Percaya Diri, Tapi Jangan Sampai Lupa Diri

Oleh: Kang Juki
Percaya Diri, Tapi Jangan Sampai Lupa Diri

Ilustrasi
www.inikebumen.net SYEKH Imam Al-Hafiz, Imaduddin Abul Fida Ismail ibnul Khatib Abu Hafs Umar ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang cukup terkenal, Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan tentang asbabun nuzul (sebab turunnya) surat Al Kahfi.

Merujuk riwayat dari Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Ishaq menceriterakan bahwa kaum kafir Quraisy mengutus dua orang, An-Nadr ibnul Haris dan Uqbah ibnu Abu Mu'h kepada seorang pendeta Yahudi yang alim di Madinah. Tujuannya adalah hendak mengetahui tanda-tanda kenabian Muhammad SAW yang bisa dipercaya.

Pendeta Yahudi itu menjawab, "Tanyakanlah oleh kalian kepada dia tentang tiga perkara yang akan kami terangkan ini. Jika dia dapat menja­wabnya, berarti dia benar-benar seorang nabi yang diutus. Tetapi jika dia tidak dapat menjawabnya, berarti dia adalah seseorang yang mengaku-aku dirinya menjadi nabi, saat itulah kalian dapat memilih pendapat sendiri terhadapnya."

Salah satu yang diminta untuk ditanyakan adalah tentang beberapa orang pemuda yang pergi meninggalkan kaumnya di masa silam, yang kemudian ditidurkan Allah SWT di dalam gua selama bertahun-tahun. Para pemuda itulah yang kemudian disebut Ashabul Kahfi.

Kaum Quraisy kemudian mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, "Hai Muham­mad, ceritakanlah kepada kami!" Lalu mereka menanyai Rasulullah SAW dengan per­tanyaan-pertanyaan yang dianjurkan oleh pendeta Yahudi tersebut.

Rasulullah SAW langsung menyatakan akan menceritakan jawaban dari pertanyaan kaum Quraisy itu besok, tanpa menentukan batas waktunya.

Mereka pun bubar meninggalkan Rasulullah SAW, dan selama lima belas hari ternyata belum ada wahyu dari Allah SWT yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Malaikat Jibril pun tidak turun selama itu, sehingga penduduk Mekah ramai membicarakannya.

Mereka mengatakan, "Muhammad telah menjanjikan kepada kita besok, tetapi sampai lima belas hari dia tidak menjawab sepatah kata pun tentang apa yang kami tanyakan kepadanya." Rasulullah SAW bersedih hati, wahyu terhenti dan beliau merasa berat terhadap apa yang diperbincangkan oleh pendu­duk Mekah tentang dirinya.
Tidak lama kemudian datanglah Malaikat Jibril menemui Nabi Muhammad SAW, membawa surat yang di dalamnya terkandung kisah Ashabul Kahfi dan jawaban terhadap dua pertanyaan lainnya. Namun surat itu juga mengandung teguran terhadap diri Rasulullah SAW yang bersedih hati atas sikap kaum Quraisy.

Teguran Allah SWT itu tertuang dalam surat Al Kahfi ayat 23-24, yang artinya:  Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut), 'Insya Allah'." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa, dan katakanlah, "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”

Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi umat Islam, bahwa meski harus percaya diri menghadapi orang yang berbeda keyakinan, tapi jangan sampai membuat lupa diri. Kekuasaan Allah SWT di balik semua keberhasilan yang kita peroleh jangan sampai membuat lupa diri, menafikan peran Allah SWT.

Terlebih dalam suatu hal yang sifatnya baru rencana, baru hendak kita lakukan. Tidak boleh yakin seratus persen bisa dilaksanakan tanpa kehendak Allah SWT. Sehingga meski sudah yakin mampu melaksanakan, tetap harus mengucapkan insya Allah.

Apalagi dalam firman Allah SWT yang lain, surat Ali Imran ayat 140 ditegaskan,  "... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) ..."

Kehebatan manusia suatu saat akan ada batasnya, tak demikian halnya dengan kekuasaan Allah SWT. Karena itu sangat mungkin terjadi, orang hebat, orang pandai, orang kuat dikalahkan orang biasa saja, karena memang atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT semata.

Selain merasa hebat, yang bisa membuat orang lupa diri adalah merasa tidak tersentuh hukum. Karena sudah melanggar hukum berkali-kali tetap bisa lepas dari jerat hukum. Situasi seperti ini dapat pula membuat orang lupa diri, menganggap hukum hanya berlaku buat orang lain, tapi tidak berlaku bagi dirinya.

Ibarat pepatah, "sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu gawal juga", tak selamanya seseorang bisa berkelit dari jerat hukum. Sudah banyak contoh terjadi, mereka yang selama ini dianggap kebal hukum, akhirnya harus duduk di kursi pesakitan.

Jadi, meski percaya diri memang perlu, agar yakin dalam melakukan suatu pekerjaan, namun bersikaplah proporsional, jangan sampai lupa diri. Demikian pula, sekali waktu, bisa saja tetap selamat meskipun melanggar hukum, tapi tak selamanya pelanggaran hukum dapat seenaknya dilakukan.

Kehidupan di dunia ini ada Yang Maha Kuasa, yang mampu mengatur segalanya. Semua bisa terjadi atas kehendak-Nya meskipun di luar prediksi kebanyakan manusia. Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.