MTsN 1 Kebumen Adakan Parenting, Untuk Meminimalkan Dampak Teknologi Terhadap Anak

Terkait pengasuhan anak, Yulia menyampaikan beberapa perilaku orang tua yang mestinya dihindari.

MTsN 1 Kebumen Adakan Parenting, Untuk Meminimalkan Dampak Teknologi Terhadap Anak
Psikolog RSUD Kebumen memberikan paparannya pada kegiatan parenting MTsN 1 Kebumen.
INI Kebumen KEBUMEN - Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 (MTsN 1) Kebumen menyelenggarakan kegiatan parenting (keorangtuaan) bagi wali siswa, pada Sabtu, 20 November 2021.

Kegiatan parenting MTsN 1 Kebumen diikuti oleh para wali siswa secara luring (luar jaringan, offline) dengan jumlah terbatas, perwakilan tiap kelas, dan secara daring oleh semua wali siswa yang berminat mengikutinya.

Kepala MTsN 1 Kebumen Drs Sugeng Warjoko MEd dalam sambutannya menyampaikan bahwa para orang tua mungkin galau dengan kondisi saat ini, terkait penggunaan teknologi. Namun kemajuan teknologi sesuatu yang tidak bisa dihindari.

"Entah bagaimana caranya,  harus secara bijak untuk memanfaatkan teknologi," kata Sugeng.

Sugeng selanjutnya mengajak wali siswa meminimkan dampak negatif pada anak dalam penggunaan teknologi.

Sebagai narasumber dalam kegiatan parenting adalah Yulia Tri Haryanti SPsi, Psikolog RSUD Sudirman. Dalam kesempatan tersebut Yulia mengingatkan kepada para wali siswa, adanya peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan pelecehan seksual terhadap anak, selama selama pandemi Covid-19.

Salah satu pencegahannya menurut Yulia, orang tua harus memberi fondasi yang sangat kuat untuk anak-anaknya. Orang tua juga perlu mengetahui anaknya berteman dengan siapa saja. 

"Apalagi kalau sampai diajak pergi bersama," katanya mengingatkan.

Karena umumnya beberapa kasus yang pernah diketahui Yulia, merupakan efek ketidaktahuan orang tua dengan teman-teman bergaul anaknya.

Terkait pengasuhan anak, Yulia menyampaikan beberapa perilaku orang tua yang mestinya dihindari. 

Yulia memaparkan, bahwa orang tua juga banyak mengalami luka-luka pengasuhan. Lalu tanpa sadar menularkan kepada anak-anaknya. 

"Banyak terjadi misalnya orang gagal menjadi polisi,  lalu menularkan kepada anaknya harus bisa menjadi polisi," ujar Yulia memberi contoh.

Padahal anak sebetulnya ingin menjadi dokter atau apoteker. Orang tua tetap tidak membolehkan, harus jadi polisi.

Umumnya orang tua menurut Yulia, masih merupakan generasi X yang gagap teknologi (gaptek). Untuk belajar memerlukan proses dan waktu, sehingga selalu banyak bertanya.

"Efeknya ke anak, suka membanding-bandingkan dengan orang lain, sok tahu, misalnya dengan mengatakan dulu ibu begini," ujar Yulia memberi contoh.

Perilaku orang tua yang juga perlu dihindari adalah suka teriak-teriak, suka memarahi anak di depan umum, orang tua pegang hp terus tapi anaknya tidak boleh, menyuruh anaknya belajar terus tidak boleh bermain, anaknya harus juara, nilai bagus dan sebagainya.

"Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua, kita bisa saja menjadi korban dari orang tua (dalam pengasuhan)," pesan Yulia.(*)

Powered by Blogger.