Tsunami, Kata yang (harus) Mulai Kita Akrabi di Kebumen

Bencana tsunami Jawa 2006 meninggalkan kesan yang cukup mendalam di Kabupaten Kebumen. Selain korban jiwa, tsunami juga meninggalkan sejumlah kerusakan di Pantai Petanahan, Suwuk, Pasir, Pedalen dan Logending.
Tsunami, Kata yang (harus) Mulai Kita Akrabi di Kebumen
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Ketua BNPB Letjen Doni Monardo menanam tanaman mangrove di Pantai Laguna Mirit.
www.inikebumen.net SELAMA 34 hari dalam kurun waktu 12 Juli hingga 17 Agustus 2019 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Ekspedisi Desa Tangguh Bencana Tsunami 2019 untuk regional Jawa. Sebanyak 24 kabupaten/kota yang terletak di pesisir selatan pulau Jawa bakal dilintasi ekspedisi ini. Termasuk Kabupaten Kebumen, yang dilintasi pada 30 dan 31 Juli 2019 ini.

Untuk apa sih ekspedisi semacam ini digelar?
Sebelum tahun 2006, kata tsunami boleh disebut asing bagi kita warga Kebumen. Mulai akhir tahun 2004 kita memang mulai akrab dengan kata ini, namun mengacu pada kejadian bencana alam di ujung utara pulau Sumatra. Menyandang nama formal Gempa Sumatra–Andaman 26 Desember 2004 (magnitudo 9,3), gempa akbar itu membangkitkan tsunami raksasa yang menjalar ke segenap penjuru dan menerjang pesisir Samudera Indonesia di 19 negara.

Sebagai negara terdekat dengan sumber gempa, Indonesia mengalami dampak terparah. Kota–kota di Provinsi Aceh, termasuk ibukota Banda Aceh, terendam genangan tsunami hingga berbelas meter dan menciptakan kehancuran berskala luas tak terperi. Total korban jiwa yang jatuh di Indonesia mencapai 167.500 orang yang mencakup 55 % dari seluruh korban jiwa dalam tsunami Sumatra–Andaman 2004.

Sebagai peristiwa yang akhirnya menyandang status bencana nasional, peristiwa tsunami Sumatra–Andaman 2004 diberitakan sangat massif sehingga mau tak mau menyedot perhatian orang dimana–mana, termasuk warga Kebumen. Namun saat itu pun kita masih gamang, belum tahu harus berbuat apa dan bagaimana cara memitigasinya manakala bencana serupa benar–benar melanda pesisir Kebumen tercinta.

Pembelajaran tsunami hanya disinggung sekilas di bangku lembaga pendidikan menengah. Itupun contoh yang kerap disajikan adalah tsunami Selat Sunda 1883, tsunami raksasa yang dibangkitkan letusan katastrofik Gunung Krakatau 26–28 Agustus 1883. Seakan menyajikan kesan hanya wilayah itulah rawan tsunami.

Pada tahun 2006 tanpa disangka bencana tsunami dalam skala lebih kecil dan mengambil bentuk sedikit berbeda dibanding tsunami Sumatra–Andaman 2004 terjadi di pesisir selatan Pulau Jawa. Dipicu Gempa Jawa 17 Juli 2006 (magnitudo 7,7) sebuah tsunami unik dibangkitkan dan berderap membanjiri pesisir selatan pulau Jawa mulai dari Kabupaten Garut di sisi barat hingga Kabupaten Bantul di sisi timur.

Tsunami ini unik, karena dibangkitkan gempa bumi tsunamigenik (penyebab tsunami) yang sumbernya hanya melibatkan sisi atas kerak bumi yang menjadi sumber gempa. Bukan seluruh bagian kerak bumi seperti umum dijumpai pada gempa bumi ‘normal’.

Dikenal sebagai gempa–lambat atau gempa–ayun (tsunami earthquake), gempa ini tidak menyajikan getaran yang mudah dirasakan di daratan pulau Jawa. Demikianlah yang dialami penduduk Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap, sebagai dua wilayah administratif terdekat ke sumber gempa. Akan tetapi proses pembangkitan tsunaminya lebih intensif sehingga pesisir Garut hingga Bantul diterjang gelora setinggi 5 hingga 8 meter.

Tsunami tertinggi tercatat di menggempur pesisir selatan pulau Nusakambangan yang mencapai 21 meter! Kota Cilacap lolos dari kehancuran massif pada saat itu berkat pagar alamiah pulau Nusakambangan. Begitupun peristiwa tsunami Jawa 2006 merenggut 664 korban jiwa dengan 14 jiwa diantaranya merupakan warga Kebumen.

Bencana tsunami Jawa 2006 meninggalkan kesan yang cukup mendalam di Kabupaten Kebumen. Selain korban jiwa, tsunami juga meninggalkan sejumlah kerusakan di Pantai Petanahan, Suwuk, Pasir, Pedalen dan Logending. Selain merusak bangunan di pinggir pantai mulai dari warung, toilet hingga bangunan tempat pelelangan ikan, tsunami juga merusak kapal–kapal nelayan yang sedang bersandar di pantai.

Kerugian bertambah seiring merebaknya rasa takut di sebagian warga Kebumen untuk berwisata ke pantai dengan alasan khawatir akan terjadi tsunami susulan. Meski dalam ranah kebencanaan, apa yang disebut sebagai peristiwa tsunami susulan nyaris tak pernah terjadi.

Tsunami Jawa 2006 cukup mengejutkan warga Kebumen, mengingat sepanjang sejarah kabupaten ini belum pernah ada kejadian bencana sejenis di masa silam, baik berdasarkan tutur kata para sesepuh maupun catatan tertulis. Maka kata tsunami pun terasa asing dan kita tak punya padanannya dalam Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Berbeda dengan saudara–saudara kita di Pulau Simeulue (Provinsi Aceh) yang mengenalinya sebagai smong. Namun dalam lingkup lebih luas, kisah tsunami masa silam sejatinya terpatri kuat dalam kultur Jawa dan dikenali oleh hampir semua orang. Yakni dalam legenda Nyi Roro Kidul. Babad Tanah Jawi bertutur betapa pemunculan Nyi Roro Kidul diiringi bergolaknya samudera yang mengandung ciri–ciri khas penjalaran tsunami menjelang tiba di garis pantai.

Mulai dari gambaran air laut yang berkecipak–cipak menggelombang bukan kepalang hingga gelombang setinggi gunung yang membuat pepohonan bertumbangan dan mencipta bencana bagi makhluk lautan. Cukup mengesankan penelitian sistematis Puslitbang Geoteknologi LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang digawangi Dr Eko Yulianto dkk di sejumlah bagian pesisir selatan pulau Jawa berhasil mengungkap adanya sedimen tsunami purba yang diendapkan dari peristiwa tsunami raksasa dari masa sekitar empat abad silam.

Periode waktu yang bersamaan dengan munculnya legenda Nyi Roro Kidul. Cukup mengesankan pula bahwa cerita rakyat yang mirip ternyata dijumpai pula di sepanjang pesisir Samudera Indonesia mulai dari pulau Nias di barat hingga Pulau Rote di timur. Semuanya menghadap ke sumber gempa bumi tsunamigenik potensial yang sangat panjang, yakni zona subduksi (megathrust) Sunda.

250 km di sebelah selatan pesisir Kebumen membujurlah palung Jawa, jurang laut yang sempit namun sangat panjang. Disinilah lempeng samudera Australia yang bergerak secepat 77 mm/tahun ke utara mulai melekuk dan menyelusup (bersubduksi) di bawah lempeng benua Eurasia yang stabil dan menjadi alas pulau Jawa.

Proses tersebut telah berlangsung sejak sedikitnya 117 juta tahun silam dan masih akan berlanjut hingga ratusan juta tahun ke depan mengikuti siklus alamiahnya. Sejarak 200 km di sebelah utara jalur palung laut ini terdapat garis khayali yang panjang dan kedudukannya paralel terhadap palung Jawa. Kawasan di antara palung laut dan garis khayali tersebut merupakan zona megathrust, sumber bagi gempa bumi tsunamigenik potensial.

Rangkuman penelitian yang dipublikasikan Pusat Studi Gempabumi Nasional (PusGen) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat pada tahun 2017 silam menunjukkan zona megathrust Sunda sebelah selatan pulau Jawa terbagi–bagi ke dalam tiga segmen. Yakni segmen Selat Sunda (panjang 280 km) yang membentang mulai dari lepas pantai Selat Sunda hingga lepas pantai Garut.

Yang kedua segmen Jawa Barat (panjang 320 km), membentang dari lepas pantai Garut hingga lepas pantai Kebumen. Dan yang terakhir adalah segmen Jawa Tengah Timur (panjang 440 km), membentang dari lepas pantai Kebumen hingga lepas pantai Banyuwangi.

Manakala dimensi (panjang dan lebar) segmen sumber gempa potensial telah diketahui, maka seberapa besar magnitudo maksimum dari gempa bumi yang bisa dibangkitkan darinya dapat dihitung dengan aritmatika sederhana.

Dari perhitungan itulah diperoleh angka yang ramai diperbincangkan beberapa hari lalu, yakni 8,8. Angka tersebut adalah magnitudo maksimum gempa bumi potensial yang bisa dibangkitkan oleh masing–masing segmen. (Bersambung)

Muh Ma’rufin Sudibyo
Penulis adalah Juru Bicara Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen, Tim Ahli di Komunitas Siaga Bencana Cilacap

Powered by Blogger.