Jelang Akhir Tahun 2019, Baznas Kebumen Salurkan Zakat Rp 771,6 Juta

Penyaluran zakat Baznas Kebumen
Jelang Akhir Tahun 2019, Baznas Kebumen Salurkan Zakat Rp 771,6 Juta
Wabup Arif Sugiyanto secara simbolis menyerahkan bantuan
www.inikebumen.net PONCOWARNO - Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Kebumen melakukan pentasyarufan dana zakat, infaq dan shodaqoh (ZIS) pada tahap IV tahun 2019 sebesar Rp 771.620.000.

Secara simbolis pentasyarufan tersebut diserahkan oleh Wakil Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, kepada sejumlah perwakilan penerima (mustahiq) di Pendopo Kecamatan Poncowarno, Kamis, 12 Desember 2019.

Ketua Baznas Kabupaten Kebumen, Djatmiko, menjelaskan pentashorufan tahap IV tahun 2019 ini diberikan kepada mustahiq di tujuh kecamatan meliputi Kecamatan. Yakni Kecamatan Padureso, Prembun, Poncowarno, Kutowinangun, Mirit, Ambal dan Bonorowo.

Dana sebesar Rp 771.620.000, antara lain  disalurkan untuk bantuan kesehatan Rp 75 juta, penunjang kesehatan Rp 18,5 juta, pelayanan ambulans Rp 500 ribu. Kemudian, bantuan penunjang pendidikan Rp 6,8 juta, penunjang pendidikan anak SD/MI kurang mampu Rp 91,9 juta. Bantuan tunai Rp 172,5 juta, bedah rumah bagi 11 penerima total Rp 129 juta, ibnu sabli Rp 240 ribu, ghorim Rp 6,8 juta, bantuan torn Desa Tegalsari Rp 7,5 juta, bantuan sembako Rp 45,2 juta.

Selanjutnya, untuk asnaf sabilillah perorangan diberikan kepada 585 penerima sebesar Rp 146,2 juta dan sabilillah lembaga sebesar Rp 30 juta. Bantuan untuk pemberdayaan ekonomi produktif berupa dana bergulir sebesar Rp 18 juta, bantuan alat mesin jahit Rp 3,2 juta, papanisasi tanah wakaf Rp 15 juta dan biaya pentasyarufan Rp 5 juta.

Pada kesempatan itu, Djatmiko, menekankan bahwa pentasyarufan Baznas murni menjalankan syariat agama, tidak ada tendensi yang bersifat kepentingan pribadi, golongan maupun politik tertentu. "Sehingga Baznas selalu mengutamakan pentashorufan kepada asnaf yang tepat sasaran," tandas Djatmiko.

Wakil Bupati Arif Sugiyanto, mengatakan penyaluran zakat, infak dan shodaqoh bertujuan untuk membangun mental mandiri. Sehingga mustahik bisa menjadi muzakki.

"Bukan sekedar memberi ikan tanpa memahami bagaimana menggunakan kail. Ini menuntut kerja pemberdayaan umat, agar mampu membawa mereka pada kemandirian ekonomi," kata dia.(*)
Powered by Blogger.