Meneladani Nabi Muhammad SAW Sesuai Konteksnya

Oleh: Kang Juki

Meneladani Nabi Muhammad SAW Sesuai Konteksnya
Kang Juki
INI Kebumen - MUSIM perayaan maulid telah tiba, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW diekspresikan orang sesuai dengan kapasitas pribadinya. 

Ketika memahami ini, maka tidak perlu terjebak dalam polemik bid'ah tidaknya membuat perayaan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Lebih penting untuk meningkatkan kapasitas pribadi masing-masing dalam memahami dan meneladani Nabi Muhammad SAW.

Dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 21, Allah SWT menegaskan keteladanan Nabi Muhammad SAW bagi umatnya, 

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Namun dalam meneladani Nabi Muhammad SAW tentu tidak cukup hanya melihat sikap dan tindakannya, tapi juga memahami konteks peristiwanya. 

Salah satu kisah inspiratif dari Nabi Muhammad SAW adalah perlakuannya terhadap nenek buta pengemis yahudi yang selalu menghinanya. Kisah tersebut antara lain disebutkan dalam buku "Sirrah Nabawiyah" karya Abdul Hasan 'Ali al Hasani an-Nadwi.

Nenek buta itu selalu melontarkan hinaan kepada Nabi Muhammad SAW tiap kali ada orang yang mendekatinya. Dikatakannya Muhammad itu gila, pembohong dan tukang sihir, karena itu dimintanya agar orang tidak mendekati Muhammad.

Mendengar kata-kata nenek buta itu, Nabi Muhammad SAW mendekati, bukan hendak mengklarifikasi hinaan itu, tapi justru membawakannya makanan lalu menyuapi. Hal itu dilakukan terus menerus setiap hari oleh Nabi Muhammad SAW sampai beliau wafat.

Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq ra kemudian menjadi khalifah pertama penerus dakwah Nabi Muhammad SAW. Setelah mendapat pemberitahuan dari putrinya yang juga istri Nabi, Aisyah ra, Abu Bakar melanjutkan menyuapi nenek yahudi tersebut.

Namun nenek yahudi merasakan ada perbedaan dalam cara menyuapi antara Nabi Muhammad SAW dengan Abu Bakar. Akhirnya Abu Bakar pun menceritakan peristiwa yang sebenarnya. Seketika nenek yahudi terdiam, terharu dan akhirnya menganut Islam.

Kisah seperti ini, dan kisah-kisah serupa sering dijadikan bahan untuk menasehati umat Islam agar membalas hinaan dengan kelembutan. Itu merupakan salah satu bentuk ajakan dengan menggunakan rujukan yang tidak tepat. 

Jika memahami konteks peristiwanya, maka sangat dimengerti mengapa Nabi Muhammad SAW bersikap demikian. Beliau adalah penguasa dan sekaligus mengemban tugas dakwah. 

Wajar ketika ada penduduk di wilayah kekuasaannya, meski berbeda agama yang diprioritaskan terlebih dahulu adalah pemenuhan kebutuhannya, bukan perbuatannya yang menghina penguasa. 

Nenek yahudi buta itu terus menghina Nabi Muhammad SAW karena belum tahu bagaimana akhlak beliau sebagai penguasa. Terbukti setelah diberitahu Abu Bakar, nenek yahudi buta itu menyadari kesalahannya dan masuk Islam.

Sehingga jika ada umat Islam yang mengalami hinaan atau ketidakadilan, baik individu maupun kelompok, yang juga dilakukan oleh individu maupun kelompok, subyek atau pelaku yang harus ditegur terlebih dahulu. 

Jika kita malah menasehati obyeknya terlebih dahulu, sesungguhnya kita tidak sedang meneladani Nabi Muhammad SAW, setidaknya sesuai konteks peristiwa yang dijadikan rujukan.

Seringkali dalam melihat konflik sehari-hari, sikap menusia seperti naik tangga, bagian tangga yang besar diusap dan anak tangganya diinjak-injak. Yang lebih berkuasa, lebih terdidik atau lebih tua tapi bertindak semena-mena dibiarkan karena sungkan hendak menegur. 

Sementara rakyat kecil, kurang terdidik atau lebih muda, dinasehati untuk bersabar menerima perlakuan semena-mena. 

Momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW ini, mari perbaiki lagi dalam meneladani perilaku beliau. Kalau di sekitar kita ada konflik sesama muslim, tegurlah orang yang dalam posisi lebih kuat, baik karena lebih memiliki kedudukan, jumlahnya lebih banyak, lebih terdidik atau usianya lebih tua. 

Mereka yang mempunyai kelebihan seperti itu tak sepatutnya memelihara konflik. Mereka harus meneladani Nabi Muhammad SAW, dengan kelebihan posisinya bersikap dan bertindak menyantuni bukan mengedepankan harga diri untuk membenarkan tindakannya. 

Jangan malah sebaliknya sikap dan tindakan mereka dibiarkan, sementara orang yang menjadi obyek tindakan mereka justru dinasehati untuk bersabar. 

Hanya karena tak punya kedudukan, kurang terdidik, jumlahnya lebih sedikit, lebih miskin atau usianya lebih muda. Akibatnya nasehat kita bukan memperbaiki keadaan, tapi ibarat semakin menyempurnakan penderitaan mereka.

Semoga ada perubahan yang bermanfaat dari hasil kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Shallu 'ala Muhammad. Allahumma shalli alaih.(*)

Kang Juki

Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.

Powered by Blogger.