereenigde Indische Tichelwerken" sebuah pabrik genting dan batu bata di Muara Ogan, Palembang namun sedang melakukan ekspansi besar hingga Sokka dan Kebumen bahkan Surabaya dan Rangkasbitung.

Koran Algemen Handelsblad menyitir berita dari Soerabaiasch Handelsblad sbb, “De gezamenlijke bakkerijen tusschen Keboemen en Sokka leveren thans maandelijks 2 millioen dakpannen en 1 millioen steenen en nog steeds is do aanvraag gro dan de productie” (Pabrik pembakaran antara Keboemen dan Sokka sekarang memasok 2 juta genteng dan 1 juta bata setiap bulan dan permintaan masih lebih besar dari produksi).
Mengenang Aboengamar dan Ekspansi Industri Genting Sokka
Rumah Aboengamar
Nampaknya tahun 1920-an kebutuhan genting dan bata begitu tinggi sehingga produksi belum mampu mengimbangi permintaan. “Vereenigde Indische Tichelwerken" juga terlibat kontrak dengan Australia untuk menyediakan”12 millioen dakpannen per jaar” (12 juta genting per tahun).

Keberadaan pabrik milik Mr. Schoon (sebagaimana milik Aboengamar) turut membantu perekonomian warga pribumi sekitar sebagaimana dikatakan, “Bij dat-bedrijf zijn ook vele Inlanders, als deelende in de winst, betrokken” (Banyak penduduk asli juga terlibat dalam perusahaan itu, termasuk menikmati hasil).

Di tengah serbuan produksi genting dengan teknologi modern, eksistensi industri genting Sokka masih memasok kebutuhan beberapa wilayah di dalam dan luar Kebumen. Industri genting di Sokka merupakan salah satu industri yang memiliki nilai historis yang diawali sejak era kolonial dan bertahan hingga kini. Selayaknya industri genting ini mendapatkan dukungan semua pihak agar tetap eksis memasok kebutuhan wilayah dalam dan luar Kebumen. Sebaliknya, para pelaku usaha mempertahankan kualitas genting ini sebagaimana kejayaan di era kolonial.

Nama Aboengamar layak mendapatkan penghormatan dengan menyematkannya menjadi nama jalan ataupun nama sebuah penghargaan terhadap pencapaian di bidang kewirausahaan (Aboengamar Award misalnya). Semoga.(*)

Teguh Hindarto
Peminat Kajian Sosial, Sejarah, Budaya
Powered by Blogger.