Lailatul Qadar dan Keadilan Allah SWT

Lailatul Qadar dan Keadilan Allah SWT
Kang Juki
www.inikebumen.net SEPULUH hari terakhir bulan Ramadhan, akan ditandai banyak ajakan dan informasi tentang iktikaf dan lailatul qadar. Umat Islam berharap pada saat datangnya lailatul qadar, sedang melakukan ibadah malam.

Karena keistimewaan lailatul qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Firman Allah Swt dalam surat Al Qadr ayat 1-3, artinya, Sesunguhnya kami telah menurunkanya (Al-Qur’an) pada malam qadr (kemulian). Dan tahukah kamu apakah malam qadr itu? Malam qadr itu lebih baik dari seribu bulan."

Ijma' ulama memaknai maksud lebih baik dari seribu bulan, manakala kita beribadah malam pada saat lailatul qadar, lebih baik daripada ibadah malam kita selama 1.000 bulan. Sehingga seorang yang mendapatkan lailatul qadar, layaknya seorang yang bisa mencapai umur 83 tahun 4 bulan dan senantiasa beribadah malam seumur hidupnya. Subhanallah.

Padahal umat Islam jarang yang bisa mencapai usia tersebut. Rasulullah saw saja usianya hanya sampai 63 tahun. Itulah sebabnya umat Islam begitu bersemangat untuk mendapatkan lailatul qadar.

Dalam hati kecil kita mungkin ada yang bertanya, kalau sudah mendapatkan lailatul qadar apa kita tak perlu beribadah malam lagi? Bukankah sudah seperti beribadah malam terus menerus selama 83 tahun 4 bulan?

Logika matematika seseorang akan berlanjut mempertanyakan, apakah Allah swt tidak menyayangi hambanya yang rajin beribadah malam tanpa pernah mendapatkan lailatul qadar? Bukankah pahala yang didapatkannya kalah jauh dengan orang yang jarang beribadah malam, tapi berhasil mendapatkan lailatul qadar? Di mana keadilan Allah SWT?

Jika hanya menggunakan hitung-hitungan matematis, wajar pertanyaan tersebut muncul. Padahal pertanyaan sebaliknya juga bisa dibuat. Mungkinkah seorang yang tidak beribadah malam mendadak mau beribadah malam pada saat lailatul qadar? Dari mana dia tahu lailatul qadar sementara Allah swt merahasiakannya?

Dalam beberapa hadits, antara lain dari Abu Sa'id Al Khudriy ra diceritakan bahwa Rasulullah saw iktikaf di bulan Ramadhan pada sepuluh malam pertengahan bulan Ramadhan.

Kemudian ketika telah melewati malam ke dua puluh menjelang malam kedua puluh satu, beliau datang kembali ke tempat khusus iktikaf beliau. Begitu pula mereka yang sebelumnya beriktikaf bersama beliau.

Rasulullah saw kemudian bersabda,  "Aku sudah melaksanakan iktikaf pada sepuluh malam sebelumnya dari bulan ini kemudian dinampakkan kepadaku agar beriktikaf pada sepuluh hari terakhir, maka siapa yang telah beriktikaf bersamaku tetaplah pada tempatnya beriktikaf. Sungguh telah diperlihatkan kepadaku tentang malam lailatul qadar namun aku dilupakan waktunya yang pasti, maka carilah pada sepuluh malam-malam akhir dan carilah pada malam yang ganjil. Sungguh aku melihat diriku (dalam mimpi) sujud diatas air dan tanah (yang becek)."

Kemudian langit tampak mendung pada malam itu lalu turunlah hujan hingga masjid bocor mengenai posisi tempat shalat Rasulullah saw pada malam kedua puluh satu. Kemudian mataku memandang Rasulullah saw, aku melihat beliau setelah Subuh dengan wajah Beliau yang penuh dengan tanah dan air. (HR Bukhori no. 1879 dishahihkan ijma' ulama)

Peristiwa tersebut menggambarkan, bahwa mendapatkan lailatul qadar tidaklah mudah. Demikian juga mengisinya dengan beribadah yang benar-benar ikhlas hanya karena Allah swt.

Keikhlasan niat ada di hati, yang hanya Allah swt yang mengetahui. Meski berulang-ulang seseorang melafalkan niat karena Allah, tidak ada yang bisa memastikan dia benar-benar  melakukannya karena Allah.

Karena itu, tidak perlu meragukan keadilan Allah swt terkait lailatul qadar. Siapa yang berhasil mendapatkannya, tentu karena bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam beribadah selama bulan Ramadhan.

Tanpa keikhlasan, sulit orang bisa beribadah dengan sungguh-sungguh, terlebih di akhir Ramadhan menjelang lebaran, semakin banyak godaan untuk tetap beribadah malam dengan sungguh-sungguh. Wallahu a'lam.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.