Meminta-minta yang Bernilai Ibadah

Pengemis mengandalkan rasa iba banyak orang yang mau memberi sedekah seikhlasnya.
Meminta-minta yang Bernilai Ibadah
Kang Juki
INI Kebumen - DI SETIAP penghujung bulan Ramadhan acap kali kita melihat, mendadak banyak peminta-minta dengan berbagai gaya, terlebih di kota-kota besar.

Ada yang bergaya tradisional seperti pengemis pada umumnya, yakni mendatangi rumah-rumah, menunggu di gerbang masjid atau di perempatan jalan yang ada lampu merahnya. Ada yang tampil perlente, mendatangi orang kaya, pejabat, kantor-kantor pemerintah maupun swasta.

Pengemis mengandalkan rasa iba banyak orang yang mau memberi sedekah seikhlasnya. Sehingga diberi seribu dua ribu akan diterima. Jika sehari ada 100 orang yang memberi seribu, bukankah dalam sehari bisa dapat Rp 100 ribu?

Berbeda dengan peminta-minta yang bergaya perlente. Yang mereka minta bukan sedekah, tapi THR, ya tunjangan hari raya. Meski mereka bukan pekerjanya, ada saja alasan yang digunakan agar yang mereka datangi akhirnya mau memberi THR, entah itu pengusaha swasta atau pejabat pemerintah.

Terlebih teknologi informasi sekarang sudah berkembang pesat menghadirkan media sosial (medsos) yang bisa diakses banyak orang. Medsos juga memberi fasilitas jaringan pribadi (japri) yang memungkinkan saling terhubungnya antar pribadi. Orang bisa meminta-minta lewat medsos maupun japri.

Pada saat sekarang, ketika berbagai bentuk bantuan bertebaran, baik dari pemerintah maupun donasi masyarakat, muncul bentuk lain dari cara meminta-minta.

Ada yang sebenarnya tak memenuhi syarat penerima bantuan. Tapi tak menolak namanya masuk daftar penerima bantuan. Ada juga yang minta namanya dimasukkan daftar penerima bantuan. Dan ada lagi yang mengatasnamakan apa saja, meminta bagian kepada para penerima bantuan.

Mau bagaimanapun caranya, meminta-minta dalam ajaran Islam bukanlah tindakan terpuji. Dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang dari kalian mengikat satu ikatan kayu bakar, lalu ia memikulnya di atas punggungnya, kemudian ia jual adalah lebih baik baginya daripada harus meminta-minta kepada orang, baik orang itu memberi atau menolaknya." (HR Muslim no. 1728 dishahihkan ijmak ulama).

Dalam hadis lain yang berasal dari Qabishah bin Mukhariq Al Hilali, dikatakan bahwa dirinya pernah menanggung hutang (untuk mendamaikan dua kabilah yang saling sengketa). Lalu Qabishah datang kepada Rasulullah SAW, meminta bantuan beliau untuk membayarnya. Beliau menjawab, "Tunggulah sampai orang datang mengantarkan zakat, nanti kusuruh menyerahkannya kepadamu."

Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan sabdanya,

"Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh (tidak halal) kecuali untuk tiga golongan. (Satu) orang yang menanggung hutang (gharim, untuk mendamaikan dua orang yang saling bersengketa atau seumpamanya). Maka orang itu boleh meminta-minta, sehingga hutangnya lunas. Bila hutangnya telah lunas, maka tidak boleh lagi ia meminta-meminta. (Dua) orang yang terkena bencana, sehingga harta bendanya musnah. Orang itu boleh meminta-minta sampai dia memperoleh sumber kehidupan yang layak baginya. (Tiga) orang yang ditimpa kemiskinan, (disaksikan atau diketahui oleh tiga orang yang dipercayai bahwa dia memang miskin). Orang itu boleh meminta-minta, sampai dia memperoleh sumber penghidupan yang layak. Selain tiga golongan itu, haram baginya untuk meminta-minta, dan haram pula baginya memakan hasil meminta-minta itu." (HR Muslim no. 1730 dishahihkan ijmak ulama)

Jika meminta-minta kepada sesama manusia merupakan perbuatan yang hina, kebalikannya dengan meminta-minta kepada Allah SWT yang bernilai doa. Manusia bisa meminta-minta kepada Allah SWT melalui doa. Kapan dan di mana saja manusia bisa berdoa, meminta apa saja yang dibutuhkannya kepada Allah SWT.

Disebutkan dalam Al Quran surat Ghafir ayat 60, “Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.”

Jadi justru orang yang tidak mau meminta-minta kepada Allah SWT yang telah melakukan perbuatan hina, sehingga kelak masuk neraka dalam keadaan hina dina pula. Mereka dinilai sombong, tak mau meminta dan berdoa kepada Allah SWT. Padahal berdoa adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT.

Memanfaatkan 10 hari terakhir bulan Ramadhan, mari perbanyak doa. Apa saja keluhan kita, lebih baik disampaikan kepada Allah SWT melalui doa.

Tidak akan ada yang membocorkan curhatan kita kepada Allah SWT, sehingga apa saja yang kita minta dalam doa tak akan menurunkan gengsi kita dalam pergaulan manusia. Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.