Azam Syukur: Perlu Sinkronisasi Ajaran Kerendahan Hati di Sekolah dan di Rumah

Ketidaksinkronan tersebut membuat akibatnya adalah produk gagal.

Azam Syukur: Perlu Sinkronisasi Ajaran Kerendahan Hati di Sekolah dan di Rumah
Azam Syukur menjadi narasumber pada webinar nasional Rumah Parenting Nururrohmah.
INI Kebumen KUWARASAN - Pimpinan Pondok Pesantren Al Kamal, Tambaksari, Kuwarasan, Kebumen, Dr  Azam Syukur Rahmatullah SHI MSI MA CPNLP, mengingatkan perlunya sinkronisasi pendidikan ketawadhuan (kerendahan hati) di sekolah dan di rumah.

Azam Syukur yang juga merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan praktisi parenting (keorangtuaan) menyampaikan pandangannya dalam webinar nasional "Pengasuhan Anak Berbasis Ketawadhuan", Sabtu, 20 November 2021.

Beberapa problematika kekinian tentang anak yang berani kepada orang tua dan guru, diangkat Azam Syukur dalam webinar yang diselenggarakan Rumah Parenting Nururrohmah tersebut.

"Anak memberati pekerjaan daripada orang tua, lebih sering WA pacar daripada orang tua. Anak berkata kasar dengan guru, nggembosi moto guru, nantang berkelahi dengan guru," tutur Azam Syukur memberi contoh.

Problematika tersebut dalam pandangan Azam Syukur bisa terjadi, antara lain karena tidak sinkronnya ajaran kerendahan hati di sekolah dan di rumah.

"Bagaimana tidak sinkron? Orang tua membawa anak ke sekolah untuk diajarkan ilmu moral, ilmu akhlak, dan ilmu etika, tetapi ketika sampai di rumah justru orang tua yang mentahi (mementahkan). Menghancurkan ajaran positif di sekolah, dengan tidak membentuk iklim yang positif di rumah," katanya retoris.

Azam Syukur menambahkan, tidak menutup kemungkinan pula yang terjadi sebaliknya.

"Di rumah anak diajarkan dan tradisi kuat ketawadhuan dan keramahan, tetapi justru guru di sekolah tidak meneladankan tentang keramahan," kata Azam Syukur.

Ketidaksinkronan tersebut membuat akibatnya adalah produk gagal.

"Anak-anak yang tumbuh dewasa, tapi krisis kesantunan meski jabatan high class," ujar Azam Syukur memberi perumpamaan.

Untuk mewujudkan sinkronisasi pendidikan kerendahan hati, Azam Syukur mengajak orang tua dan guru, sebagai pelaku utama pendidikan terhadap anak, harus kaya dengan ketawadhuan.

"Bagaimana akan mengajarkan ketawadhuan kepada anak-anaknya jika mereka tidak memiliki kompetensi ketawadhuan?" ujar Azam Syukur.

Ditekankan Azam Syukur bahwa ilmu ketawadhuan baru akan mampu tersampaikan dengan bijak dan bajik apabila yang menyampaikannya, adalah orang-orang yang paham betul ilmu dan perilaku ketawadhuan.

Webinar yang diikuti sekitar 300an peserta tersebut juga menampilkan narasumber dari luar daerah. Narasumber lainnya adalah  Ir Ratna Megawangi MSc Ph D, dosen Institute of Character Education, Depok, Jawa Barat, dan Pendiri Indonesia Heritage Foundation. 

Kemudian, Hj Fauziah Fauzan El Muhammady SE Akt MSi PhD, Pimpinan Perguruan Diniyah Putri, Padang Panjang, Sumatera Barat.(*)

Powered by Blogger.