Belajar dari Pengalaman Nabi Ibrahim

Di zaman sekarang, saat terjadi perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, tak jarang orang tua menggunakan legitimasi ketuaan dan pengalaman untuk membenarkan pendapatnya.
Belajar dari Pengalaman Nabi Ibrahim
Kang Juki
www.inikebumen.net BULAN HAJI haji mengingatkan kita pada Nabi Ibrahim as. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia akan mengunjungi Baitullah di Mekah, rumah ibadah yang pertama dibangun dengan salah satu tandanya adalah makam Nabi Ibrahim as (QS Ali Imran ayat 96-97).

Bagi yang tahun ini tidak menunaikan ibadah haji, mari kita "menziarahi" Nabi Ibrahim as melalui berbagai kisahnya untuk menjadi pelajaran dalam menempuh kehidupan ini. Salah satunya adalah saat menentang kebiasaan bapaknya dan kaumnya menyembah berhala.

Dikisahkan dalam Al Quran surat Al Anbiya ayat 51 s.d 73, kehidupan Nabi Ibrahim as yang dilahirkan di tengah kaum penyembah berhala. Bahkan Azar, ayah Ibrahim, juga pembuat berhala untuk sesembahan kaumnya.

Ketika Ibrahim mempertanyakan kebiasaan tersebut, jawaban kaumnya karena bapak-bapak mereka sebelumnya juga melakukannya. Tak jauh beda di lingkungan masyarakat kita, bila diajak meninggalkan suatu kebiasaan, seperti muwur dalam setiap pemilihan, mereka juga berdalih dari dulu sudah menjadi tradisi.

Nabi Ibrahim as kemudian menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya, kecuali berhala terbesar sengaja dibiarkannya. Hal ini semula diharapkan memperkuat argumentasi pendapatnya tentang kesalahan kaumnya.

Mereka bertanya, "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?"

Ibrahim menjawab, "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara."

Kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara."

Ibrahim berkata, "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu. Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?"

Argumentasi logis tak membuat kaumnya bisa menerima pendapat Nabi Ibrahim as, meninggalkan kebiasaan menyembah berhala. Walaupun mereka sendiri tahu, berhala tak bisa berbuat apa-apa. Upaya Ibrahim as mencerahkan pikiran dan mengubah perilaku kaumnya justru berbalas hukuman dibakar oleh kaumnya. Kekuasaan Allah Swt melindungi dan menyelamatkan Nabi Ibrahim as dari pembakaran itu.

Di zaman sekarang, saat terjadi perbedaan pendapat antara orang tua dan anak, tak jarang orang tua menggunakan legitimasi ketuaan dan pengalaman untuk membenarkan pendapatnya. "Orang tua itu pernah muda, sementara orang muda belum pernah tua."

Padahal realitanya orang yang lebih berpengalaman, dalam arti sudah hidup lebih lama, belum tentu bisa memetik pelajaran dan mengambil kesimpulan yang benar terhadap apa yang dialaminya.

Mudah-mudahan kita bisa menjadi orang yang bisa menerima kebenaran, meski disampaikan anak kecil, atau siapa saja yang sebelumnya tidak pernah kita perhitungkan lebih tahu dari kita. Karena kebenaran mestinya seperti barang berharga milik kita yang hilang, siapa saja yang menemukannya akan kita terima dengan gembira. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen
Powered by Blogger.