Menghindarkan Diri dari Karakter Orang Munafik

Oleh: Kang Juki

Menghindarkan Diri dari Karakter Orang Munafik
Kang Juki
INI Kebumen - ISTILAH munafik sering kita dengar sehari-hari, meski penerapannya tak selalu tepat. Dalam bahasa gaul hanya disebut muna. 

Menurut istilah lain hipokrit, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna orang yang suka berpura-pura.

Acapkali orang yang mencegah kemungkaran malah dianggap munafik. Orang membuat gerakan anti korupsi, anti politik uang, anti pornografi dan bentuk-bentuk kemungkaran lainnya, harus siap mendengarkan respon sinis orang lain. "Tidak usah munafik!"

Sebaliknya orang yang tak pernah melarang kemungkaran bahkan mungkin melakukannya tapi berpenampilan alim, malah dianggap orang jujur, terbuka dan pintar bergaul. 

Bisa bergaul dengan yang alim tapi tidak sungkan untuk akrab dengan pelaku kemungkaran. Padahal dalam Al Quran, seperti itulah salah satu contoh perilaku orang munafik.

Allah SWT dalam surat At Taubah ayat 67 berfirman, 

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh (berbuat) yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka telah melupakan Allah, maka Allah melupakan mereka (pula). Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik."

Dalam ajaran Islam, kemungkaran umumnya didefinisikan sebagai sesuatu yang dilarang syariat, terlepas dinilai merugikan orang lain atau tidak. 

Sehingga dalam konteks kemungkaran, umat Islam tak cukup dalam menolerir perbuatan orang dengan kalimat, "Yang penting tidak merugikan orang lain."

Dalam surat Ali Imran ayat 104, Allah SWT berfirman, "Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Selanjutnya sebuah hadis yang berasal dari Abu Said menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya dan apabila ia tidak mampu maka dengan lidahnya dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman." (HR Nasai no. 4922 dishahihkan Muhammad Nashiruddin Al Albani).

Jika kemungkaran semakin merajalela, bisa jadi bermula dari tiadanya orang yang berani mencegah dan menegur pelaku kemungkaran. Bisa dengan alasan sungkan, enggan ribut dan yang membahayakan bisa berdalih, "Biarkan saja, nanti akan bosan sendiri!"

Variasi perbuatan juga akan semakin beragam, yang pada akhirnya pasti akan berdampak orang lain. Orang berbuat kemungkaran pasti memiliki biaya hidup lebih tinggi dibanding orang baik-baik saja. Ketika untuk melakukan kebiasaannya terbentur biaya, bukankah pada akhirnya akan bertindak yang merugikan orang lain juga?

Karena itu, tak selamanya kita bisa mengklaim sudah mencegah kemungkaran dengan hati (doa). Harus ada keberanian mencegah kemungkaran dengan tangan atau lisan, tidak terus menerus hanya dengan hati. 

Apalagi itu alternatif yang mengindikasikan keimanan paling lemah, pastinya rawan mengalami pergeseran, entah menjadi kafir atau munafik.

Untuk menghindarkan kita terjangkiti karakter orang munafik, maka kita harus memperlihatkan sikap tak mau kompromi terhadap perbuatan mungkar. Ketika ada orang sekeliling yang berbuat mungkar, kita harus bersikap tegas, sesegera mungkin menegurnya. 

Ketidaktegasan sikap merupakan kondisi rawan. Cepat atau lambat bisa terseret mengikuti jejaknya, ikut berbuat mungkar. Jika sudah demikian, interaksi kita dengan pelaku kemungkaran memenuhi salah satu kriteria kaum munafik. 

Padahal Allah SWT menegaskan kelak orang munafik tempatnya adalah di dasar neraka. Firman-Nya, "Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (QS An Nisa: 145)

Naudzu billahi min dzalik.(*)

Penulis adalah pegiat media dan jamaah Masjid Agung Kauman Kebumen.

Powered by Blogger.