pendaftaran mahasiswa baru UPB

Saatnya Para Haji Bermuhasabah

Oleh: Kang Juki

Saatnya Para Haji Bermuhasabah
Ilustrasi
INI Kebumen - IDUL Adha kali ini, untuk kedua kalinya tidak diikuti persiapan menyambut kepulangan jamaah haji. Karena sudah dua tahun Indonesia tak mengirim calon jamaah haji (calhaj) akibat pandemi Covid-19. 

Akibatnya daftar tunggu calhaj Indonesia, tak terkecuali di Kebumen, menjadi semakin panjang. Tahun 2020 lalu, 1.228 calhaj asal Kebumen batal berangkat. Jika diasumsikan kuota tahun ini sama, berarti ada 2.456 calhaj yang tertunda keberangkatannya. 

Masih belum bisa diprediksi, bagaimana gambaran musim haji tahun 2022. Melihat perkembangan pandemi sampai saat ini, kalaupun tahun depan Indonesia bisa memberangkatkan calhaj, kuotanya mungkin akan berkurang. 

Otomatis kuota calhaj Kebumen yang bisa berangkat juga akan berkurang. Antrian daftar tunggu calhaj untuk berangkat bertambah panjang lagi.

Situasi ini semestinya menjadi sarana bagi para haji untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri. Apakah ibadah haji yang sudah dilakukannya merupakan haji yang mabrur? Yakni ibadah haji yang dijalankannya diterima Allah SWT, sehingga kelak di akhirat dijamin masuk surga?

Dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Umrah demi umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga"_ (HR Bukhari no. 1650  dishahihkan ijmak ulama, juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2403, Tirmidzi no. 855, Nasa'i no. 2582, Ibnu Majah no. 2879, Ahmad no. 6832 dan 15146, serta Malik no. 675). 

Mengapa momentum sekarang menjadi penting bagi para haji untuk bermuhasabah? Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih, bisa jadi bukan musibah semata sebagaimana awalnya, tapi bisa jadi merupakan azab Allah SWT, sehingga tak kunjung berakhir.

Memang, peristiwa buruk yang dialami seseorang, suatu kelompok, suatu bangsa bahkan hampir seluruh umat manusia, bisa dinilai sebagai musibah atau azab, tergantung perspektif pemahaman terhadap peristiwanya. 

Dengan memperhatikan berbagai peristiwa yang telah dan sedang terjadi, dengan merujuk Al Quran dan hadis, tidak berlebihan menilai pandemi Covid-19 sebagai azab bagi umat manusia di seluruh dunia, dengan kadar berbeda di masing-masing wilayah.

Allah SWT memberi contoh bagaimana manusia bisa mendapat azab. Dalam surat An-Nahl ayat 94, disebutkan, "Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan kaki(mu) tergelincir setelah tegaknya (kukuh), dan kamu akan merasakan keburukan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan kamu akan mendapat azab yang besar." 

Sementara dalam sebuah hadis yang berasal dari Ubaidillah bin Jarir ra, Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah suatu kaum yang memberlakukan kemaksiatan di antara mereka -padahal ia berkuasa dan berwenang dari kaum itu- melainkan Allah akan meratakan azab terhadap mereka semua." (HR Ahmad no. 3999 hadis hasan menurut Muhammad Nashiruddin Al-Albani).

Sumpah menjadi alat menipu dan merajalelanya kemaksiatan sudah banyak terjadi. Para koruptor bisa dikategorikan menjadikan sumpahnya sebagai alat untuk menipu. Kalau bekerja sesuai dengan isi sumpahnya, tentunya mereka tidak akan korupsi. Dengan kondisi demikian bukankah suatu hal yang wajar, azab Allah SWT akan menimpa?

Apa kaitannya dengan para haji? Haji yang mabrur, semestinya manfaatnya tidak hanya pada saat melaksanakan haji, tapi juga seumur hidup. Karena kewajiban haji hanya sekali seumur hidup. 

Seorang yang mabrur ibadah hajinya mestinya akan disiplin untuk melaksanakan perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, dan mengajak lingkungan sekitarnya melakukan hal yang sama.

Seorang yang sudah beribadah haji, sudah mendisiplinkan diri terkait perintah dan larangan tersebut. Ibadah haji diawali dengan ihram, yang secara harfiah berarti mengikat atau menahan diri dari larangan-larangan yang sebelumnya dibolehkan. 

Diakhiri dengan tahallul, berasal dari kata _halla_ yang artinya halal. Tahallul dalam ibadah haji (dan umroh) bermakna keluar dari keadaan ihram dengan berakhirnya larangan-larangan yang terkait saat berihram. 

Jika selama beribadah haji tidak disiplin, akan membatalkan ibadah hajinya. Kalau benar-benar disiplin dalam menjalankan ibadah haji, maka mabrur tidaknya ibadah haji bisa diindikasikan dari perilakunya sepulang beribadah haji, semakin taat, tidak ada perubahan atau malah memburuk.

Dengan jamaah haji tiap tahunnya mencapai 1.000 orang lebih, maka semestinya sudah banyak haji di Kebumen. Baik yang aktif dalam wadah Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kebumen maupun yang tidak, mestinya mereka harus bisa menjadi pioner dakwah di sektor yang ditekuninya. 

Yang menjadi birokrat, mestinya bisa menjadi figur panutan dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih. Yang menjadi pedagang, bisa menjadi teladan pedagang yang jujur. 

Yang menjadi pendidik, mampu mengarahkan, membimbing dan memberi contoh yang baik kepada para anak didiknya. 

Ketika umumnya ibadah haji mereka mabrur, harapan itu merupakan hal yang wajar. Jika yang terjadi di luar harapan, maka para haji perlu bermuhasabah, mengoreksi diri. Agar ibadah haji yang sudah dilakukan benar-benar mabrur, mesti memperbaiki diri.

Demikian juga dengan para calhaj yang tertunda keberangkatannya. Fenomena pandemi Covid-19 ini bisa menjadi pengingat, jika itu merupakan azab, harus sudah mulai menguatkan tekad, untuk terus menerus menegakkan amar makruf nahi mungkar. 

Sehingga saat kesempatan untuk berangkat tiba, sudah semakin terbiasa untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Ikhtiar itu barangkali bisa memberi kontribusi agar azab segera berakhir, musibah bisa berlalu. Semoga.(*)

Penulis adalah pegiat media dan jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.

Powered by Blogger.