Meyakini Hujan Sebagai Karunia Allah

Oleh: Kang Juki

Meyakini Hujan Sebagai Karunia Allah
Ilustrasi
INI Kebumen - INDONESIA sebagaimana daerah tropis lainnya, hanya memiliki dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. 

Musim hujan diperkirakan datang pada bulan Oktober sampai dengan April dan musim kemarau pada bulan Mei hingga September. Karena itu, hujan yang sering turun saat memasuki akhir bulan Oktober seperti sekarang ini, dianggap sebagai hal yang wajar. 

Meskipun demikian, sebagai umat Islam harus meyakini bahwa hujan merupakan karunia Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam surat Qaf ayat 9-11, 

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan."

Salah satu manfaat hujan, Allah SWT menumbuhkan bermacam pohon dan tanaman yang merupakan rezeki bagi manusia. Kekhawatiran akan kelaparan karena menipisnya stok bahan makanan dan mengeringnya lahan, seketika sirna dengan datangnya hujan.

Meski ada pohon dan tanaman yang mampu bertahan hidup di lahan kering, umumnya bukan penghasil makanan pokok buat manusia. Sehingga datangnya hujan juga membangkitkan semangat para petani untuk bekerja. 

Lahan pertanian mereka yang sebelumnya nampak mati dan mengering, menjadi segar dan hidup lagi  setelah diguyur air hujan. 

Bagi orang yang beriman, selain menjadi rezeki hujan juga menjadi pembelajaran dan pengingat bahwa semua tindakannya kelak harus dipertanggungjawabkan saat dibangkitkan setelah kematiannya. 

Hal itu mudah bagi Allah SWT sebagaimana tanah yang semula kering dan nampak mati menjadi subur dan hidup kembali setelah diguyur hujan. Sudah seharusnya manusia mempersiapkan diri dengan menjaga perbuatannya selama hidup di dunia ini.

Hujan juga bisa menjadi penyebab manusia terbagi dalam dua golongan, mukmin dan kafir. Dari Zaid bin Khalid Al Juhaini diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW memimpin shalat Subuh di Hudaibiyyah pada suatu malam sehabis turun hujan. Selesai shalat beliau menghadapkan wajahnya kepada orang banyak lalu bersabda,  "Tahukah kalian apa yang sudah difirmankan oleh Rabb kalian?" 

Orang-orang menjawab, "Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui."

Beliau lalu bersabda,

"Allah berfirman: 'Di pagi ini ada hamba-hamba-Ku yang menjadi mukmin kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Orang yang berkata, 'Hujan turun kepada kita karena karunia Allah dan rahmat-Nya', maka dia adalah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun yang berkata, 'Hujan turun disebabkan bintang ini dan itu', maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang'." (HR Bukhari no. 980/no. 1038 versi Fathul Baari dishahihkan ijmak ulama)

Agar termasuk golongan orang yang beriman, maka kita sambut datangnya hujan dengan keyakinan hujan merupakan karunia dan rahmat Allah SWT yang akan membawa manfaat bagi semua makhluk-Nya. 

Turunnya hujan merupakan sesuatu yang harus disyukuri. Dari Aisyah ra diriwayatkan bahwa jika Rasulullah SAW melihat hujan, maka beliau berdoa, "Allahumma shayyiba naafi'aa (Ya Allah, jadikanlah hujan ini bermanfaat)." (HR Bukhari no. 974/no. 1032 versi Fathul Baari dishahihkan ijmak ulama)

Bagaimana dengan musibah yang acapkali terjadi mengiringi datangnya hujan?  Dalam surat Qaf, sebelum menjelaskan tentang hujan, terlebih dahulu Allah SWT menjelaskan tentang bumi pada ayat 7, 

"Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata."

Syekh Imam Al-Hafiz Imaduddin Abul Fida Ismail ibnul Khatib Abu Hafs Umar ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini antara lain, 

"Agar bumi tidak berguncang mengombang-ambingkan penduduknya, karena sesungguhnya bumi itu menetap di atas aliran air yang mengelilinginya dari segala penjuru."

Gunung-gunung yang diciptakan untuk menjaga keseimbangan bumi, mungkin sekarang sudah tak kokoh lagi. Barangkali banyak yang dikeruk tanahnya, dilubangi karena ditambang dan pohonnya ditebangi, akibatnya aliran air yang mengelilingi bumi menjadi tak tertahankan lagi. Banjir mudah terjadi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia mestinya bisa menjelaskan lebih rinci. Namun perilaku merusak masih juga belum terkendali. Hujan yang mestinya membawa manfaat berubah menimbulkan musibah di beberapa daerah. 

Mudah-mudahan hal inj menyadarkan manusia untuk berubah, menghentikan tindakannya yang mengganggu keseimbangan bumi dan seisinya. Semoga.(*)

Kang Juki

Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.

Powered by Blogger.