Wacana Calon Tunggal di Pilkada Kebumen, Pemilih Milenial Pilih Golput

Partai politik  tak berdaya dan nampak terkondisikan oleh kandidat yang punya kekuatan besar dan memastikan harus jadi.
Wacana Calon Tunggal di Pilkada Kebumen, Pemilih Milenial Pilih Golput
Firosy Ayatur Rohman
INI Kebumen, Gombong - Wacana calon tunggal pada Pilkada Kebumen mendatang dinilai menjadi contoh buruk bagi kaum millineal.

Ketua Departemen Pemberdayaan Politik LSM  Bina Insani, Firosy Ayatur Rohman, mengatakan wacana ini jelas bagian dari permainan politik yang sangat tidak baik bagi bangsa. Ia menilai wacana menjadi contoh buruk bagi pandangan kaum millineal berpendidikan.

"Diskusi kecil kami dengan beberapa rekan millineal, atmosfer perpolitikan di Kebumen tidak baik dalam perkembangan demokrasi merit system," kata Firos, Minggu, 8 Maret 2020.

Menurutnya, menjelang Pilkada Kebumen, disamping aroma yang selalu ada tentang tak pentingnya kualitas dibanding isi tas hal ini menutup munculnya kandidat dari kalangan muda untuk maju dalam Pilkada.

"Apalagi dengan tercium terkondisikannya partai politik untuk mengarahkan adanya calon tunggal," ujarnya.

Ia membeberkan, wacana calon tunggal ini mengarah kepada oligarki, apapun alasannya, termasuk agar pilkada berbiaya murah. Adanya partai politik yang kurang berdaya ini nampak terkondisikan atau terintimidasi oleh kandidat yang punya kekuatan besar dan memastikan harus jadi.

"Kami dari kalangan millineal pasti akan cenderung golput bila realita perpolitikan yang mengarah pada demokrasi semu atau peseudo demokrasi," tegasnya.

Terpisah, Ketua LSM Bina Insani Dra Sri Winarti MH, menyayangkan wacana calon tunggal tersebut. Hal ini terjadi akibat kultus atau pengkondisian.

"Sungguh tragis, parpol yang sudah berjuang minta dukungan masyarakat hanya meninabobokan rakyat dengan janji yang penting sekedar kenyang. Tidak memberdayakan masyarakat untuk maju," kata dia.

"Bagaimana aspirasi rakyat agar Kebumen beranjak dari daerah miskin menjadi daerah yang maju, ini perlu diperdebatkan dalam kompetisi yang sehat dan logis," sambungnya.

Ia menambahkan, sudah saatnya masyarakat tidak hanya mencukupkan dalam demokrasi spoil system yang seakan menjadikan partai politik seperti sekedar broker suara rakyat.

"Lalu untuk apa buat partai kalau tidak untuk berjuang demi kepentingan rakyat banyak," tandasnya.(*)
Powered by Blogger.