KBPII Memaknai Kemerdekaan dengan Kedaulatan Pangan

Dipandu Kang Juki, diskusi mengangkat tema "Memaknai Kemerdekaan pada Kedaulatan Pangan Daerah".
KBPII Memaknai Kemerdekaan dengan Kedaulatan Pangan
Suasana dikusi di Padepokan KBPII Pejagoan, Minggu siang, 25 Agustus 2019
www.inikebumen.net PEJAGOAN - Forum diskusi bulanan Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) di Padepokan KBPII Pejagoan, Minggu siang, 25 Agustus 2019 mencoba memaknai kemerdekaan dari sisi lain.

Dipandu Kang Juki, diskusi mengangkat tema "Memaknai Kemerdekaan pada Kedaulatan Pangan Daerah".

Diskusi menampilkan Agus Khanif, KBPII (alumni PII) yang juga aktif di Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kebumen bersama Ketua Asosiasi Petani dan Peternak Kebumen (APPIK)Arif Yuswandono.

Agus Khanif menyoroti persoalan pangan yang seringkali hanya dijadikan bahan kampanye, namun kurang diimplementasikan dalam kebijakan di tengah masyarakat.

"Seolah-olah petani hanya menjadi tumbal pembangunan bangsa," ungkapnya.

Dalam pandangan Agus, program ketahanan pangan juga belum menjadi kebijakan yang berpihak kepada petani.

"Ketahanan pangan tidak identik dengan kedaulatan pangan, karena diatasi dengan impor," kata Agus.

Namun Arif Yuswandono melihat dari sisi yang berbeda.

"Sekarang ini tidak ada negara yang benar-benar berdaulat. Perdagangan internasional bukan lagi karena pertimbangan supply-demand, melainkan karena kesepakatan politik," tandas Arif.

Ditambahkan Arif, kalau Indonesia tidak mau mengimpor, negara lain juga tidak akan mau menerima produk Indonesia. "Dalam hubungan antar negara sekarang ini ada  millitary domination dan trade domination," ungkap Arif.

Suatu negara yang memiliki kekuatan militer, menurut Arif bisa menekan negara lain untuk membeli produknya. Sebaliknya negara yang memiliki kekuatan dagang juga bisa menekan negara lain dengan produknya.

"HP Siemens produk Jerman, Ericsson produk Swedia dan Nokia produk Finlandia sudah merasakan dahsyatnya  trade domination. Mereka tersungkur oleh membanjirnya hp produk Tiongkok dan Korea," jelas Arif.

Sehingga menurut Arif, dalam kaitan kedaulatan pangan, yang terpenting adalah seberapa banyak yang dimakan merupakan hasil tanaman sendiri.

"Itulah perlunya gerakan tanam. Ayo kita memulai gerakan tanam, untuk memulai habit dan mengubah  mindset," ajaknya.

Ajakan Arif, direspon mantan anggota DPRD Kebumen dari PDIP, Heru Budiyanto.

"Saya sepakat dengan gerakan ayo tanam seperti sudah dilakukan di tingkat SD. Hanya, ada yang menanamnya bunga-bungaan, mestinya diprioritaskan menanam tanaman pangan, sayuran atau buah."

Kritik Heru dibenarkan peserta diskusi, yang selain berasal dari KBPII juga dari KAHMI, Kostajasa dan AMAK.(*)
Powered by Blogger.