Mengenal Kapri Supriyanto, Pelukis Kaca Asal Kebumen yang Karyanya Selalu Dibuat dengan Cara Terbalik

Mengenal Kapri Supriyanto, Pelukis Kaca Asal Kebumen yang Karyanya Selalu Dibuat dengan Cara Terbalik
Kapri Supriyanto
INI KEBUMEN - Tak banyak perupa yang mengkhususkan diri melukis tokoh-tokoh wayang. Lebih sedikit lagi yang menggoreskan kuasnya pada lembaran kaca bening. 

Salah satunya adalah ‘Kapri’ Supriyanto, seorang pelukis kaca yang tinggal di Jambewangen, Prembun, Kebumen, Jawa Tengah. 

Dari tangan pria kelahiran 1959 ini telah lahir puluhan karya lukis kaca yang mayoritas bertema adegan wayang. 

Rumahnya yang mungil menjadi galeri karya, mulai dari dinding teras, ruang tamu, dapur bahkan hingga dinding kamar mandi.

Sekalipun secara tampak mata lukisan kaca hampir sama dengan lukisan di atas kertas atau kanvas, ternyata proses pembuatannya jauh lebih rumit. 

Hal ini karena proses melukisnya dilakukan ‘dari belakang’ sehingga pelukis harus mampu membayangkan akan seperti apa tampilan lukisannya setelah jadi.

"Kesulitan terbesar dari lukis kaca karena kita mesti membalik cara pandang saat melukis," tutur pensiunan guru sekolah dasar ini, Selasa, 23 Agustus 2022.

Ia menuturkan sisi kiri dan kanan yang dilukis akan berbalik ketika lukisan sudah jadi dan dipandang dari depan. 

Demikian juga dengan tumpukan warna harus dilakukan dengan urutan terbalik dibanding melukis di atas kanvas.

Untuk mempermudah pengerjaannya, Kapri selalu membuat sketsa dan pola di atas kertas sebelum kemudian dipindahkan ke permukaan kaca. 
Karena jenis permukaan kaca yang licin, cat yang bisa dipakai adalah cat minyak.

Bahwa sebagian besar lukisan Kapri banyak bertema wayang tampaknya tak dapat dilepas dari masa kecilnya. 

Sejak kecil Kapri sudah akrab dengan wayang kulit. Ayahnya, Widiyarso adalah seorang kepala sekolah sekaligus seorang dalang yang juga memiliki kegemaran menggambar.

“Dari kecil saya sudah hafal tokoh wayang juga akrab dengan bentuk serta motif wayang," kata Kapri. 

Kemampuan ini kemudian diasah lagi ketika Kapri dikirim mengikuti pelatihan sungging wayang di Wonogiri. 

Sepulang dari mengikuti pelatihan Kapri memutuskan menekuni lukis kaca. Alasannya karena relatif prosesnya lebih bersih dan rapi daripada menyungging wayang.

“Biasanya satu karya saya selesaikan dalam waktu tiga hari tergantung dari ukuran dan kerumitannya," ujarnya. 

Melukis wayang perlu memperhatian ‘pakem’ terkait anatomi tubuh, motif dan pewarnaan. Selain itu juga mesti memiliki pengetahuan lakon pewayangan agar tidak salah menggambarkan adegan.

Kapri intens menekuni lukis kaca sejak tahun 1995. Dalam kurun waktu itu telah puluhan karya yang dihasilkan dan berpindah tangan. 
Sekalipun masih sebatas teman dan kenalan, beberapa karyanya telah diboyong kolektor keluar Kebumen.

Lukis kaca relatif rumit dan membutuhkan ketekunan tinggi. Meski demikian ternyata harga lukisan Kapri sangat terjangkau. 

Untuk lukisan kecil dibandrol Rp300 ribu. Sementara lukisan ukuran 60 kali 80 cm yang melukiskan adegan wayang dipatok harga Rp1 juta.

Selain lukisan wayang, Kapri ternyata juga melukis di media lain. Bahkan dinding ruang tamunya pun dipenuhi karya mural yang menggambarkan tokoh Bima. 

Sementara di salah satu almari terpajang beberapa wayang golek menak hasil karyanya. 

“Tapi karya utama saya tetap lukis kaca. Sampai sekarang memang promosi karya hanya sebatas dari teman ke teman," katanya. 

"Saya belum tertarik mengadakan pameran karena saya tidak suka pamer,” tutup Kapri sambil terkekeh.(*)
Powered by Blogger.