Header Ads

Mengiringi Iman dengan Amal Shaleh

Mengiringi Iman dengan Amal Shaleh
Kang Juki
www.inikebumen.net IMAM dan amal shaleh merupakan dua kata yang sering disebut dalam Al Quran, baik sendiri-sendiri maupun berurutan. Keduanya disebutkan secara berurutan antara lain dalam surat Al Ashr. Surat ini sangat dikenal sejak masa kanak-kanak karena sering diucapkan bersama untuk mengakhiri pelajaran agama di sekolah, yang artinya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Selain tidak merugi, orang yang beriman dan beramal shaleh juga mendapat predikat lain yakni khairul bariyyah (sebaik-baik makhluk), seperti disebutkan dalam surat Al Bayyinah ayat 7. Menegaskan sebutan itu, dalam surat At Tin orang yang beriman dan beramal shaleh disebut sebagai makhluk yang bisa mempertahankan statusnya sebagai makhluk terbaik. Karena banyak manusia, meski diciptakan sebagai makhluk terbaik bisa terperosok menjadi makhluk yang paling rendah.

Beramal shaleh banyak jenisnya, tak selalu berupa tindakan yang memerlukan tenaga atau biaya besar. Keihlasan dan kebesaran hati yang lebih diperlukan.

Diceritakan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Pada suatu ketika ada seorang laki-laki sedang berjalan melalui suatu jalan, lalu dia merasa sangat kehausan. Kebetulan dia menemukan sebuah sumur, maka dia turun ke sumur itu untuk minum. Setelah keluar dari sumur, dia melihat seekor anjing menjulurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan. Orang itu berkata dalam hatinya, 'Alangkah hausnya anjing itu, seperti yang baru ku alami.' Lalu dia turun kembali ke sumur, kemudian dia menciduk air dengan sepatunya, dibawanya ke atas dan diminumkannya kepada anjing itu. Maka Allah swt berterima kasih kepada orang itu (diterima-Nya amalnya) dan diampuni-Nya dosanya.' Para sahabat bertanya, 'Ya, Rasulullah saw! Dapat pahalakah kami bila menyayangi hewan-hewan ini?' Jawab beliau, 'Ya, setiap menyayangi makhluk hidup adalah berpahala," (HR Bukhori nomor 5550, ijma ulama menilainya sebagai hadits shahih).

Kisah tersebut menegaskan bahwa menolong hewan juga bisa termasuk amal shaleh yang mendapat pahala dari Allah Swt, apalagi menolong sesama manusia. Namun tentu ada kriteria pembatasnya menolong sesama bisa dikategorikan sebagai amal shaleh.

Seperti disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 2,  "Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran."

Kriteria lainnya adalah tidak menyekutukan Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam surat Al Kahfi ayat 110,  "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya."

Sehingga selama tidak untuk berbuat dosa, melakukan pelanggaran dan menyekutukan Allah Swt, menolong sesama manusia bisa dikategorikan sebagai amal shaleh.

Dalam keseharian, tak jarang kita dapati, sekadar menolong memberi informasi kepada orang lain pun seperti berat sekali. Lebih ironis bila hal itu terjadi pada instansi pelayanan publik, yang pegawainya digaji memang untuk melayani. Sampai ada yang kemudian merasa diping-pong karena hanya disuruh bertanya ke sana kemari tanpa beroleh informasi yang dibutuhkan.

Di bulan Ramadhan, saatnya kita berlatih mengubah kebiasaan, dari tidak peduli menjadi suka menolong siapa saja yang membutuhkan. Dengan demikian kita tak hanya cukup dengan beriman tapi juga menindaklanjutinya dengan beramal shaleh. Mudah-mudahan hal ini mendekatkan kita pada tercapainya tujuan ibadah puasa di bulan Ramadhan, yakni menjadi orang bertakwa. Amin.(*)

Kang Juki 
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.