Budi Satrio: Penyandang Disabilitas di Kebumen Harus Bisa Mandiri

www.inikebumen.net KARANGANYAR - Kepala Dinas Sosial Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos PPKB) Kebumen, dr Budi Satrio, mengatakan semua orang hidup membutuhkan uang atau penghasilan, tidak terkecuali para Tuli dan Tuna wicara.  Untuk itu penyandang tuli dan wicara harus bisa mandiri mendapatkan  penghasilan.
Budi Satrio: Penyandang Disabilitas di Kebumen Harus Bisa Mandiri
Kadinsos PPKB Kebumen, dr Budi Satrio, saat menjadi narasumber pada kegiatan pejangkauan (Outreach) PSBRW Melati bagi penyandang disabilitas rungu wicara di Hotel Candisari Karanganyar
"Ada empat sumber penghasilan yang bisa didapat. Yaitu pemberian dari orang lain, menjadi pegawai, memproduksi, dan menjual (barang maupun jasa)," kata Budi Satrio, saat menjadi narasumber pada pembukaan kegiatan pejangkauan (Outreach) PSBRW Melati bagi penyandang disabilitas rungu wicara di Hotel Candisari Karanganyar.

Lebih jauh, Budi Satrio, memaparkan bahwa para tuli dan tuna wicara, harus fokus menentukan jenis usaha atau perdagangan apa yang akan dipilih. Memiliki mimpi besar menjadi kaya atau sukses adalah awal langkah dari seorang pengusaha.

"Selain mimpi, harus diikuti kerja keras, tidak boleh putus asa dan doa. Laksnakan shalat 5 waktu, malam dan shalat dhuha," tegasnya.

Dalam kesempatan berdialog antara peserta dengan Kepala Dinsos dan Kepala PSBRW Melati, ada beberapa yang memiliki ketrampilan dalam bidang tata boga. Sehingga merencanakan akan menggunakan dana bantuan untuk membeli alat membuat kue kering. Kemudian, juga ada satu orang yang memiliki ketrampilan melukis wajah, sehingga secara spontan Kadinsos pesan satu lukisan untuk hadiah Kepala PSBRW Melati.

Budi Satrio berharap, acara seperti ini dapat digelar rutin setiap tahun, jika diperlukan Kebumen siap dengan dana sharing.  "APBD Kebumen mampu melaksanakan kegiatan serupa. Penyandang tuli dan tuna rungu rawan dengan masalah ekonomi dan kesejahteraan, karena akses ke informasi belum terbuka dengan sempurna," imbuhnya.

Ia mengungkapkan, untuk menyelenggarakan acara serupa, Kebumen terkendala tenaga pelatih, terutama penterjemah. Meski sudah ada pelatihan untuk menambah tenaga penterjemah bahasa isyarat Bisindo. Tetapi ketrampilannya masih harus ditingkatkan, karena kekurangan jam terbang. Sementara pada kesempatan tersebut, PSBRW Melati membawa penterjemah yang setiap hari menjadi penterjemah berita di stasiun televisi Jakarta.(*)

BACA JUGA:
60 Penyandang Disabilitas Rungu Wicara Kebumen Diberi Ketrampilan


Powered by Blogger.